360 DAYS

360 DAYS
melihat dia



Terimakasih untuk dukungan para pembaca sekalian.🥲🤧


.


.


Lanjut yaaa..😘


.


.


Perawat mengoleskan gel ke permukaan perut Irene, Kemudian dokter spesialis kandungan menggerak- gerakkan alat yang entah namanya apa, diatas perut irene.


Aku memperhatikan dengan seksama, terutama saat dokter itu menjelaskan perihal calon buah hati kami.


"Terlihat ya Pak.. Sudah lebih besar dari biji kacang..". Jelas sang dokter. Aku mengusap sudut mataku yang basah.


Aku semakin menggenggam jemari Irene, Isteriku itu tersenyum penuh arti padaku.


"Jangan lupa vitamin sama penambah darahnya ya Bu.. Satu lagi, jangan terlalu banyak pikiran..". Nasehat sang dokter.


"Baik Bu.. Terimakasih banyak".


Setelah berkonsultasi tentang banyak hal, Aku dan Irene segera keluar dari ruangan dokter. Kami berjalan bergandengan tangan, menuju tempat parkir.


"Terimakasih ya yang.. sudah menjaga calon anak kita dengan baik sampai sejauh ini". Aku mengelus perut Irene sekilas sebelum memasangkan helm ke Irene.


"Mas juga sudah menjagaku selama ini, terimakasih". Aku tersenyum, dan mengelus pipinya dengan lembut.


Aku berjanji akan menjaga mereka berdua dengan baik. Dan mematahkan ucapan Ibu waktu itu.


Aku segera melajukan motor meninggalkan area parkir rumah sakit. Aku mengendarai motor dengan santai, karena ada nyawa lain yang masih rapuh, yang harus ku jaga. calon anak kami. calon penerus kami.


Aku ingat saat di dalam ruang pemeriksaan, Irene begitu berbinar saat menatap layar yang memperlihatkan bayi kami. Dia juga begitu antusias dengan nasehat Dokter tentang masa kehamilan di usia kandungan yang masih muda.


"Kamu ingin anak kita cowo atau cewe, Yang?". Tanyaku. Aku mengelus jemari tangan kirinya, dia seperti biasa, melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"Kalo Aku cowo atau cewe tidak masalah Mas.. Yang penting sehat dan selamat kan?". Aku mengangguk dan sangat setuju dengan Irene.


"Kalo Mas ingin yang cowo, biar bisa melindungi adik- adiknya, dan melindungi kamu..". Ucapku. Aku memang setuju dengan kalimat Irene, tetapi jujur Anak laki- laki adalah harapanku.


"Memangnya Mas mau kemana? Pake acara melindungi Aku..". Ujar Irene.


"Semakin tahun, Mas semakin tua, Yang.. Nggak selamanya bisa melindungi Kamu dan anak- anak kan?".


"Hmmmm". Irene tak membalas lagi. Aku hanya mengulas senyum, dan kembali mengelus tangannya yang masih melingkar di pinggang.


***


"Biar Mas aja yang angkat jemuran...". Aku segera menyusul Irene yang begitu turun dari motor langsung menuju tempat penjemuran baju yang berada di samping rumah. Langit mulai mendung sejak di tengah perjalanan pulang dari Rumah Sakit.


"Irene bisa Mas.." Selalu saja ngeyel.


Aku mengambil baju yang bergelantung dengan cepat. Sehingga membuat Irene berhenti mengambil baju. Dia mendengus tapi kemudian tertawa kecil.


"Baju sudah kering kan nggak berat Maas Mas.. Aku bisa kok".


"Sudah nggak usah bawel, sini mas yang bawa..". Aku meraih beberapa helai baju yang berhasil Irene ambil tadi.


Kami segera memasuki rumah, karena titik hujan sudah mulai turun.


Baju kering memang ringan dibawa, tapi Aku mengingat ucapan dokter kandungan tadi, bahwa Irene tidak boleh kelelahan, kecuali nanti sudah memasuki bulan ke 5 dan seterusnya, harus banyak bergerak, asalkan masih aman. Aku yang beberapa kali mengangkat jemuran masuk ke rumah, bisa merasakan bahwa kegiatan itu butuh tenaga yang lumayan.


"Dilihatin terus Mas hasil usg nya..". Irene duduk di sampingku, setelah meletakkan segelas teh hangat di meja depanku.


"Mas takjub lihat ini.. Lama kita nunggu, Akhirnya Tuhan kasih kita kesempatan ya Yang..". Ujarku. Irene mengangguk, Dia meraih foto usg yang ada di tanganku, kemudian memandanginya juga.


Aku menempel mendekati Irene, merangkulnya, kemudian memandangi bersama foto usg calon buah hati kami.


Bunyi ponsel Irene menjeda kegiatan kami memandangi foto Usg.


Ibu rupanya yang menelpon.


"Assalamu'alaikum Bu.." Sapa Irene begitu tombol hijau telah digeser.


"...." Suara Ibu tidak terdengar jelas olehku. Irene sengaja tidak meloud speaker handphone nya. Aku mendengus, dan dibalas juluran lidah oleh Isteriku itu.


"Alhamdulillah Bu.. Sehat semua, tadi Irene juga dikasih vitamin...". Irene melirikku,


"....."


"Iya Bu.. tadi juga ikut ndengerin nasehat dari dokter kok.. Iya.. iya Bu..".


Dapat ku tebak pasti Ibu tengah membicarakanku. Irene melirik lagi, kali ini dia menutup mulutnya, dan pipi nya memerah.


"Iya Buuu....".


Aku penasaran dan mendekatkan telingaku ke hape Irene. Tetapi Isteri hamilku itu dengan sigap memindahkan handpone nya ke telinga yang satunya.


"Iya Bu.. Terimakasih ya, Irene pasti akan melakukan saran Ibu".


Irene menutup telpon, kemudian meletakkan benda itu di meja, bersebelahan dengan segelas teh milikku.


"Pasti ngomongin Mas ya?" Tanyaku, penasaran.


"Nggak juga sii.. Ibu bilang supaya Aku jangan terlalu capek.. Daann....". Irene menjeda kalimatnya, kemudian menatapku dengan malu- malu.


"Dan?". Buru ku, tak sabar.


"Kamu harus pelan pelan.. ". Aku melihat pipi Isteriku merona merah. Dan Aku baru tersadar setelahnya. Aku paham maksud kalimat itu. Aku tertawa dan tidak menyangka Ibuku memikirkan jauh hingga hal- hal privat seperti itu.


"Mas akan melakukannya dengan pelan dan lembut...". Aku menempeli Irene lagi, dan menciumi pipinya.


***


POV Author:


Jam 4 pagi, Pasangan suami isteri Rama Irene sudah memulai aktifitas. Setelah sholat malam, Irene memulai kegiatan memasaknya. Dimulai dari menanak nasi, menyiapkan bahan- bahan sayuran sembari menunggu adzan subuh berkumandang. Sedangkan suaminya menemani di meja makan. Suaminya itu sedang membaca al-Qur'an.


"Kenapa nggak baca di Kamar aja Mas?" Tanya si isteri.


"Biar dedek denger suara Ayahnya, nggak papa di sini". Rama sudah mengembalikan al-Qur'an itu begitu selesai membaca.


"Dedek sudah denger lah Mas.. Tiap hari diajak ngobrol kan?". Rama mengangguk,


"Iya, biar Dedek semakin inget suara Ayahnya.. Hehe".


Setiap malam, calon ayah itu selalu menempelkan telinganya di atas permukaan perut sang Isteri, kemudian mulai mengajak ngobrol. Atau jika telah selesai menjalankan Ibadah, Dia selalu mendoakan sang bayi, dan meniup perut sang Isteri. Berharap anaknya kelak menjadi generasi yang sholih, dan berguna bagi nusa bangsa dan agama.


Adzan subuh telah berkumandang, pasangan itu segera menunaikan kewajibannya.


Selesai itu, Irene kembali ke dapur melanjutkan kegiatan memasak. Sedangkan Rama mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Menyiapkan bahan ajar, atau memastikan bahwa tugas murid- muridnya telah selesai dia koreksi semua.


"Sudah selesai Mas ngoreksi tugas murid mu?". Irene datang dari dapur, menengok kegiatan sang suami.


"Sudah yang, Semalem mas selesaikan sekalian".


Irene mendekati lemari dan mengambil seragam sang suami yang sudah dia setrika. Kemudian meletakkan di atas ranjang, agar suaminya bisa memakainya begitu telah menyelesaikan sarapan.


"Makasih Yang...". Rama mendekati Isterinya dan mencium keningnya dengan mesra. Irene hanya mengangguk dan tersenyum. Bagi wanita itu menyiapkan kebutuhan suaminya adalah tugas rutinnya.


.


.


Bersambung❤