
Terima kasih yang sudah berkenan membaca dan memberikan dukungan untuk karya ini🥰🙏 Jangan lupa untuk selalu like dan tinggalkan jejak komentarnya😘
.
.
Lanjut🙃
.
.
Pov Rama:
"Kak?!!". Irene meraih tanganku. Aku menengok ke arahnya. Aku kesal dengan tamu yang datang ke rumah Irene. Lelaki ituu... hishhh..
"Kenapa pergi?". Irene bertanya. Aku melihat tangannya masih menempel di lenganku.
"Cemburu?". Irene tersenyum. Aku berdecak. Iya Aku cemburu.
"Masuk dulu ke dalam, biar semuanya tahu..". Irene membujukku. Baiklah. Aku segera turun dari motorku. Kemudian Aku menepikan motorku agar tidak berada di muka gerbang.
Kami berdua memasuki teras, Irene mengucapkan salam. Aku bisa melihat ada Kakek dan Nenek Irene, serta 2 orang lain. Lelaki itu dan seorang gadis seumuran Irene. Aku seperti pernah melihat gadis itu di salah satu unggahan foto Irene.
"Ayo kak, masukk..". Irene meraih tanganku. Aku kaget dengan apa yang dilakukan Irene. Dia memang agresif, namun Aku tidak menyangka dia melalukan di hadapan orang- orang ini. Tetapi Aku sangat senang dengan apa yang Irene lakukan.
"Jojoo.. kenapa nggak bilang mau ke sini??". Irene menghampiri Temannya yang ternyata bernama Jojo.
Aku terpaksa duduk di sofa yang sama dengan Lelaki itu. Aku menyapa ramah Kakek dan Nenek Irene dan berkata kami bertemu di jalan, dan Aku mengantarnya.
"Aku wa kamu tau nggaak.. Tapi nggak dibaca- baca. hishh...". Aku melihat gadis bernama Jojo itu merengut. Aku melirik sekilas ke Lelaki di sebelahku. Dia diam sejak tadi. hhh..
"Hehe, Iya Aku nggak pegang hape".
Nenek Irene sudah kembali dari dapur, membawa segelas Teh untukku. Ah Aku jadi merasa tidak enak, padahal Aku hanya sebentar saja.
"Jadi merepotkan, Nek.. Rama hanya sebentar saja..".
"Tidak Repot, Nak.. Silahkan di minum yaa.. Nenek hanya ada Teh..".
Kakek Irene mengajak mengobrol Aku dan Lelaki itu. Aku jadi tahu kalau Lelaki ini seorang pengusaha. Usia nya bahkan lebih muda dariku, namun dia sudah memiliki beberapa usaha. Aku akui dia cukup hebat. Jika saja Dia bukan sainganku, Aku akan secara jelas memujinya.
Adzan asar telah berkumandang, Aku akhirnya memutuskan pulang. Aku ada jadwal Les.
"Hati- hati di jalan ya Kak.. Nanti wa Irene kalau sudah sampai..". Irene mengantarku hingga ke teras. Dia berkata cukup keras, Aku yakin penghuni ruang tamu mendengarnya. Aku tersenyum dengan tingkah Irene. Aku belum seberani Irene.
"Iya..".
Aku segera meninggalkan teras Irene dan menuju motorku yang berada di luar pagar. Aku segera melajukan motor dengan kecepatan sedang.
***
Aku sudah selesai membersihkan diri. Rasanya benar- benar segar sekali. Tadi setelah sampai di rumah, Aku segera mengirimi Irene pesan di whats@pp nya. Tadi saat mengantarkanku sampai ke Teras dia memberikan nomornya. Aku memberi nama "my queen" untuk kontak Irene. Sungguh kekanakan sekali Aku ini. Hehe..
Aku sudah menyelesaikan sholat asar, saat Ibu mengetuk pintu kamarku, mengatakan bahwa murid les ku sudah datang.
Aku mengambil bahan mengajar, kali ini les untuk kelas 12. Aku segera menemui mereka, yang berjumlah 5 orang. 3 siswa 2 siswi. Aku memulai pembelajaran, sebelumnya Aku bertanya kegiatan mereka hari ini. Aku mengajar dengan tenang, tidak seperti beberapa hari sebelumnya Aku mengajar dengan gelisah.
Aku sudah menyelesaikan Les menjelang petang, seperti biasanya.
"Hati- hati di jalan ya..". Aku menasehati 5 muridku.
"Iya Pak..". Mereka menjawab kompak.
Aku masuk ke dalam rumah begitu mereka sudah meninggalkan gerbang rumahku.
"Bu..". Aku memanggil Ibu yang berada di kamarnya. Ibu membuka pintu kamar.
"Irene besok akan ke rumah..". Aku berkata, Ibu tampak kaget dengan perkataanku.
"Baiklah.. Ibu tunggu..". Setelah meresponku, Ibu kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Akupun kembali ke kamarku. Aku merasa Ibu sedang banyak pikiran beberapa hari ini. Beliau tidak mengatakan apapun padaku. Ayah juga begitu, tidak mengatakan apapun.
Aku meraih hapeku, Aku ingat tadi bertanya pada Irene tentang tamunya apakah sudah pulang atau masih betah di tempat.
My Queen:
Jojo menginap, Kak.. Kalo Kak Taqy menginap di rumah Jojo..
Aku hanya membaca dan tidak berniat membalas pesan Irene. Tetapi kemudian Aku mengetik sesuatu,
Aku:
Nanti malam saya telpon😶
My Queen:
Aku tertawa senang membaca balasan dari Irene. Aku harus belajar agresif seperti dia. Tapi nanti kalau jadi aneh gimana? Aku bertanya pada diri sendiri.
Aku membuka galeri ponselku. Aku melihat lagi foto Irene saat tadi sedang makan. Foto Irene yang sedang menutup mulutnya dengan lengan, ku jadikan sebagai wallpaper di hape dan whatsappku. Selesai melakukannya, Aku segera mengecas hapeku, persiapan untuk telponan dengan Irene. Membayangkan apa yang nanti akan Aku lakukan, Aku sangat senang sekali.😁
Adzan magrib sudah berkumandang, Aku segera bersiap menuju masjid dekat rumah untuk sholat berjamaah.
Aku berpapasan dengan Ayah di depan pintu. Kamipun berangkat bersama.
"Yah.. Kalau Rama menikahi Murid sendiri, apa tidak apa- apa ya?". Aku memberanikan diriku bertanya pada Ayah. Ayah menatapku, beliau tersenyum.
"Memangnya jika dengan orang lain Kamu mau?".
Skak!! Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ya, Aku bahkan memutuskan hubungan dengan Laila. Wanita itu sudah 3 Tahun mendekatiku, nyatanya Aku tidak bisa memiliki perasaan apapun padanya.
"Ibumu bilang Irene akan ke rumah, benarkah?". Ayah bertanya.
"Iya yah, besok siang selepas mengajar, Rama akan menjemputnya".
"Jangan mengecewakan Ibumu..". Aku berhenti berjalan. Aku tidak mengerti apa maksud Ayah.
"Maksud Ayah?". Ayah menghentikan langkahnya. Beliau menatapku.
"Ibumu sangat ingin melihatmu menikah..". Ayah menjelaskan ketidak mengertianku. Aku mendekati Ayah.
"Rama sedang mengusahakannya, Yah.. Doakan agar semuanya dimudahkan".
"Doa Ayah dan Ibu selalu menyertai kalian semua, anak- anak kami...". Ayah menyentuh pundakku, dan menepuk pelan. Beliau kembali berjalan.
***
Seperti perkataanku petang tadi pada Irene, Aku menelpon gadis itu tepat di jam 07.30.
"Iya, Kak..". Suara Irene di seberang sana tampak merdu.
"Saya tadi sudah bilang ke Ibu, kalau kamu akan datang ke rumah..". Aku memulai obrolan.
"Benarkah?.. Ibu bilang apa?".
"Ibu menunggu di Rumah..".
"Ren?"
"Ya kak? ada apa?". Irene bertanya ingin tahu. Aku memikirkan kalimat yang tepat untung mengatakan hal penting ini.
"Kalau kita menikah dalam waktu dekat, Bagaimana?". Aku menghembusan nafas lega begitu kalimat itu telah kukatakan dengan sempurna.
"Eh?!". Irene tak segera menjawab pertanyaanku. Aku jadi harap- harap cemas. Bagaimana jika dia belum siap untuk melangkah lebih jauh? Dia baru saja akan wisuda, bagaimana jika dia ingin berkarir dahulu? Aku menyugar rambutku. Tidak siap dengan penolakan dari Irene.
"Kok diam, Ren?". Aku memutus keheningan yang terjadi.
"Ah iya Kak.. Itu.. Irene akan menanyakan ke Kakek dulu...". Yaa.. Kakek dan Nenek adalah orang tua baginya saat ini, semua keputusan Irene harus mempertimbangkan persetujuan Mereka.
"Saya akan mengatakannya pada Kakek dan Nenek.. Biar nanti kita meminta restu bersama.. Bagaimana?".
"Iya bisa Kak...".
Aku mendengar suara berbisik di sana. Ah iya Aku ingat, teman Irene katanya kan sedang menginap. Temannya itu pasti mendengarkan apa yang barusan ku katakan. Syukurlah, Aku harap nanti berita ini sampai ke Lelaki itu. Taqy.. Ya.. si Taqy itu..
"Kamu sudah makan?". Aku bertanya lagi, setelah hening beberapa saat.
"Belum Kak.. Hehe.. Masih kenyang"
"Ya ampun, Makan dulu sana.. Tadi pas di saung itu terakhir?"
"He em.."
Aku berdecak. Bagaimana bisa masih kenyang? Aku saja selepas dari rumah Irene, langsung makan. Hehe..
"Makan dulu, Yang"
.
.
"Eh?!!" Irene tampak kaget dengan kalimatku barusan. Hehee, Aku sedang belajar agresif seperti dia😁🙃
.
.
Bersambung😘