
Terima kasih yang sudah berkenan membaca dan memberi dukungan untuk karya ini. Selalu tinggalkan jejak yaah setelah berkunjung🥰🙏
.
.
Lanjut😘
.
.
"Ibu sedang membuat kue?". Aku mencium bau kue kering dari arah dapur.
"Iya, Nak". Ibu menjawab singkat. Aku tersenyum. Ibu membuat kue karena irene akan datang kemari nanti siang. Dulu, Ibu sering menitipkan kue juga untuk gadis itu, selang seling dengan menu makan siang. Aku berharap Ibu tidak meminta hal yang aneh pada Irene.
Setelah menyelesaikan sarapan, Aku segera pamit dan berangkat kerja. 30 menit kemudian Aku sudah menghentikan motorku di parkiran sekolah. Jadwal hari ini lumayan sibuk. Ada mengajar, pemantapan untuk Ujian Nasional, dan membimbing murid yang akan lomba, belum lagi jika ada perintah dadakan dari Kepala Sekolah.
Aku:
Nanti Saya kabarin kalo mau jemput ya..
My Queen:
Iya Kak😘
Aku meletakkan Hapeku di meja, Aku tengah mempersiapkan bahan untuk mengajar. Beberapa detik hapeku bergetar lagi.
My Queen:
Jojo ngajak Aku jalan2 Ka..
Aku melirik sekilas hape dan kulihat pesan Irene di bilah notifikasi.
'Sama si Taqy?.. Hishh pasti sama dia'.
Aku segera meraih hape dan mengetikkan pesan.
Aku:
Sama siapa saja?
My Queen:
Jojo sama Fifi aja kak.. cenglu hehehe🤭🤭
(FYI: Cenglu itu singkatan dari mbonceng telu, alias boncengan bertiga, biasanya anak- anak sekolahan yang sering kayak gitu)
Aku:
Bener?
My Queen:
Iya laah Yang.. dikira sama siapa si?😔
Aku:
Iya udah hati2.
Aku menghembuskan nafas kesal. Semoga memang benar mereka hanya bertiga. Tanpa laki- laki itu. Bukannya Irene bilang Lelaki itu di Rumah Jojo?
"Ehm Pagi Pak Rama..". Pak Hendri menyenggol lenganku. Dia sedang menyalami beberapa rekan guru. Aku kaget.
"Pagi Pak..". Aku berusaha tersenyum, tersadar dari pikiranku tentang Irene. Pak Hendri menatapku dengan senyuman yang aneh.
'Ada apa dengan dia?'. Aku geleng kepala.
"Baru sehari foto di wa sudah ganti aja pak.. Hehe, biasanya tumpukan buku.. sekarang.....". Katanya mengambang.
"Iya ini Pak Rama.. Kapan kami dapat undangan.. Hehe".
Semua Rekan Guru mendesakku. Pasti mereka sudah melihat Aku yang mengganti Foto Profil wa. hhh... Aku jadi salah tingkah.
"Ehmm.. InsyaAlloh sebentar lagi Pak, Bu.. Doakan prosesnya lancar.."
"Aamiiiiiin". Semua Rekanku kompak mengaminkan. Aku tersenyum bahagia.
Aku mengambil bahan ajar yang tadi sudah ku siapkan. Segera saja Aku meluncur ke kelas 10C untuk mengajar.
***
Pov Author:
Tiga gadis menaiki motor skuter sambil tertawa- tawa. Ini bukan pengalaman pertama mereka boncengan bertiga. Jojo yang tingkahnya mendekati tomboy, bertindak sebagai pengemudi, Irene di tengah, dan si pemilik motor di belakang, berpegangan erat ke Irene.
"Sumpah Jo.. Aku masih takut loh boncengan kayak gini..". Fifi yang tadi sempat tertawa, kini diam ketakutan karena Jojo menambah kecepatan. Fifi mengeratkan pegangannya pada Irene.
"Hehehe.. Fifi kebagian dikit bok%ng nya hahahaa". Irene tertawa mengejek Fifi.
"Hish kami tuuu !!!". Fifi menabok pundak Irene keras- keras.
"Auuhh sakit Fiii". Irene meringis, kekuatan Fifi kalo lagi kesal benar- benar super. Semakin bertambah besar, dia bertambah kuat. Begitu kira- kira pikiran Irene.
Setelah perjalanan 15 menit, Akhirnya ketiga gadis itu sampai di saung kedungjati. Fifi turun dari motor dengan cepat, dia benar- benar takut tadi.
"Ntar pulangnya Aku di tengah ya, Ren.. Sumpah si Jojo bawa motor nggak kira- kira.. huhh".
"Hahahaa". Jojo tertawa mendengar penuturan Fifi.
"Iya ntar kamu di tengah beb.. tenang.. tenang..". Irene meraih pundak sahabatnya itu, dan menepuk- nepuk pelan.
Ketiga gadis itu segera mencari tempat ternyaman untuk ghibah. Mereka memilih tempat yang kemarin di duduki Fifi saat menunggu Irene dan Guru Matematikanya. Meja nomor 35.
"Mbakk.. Kami mau pesen..". Jojo berkata dengan volume keras. Beberapa orang yang sedang di saung melirik ke arah Jojo sekilas. Gadis itu hanya nyengir tanpa dosa. Dua temannya hanya geleng kepala.
Seorang pelayan menghampiri meja nomor 35, membawa catatan menu. Jojo melihat buku menu dan memilih makanan yang sesuai seleranya.
".... sama ini ya mba... Kalian berdua mau sama an?". Jojo bertanya pada dua temannya.
"Iyah Okee". Pelayan itu mengangguk dan membaca ulang pesanan, kemudian segera menuju dapur untuk memberikan nota pesanan kepada koki.
"Eh Ren.. Itu mbak pelayan yang kemaren kan ya?". Fifi mencolek Irene yang sedang berkirim pesan dengan seseorang.
"yang mana?". Irene mendongak dan mengikuti arah yang ditunjuk Fifi.
"Ohh.. iya. kenapa emang?". Irene menatap sahabatnya.
"Kayak merhatiin kita dari tadi...".
" Ya nggak lah, Fiii....".
Irene kembali mengetik di Hapenya. Fifi dan Jojo yang penasaran mengintip apa isi pesan Irene. Kedua gadis itu mengangguk- angguk begitu tahu isi pesan dan kepada siapa pesan itu di kirim. Fifi menaruh telunjuknya di depan bibir, memberi kode ke Jojo agar tidak tertawa.
"Eh Jo.. Kamu nggak ngirim pesan ke cowo mu.. Siapa tahu dia marah kita jalan bertiga..". Fifi berbicara dengan Jojo, namun matanya melirik ke arah Irene. Irene yang tidak sadar sedang di sindir, hanya diam saja.
"Nggak lah Fi... Cowoku humble.. nggak cemburuan.. beda sama yang ntuuuuu...".
Fifi dan Jojo akhirnya tertawa. Irene mendongak karena mendengar temannya yang tertawa. Dia bingung.
"Ada apa si ketawa gitu? ada yang lucu???".
"Nggak papa. dah lanjutin chat nya.. hehe". Kata Jojo sambil melirik hape Irene. Dia menahan tawa.
"Kalian ngintip yaaaa???? Hissshhhhh...". Irene mencubit dua lengan temannya itu. Gemas.
"Ya ampun Ren.. pacarmu lucu cemburuan banget yaa...". Sindir Jojo.
"Siapa yang pacaran, Aku nggak pacaran Joooo...". Elak Irene. Kemarin Pak Rama tidak memintanya menjadi pacar saat bertemu di Saung.
"Ah iya bukan pacar.. Eh tau nggak Fi.. semalem Rama telpon ke Irene.. coba tebak doi bilang apa????". Fifi yang tidak tahu perihal Irene yang telponan dengan Rama, menampakkan ekspresi kepo.
"Ngajakin Irene nikah.. Ya ampun Fiii... Aku pengeeennn...". Jojo mengekspresikan dengan lebay. Irene hanya mendengus mendengar perkataan Jojo.
"Seriuss?? Jantan banget sih Guru Matematika kita ya Ren..". Fifi menyangga wajahnya dengan dua tangan. Membayangkan adegan saat Pak Rama meminta Irene menikah.
Irene tersenyum, Jujur semalam dia sendiri tidak menyangka jika Pak Rama akan bertanya tentang menikah secepat itu.
"Kamu jawab apa semalem, Ren?". Fifi bertanya kepo, setelah selesai membayangkan adegan romantis Rama Irene.
"Aku jawab, nanti Aku tanya ke Kakek sama Nenek dulu.. Masa iya Aku jawab Iya mauuuu.. Kan malu Fi..". Irene tersenyum malu- malu.
"Hadeehh.. Harus nya gercep ya nggak Fi.. Semalem Aku kode biar dia jawab Iya, eh malah ngomong sama Kakek Nenek dulu". Jojo yang semalam turut mendengarkan, tampak gemas.
"Betul tuh Jo.. Sayang bangett...". Fifi menggelengkan kepalanya.
Ketiga gadis itu tidak berhenti ghibah soal Pak Rama. Saat sudah menghadap makananpun masih sempat mereka berghibah. Jojo sebenarnya ingin Irene dengan Kak Taqy, hanya saja, melihat hubungan Irene dan Lekaki yang mengisi relung Irene selangkah lebih maju, Jojo hanya bisa mendukung. Soal Taqy, Dia semalam sudah memberitahu agar Seniornya itu sebaiknya mundur saja.
"Persiapanmu buat ketemu sama Ibu gimana, Ren?". Tanya Fifi.
.
.
"Eh itu...". Irene terdiam,
.
.
Bersambung😘