360 DAYS

360 DAYS
time flies



Terimakasih yang sudah mendukung karya ini🥰🙏


.


.


Lanjut yaa..😘


.


.


“Jadi sudah bertemu dengan Laila kan?”.


Ibu meletakkan kopi di meja. Aku menghembuskan nafas berat, kemudian menatap Ibu. Ibu duduk di samping ayah, sambil memangku nampan yang tadi digunakan untuk membawa kopi.


“Iya bu, Kemarin sudah bertemu..”.


Aku menjawab dengan lesu. Bagaimana tidak, Ibu memintaku untuk berkenalan dengan seorang wanita, yang dia katakan sebagai anak teman pengajiannya. Di umurku yang baru 27 tahun, Ibu lebih getol memintaku dekat dengan wanita, dan mempunyai calon isteri. Hhh.. Aku bahkan belum berpikir ke arah itu.


“Bagaimana menurutmu tentang Laila?”. Ibu bertanya lagi, Aku lihat raut wajahnya penuh rasa ingin tahu.


“Ya begitu lah, Bu.. Laila sopan, dan... baik”. Aku meringis. Bagaimana ya Aku harus mendeskripsikan Laila pada Ibu. Dia memang sopan, kesan yang Aku dapatkan pertama kali. Jika Ibu berharap Aku menginginkan Laila sebagai calon istri, menurutku harapan Ibu terlalu tinggi.


“Maksud Ibu, kamu cocok tidak sama diaa..”.


Ibu mendengus, tidak puas dengan jawabanku.


“Kalo anak kita cocok pasti kita akan dibawa ke rumahnya Bu..”.


Ayah meraih pundak Ibu, sepertinya Ayah mengerti ke tidak nyamananku.


“Kamu mau yang seperti apa?.. Jangan bilang yang seperti Irene....”.


Aku memutar kepalaku, menatap Ibu lagi. Aku tidak menyangka Ibu akan mengatakan hal itu. Aku tidak menjawab pertanyaan Ibu.


“Dia adik yang harus kamu jaga, Nak.. Bukan perempuan yang bisa dijadikan Istri..”.


Ibu berkata mengingatkanku, kemudian bangkit dan berlalu dari teras. Aku merasa seperti telah di pukul menggunakan palu. Diingatkan kembali tentang adanya seorang adik di keluarga ini.


“Kamu menginginkan Anak itu?” Ayah menepuk pundakku. Aku menatap Ayah. Aku paham siapa yang dimaksud oleh Ayah. Bagaimana Aku harus mengatakannya?.


Beberapa waktu ini, Aku dan Irene dekat bukan karena ada paksaan dari Ibu, Beberapa kali memang Ibu yang memaksa, namun selebihnya Aku yang menginginkannya. Kami dekat dengan sendirinya. Dia yang setiap saat dekat, bagaimana Aku bisa jauh? Hhh😌


“Rama tidak tahu, Yah..”. Akhirnya Aku menjawab pertanyaan Ayah. Dengan ragu.


***


Aku memasuki kamar, membaringkan tubuhku di kasur. Aku mengingat kembali pertemuanku dan Irene beberapa hari yang lalu.


Irene sudah menyelesaikan Ujian Nasional, Aku mengajaknya jalan ke taman kota. Aku bermaksud menghibur dia, setelah 3 hari menegangkan yang baru saja dia lewati. Dia sangat senang sekali, dia bercerita banyak hal padaku. Walaupun masih terlihat malu- malu, Tetapi dia sepertinya tidak berniat menghentikan celotehannya.


“Jadi kamu pilih kuliah di Sem@rang?”.


“Iya begitu lah kak..”


“Selesaikan pendidikanmu di sana dengan baik, Saya akan menjadi orang pertama yang datang di saat kelulusanmu”. Aku berkata menyemangatinya.


“Iya, Pak”. Irene menjawab dengan sungguh- sungguh. Hisshh..Aku mendengus mendengar panggilannya padaku. Perasaan tadi sudah memanggil KAK, eh dipanggil PAK lagi. Hhh,


"hmm kebiasaan manggilnya PAK loh kamu itu”. Aku memprotes. Aku melihat beberapa pasangan melewati kami, dan mendengar Irene tadi memanggilku PAK.


“Irene masih kagok (canggung), Kak.. Hehee”.


Aku tersenyum mengingat pertemuan itu. Hal sederhana yang bisa Aku lakukan sejauh ini. Aku tidak mengerti perasaanku ke dia itu apa, dulu Aku memang tidak ingin ada perasaan lain selain guru dan murid, namun kenyataannya, waktu sepertinya mengubah segalanya, dan tunas yang ku kira hanya dimiliki Irene, ternyata Aku juga memilikinya. Dan sudah tumbuh tanpa bisa Aku kendalikan.


***


Aku sedang melihat acara yang tengah berlangsung di Aula sekolah bersama beberapa Rekan Guru, begitu melihat ku, Murid yang tengah menjadi MC memanggilku untuk menaiki panggung, kemudian disusul semua murid menyoraki ku untuk maju ke panggung. Aku yang tidak mengetahui apa- apa pun maju ke panggung, Aku bisa memberikan beberapa wejangan untuk mereka, terutama tentang kelanjutan pendidikan mereka ke jenjang lebih tinggi bukan?.


"..Bapak sangat bahagia bisa mengantarkan kalian sampai lulus, dan Besar harapan Bapak kalian bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan meraih kesuksesan.. Doa Bapak selalu menyertai Kalian semua..".


Mataku berkaca- kaca memandangi semua muridku. Dan pandangan mata ini jatuh ke salah satu muridku, bolehkah Aku bilang bahwa she is my special student?🥲


Tapi tunggu dulu.. Mengapa dia menatapku seperti itu? Dia menangis?? Aku mengalihkan pandanganku, agar Aku tidak serta merta menuruni panggung. Sedetik kemudian Aku melihat dia berlari meninggalkan Acara yang masih berlangsung.


Ada apa dengan anak itu?


MC acara mendekatiku saat Aku selesai memberikan pidato singkat, ucapan selanjutnya yang dia katakan membuatku terkejut.


"Selamat ya Pak Rama.. Semoga acara pernikahan Bapak berjalan dengan lancar.. dan semoga selalu dilimpahi kebahagiaan, Doa kami semua untuk Bapak..". Mc itu berkata dengan tulus, namun Aku masih terpaku dengan ucapan itu, dan menghubungkan dengan sikap Irene yang aneh meninggalkan acara.


"Ah iya terimakasih semuanya". Aku mencoba tersenyum pada semuanya. Aku menuruni panggung, dan keluar dari Aula.


"Wah Pak.. Saya baru dengar ini, sampean mau nikah kapan?". Pak Hendri berjalan menyejajariku, Dia tadi ikut menilik acara kelas 12 di aula. Ku kira tadi dia masih mau di sana.


"Saya juga malah baru tahu pak, kalo saya mau menikah hehee". Aku menjawab. Lucu saja, dari mana muridku tahu Aku akan menikah, sedangkan Aku belum memikirkan hal itu. Aku jadi bertanya- tanya, apa salah satu muridku memergokiku sedang menemui Laila waktu itu ya? hmmm..


"Berarti hanya kabar burung ya Pak?". Aku mengangkat kedua bahuku.


"Ya begitu lah Pak..".


Aku pamit pada Pak Hendri untuk menuju parkiran, karena akan menelpon Irene, semoga anak itu masih berada di lingkungan sekolah. Atau Aku bisa menyusul dia jika dia sudah pergi.


Nada tersambung ku dengar di HP, namun Irene tak kunjung menjawab. Aku mencoba sekali lagi dan sama, dia tidak mengangkat telpon dariku.


Baiklah Aku bisa menunggu di Rumahnya saja.


Aku kembali ke kantor untuk mengambil tas kerjaku, setelah ini Aku bisa langsung pulang ke rumah. Aku berpamitan untuk pulang lebih awal.


Aku melajukan motorku, di jalan tidak ada Irene, baiklah tidak apa, Aku tunggu saja di rumah kakek neneknya. 45 menit kemudian Aku sudah sampai di rumah Irene. Suasana sepi.


Aku mengetuk pintu, dan mengucapkan salam. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Kali ini Kakek Irene yang membuka pintu.


"Oh Pak Guru ya.. mari masuk Pak..".


Aku masuk dan duduk di sofa. Kakek Irene masuk ke dalam, dan sepertinya menyuruh Isterinya untuk membuat air minum.


"Maaf Pak.. Apa mau mencari cucu saya?". Kakek bertanya, begitu masuk kembali ke ruang tamu.


"Iya Pak.."


"Ah Dia belum pulang Pak.. tadi pagi pamit ada acara di sekolah.. Tidak bertemu di sekolah pak?". Kakek bertanya lagi.


"Iya tadi bertemu Pak, Hanya saja dia pergi dari acara, Saya kira pulang". Aku tersenyum, entah mengapa Aku merasa canggung pada Kakek Irene. Beliau juga menatapku dengan pandangan yang berbeda.


.


.


hh apa yang Kakek Irene pikirkan tentang Aku yaa?


.


.


Bersambung😘