360 DAYS

360 DAYS
Taqy



Terimakasih untuk yang membaca dan selalu mendukung karya ini. Jangan lupa like dan tinggalkan komentarnya yah🙃


.


.


Lanjut😘


.


.


"Iya Yah.. Nanti Rama persiapkan sebelum dia berangkat ke Semarang lagi..". Rama menjawab pertanyaan Ayahnya. Rama, Ibu, dan Ayah sedang sarapan, di sela makan, sang Ayah menanyakan persiapan untuk melamar Irene. Setelah kedatangan Irene kemarin lusa, bahasan mengenai lamaran menjadi topik hangat di meja makan.


"Lebih cepat lebih baik". Ibu ikut berbicara. Dia sudah benar- benar mengikhlaskan keputusan putra bungsunya untuk menikah dengan pilihan hatinya. Rama tersenyum menanggapi ucapan sang Ibu.


Sewaktu bertemu dengan Irene di saung waktu itu, Rama berniat akan mengajak Irene jalan- jalan sebelum gadis itu kembali ke Semarang. Mungkin hari ini waktu yang tepat, sekalian membeli cincin yang pas untuk lamaran.


"Assalamu'alaikum Kak.." Suara dari seberang.


"Waalaikumsalam, baru Saya mau nelpon hehee" Rama tertawa kecil.


"Kenapa?". Tanya Rama,


"Jojo sama Fifi lagi nggak bisa main..", Rama mendengar suara sedih calon isterinya. ah calon isteriiii🥲


"Iya teruss?".


"Katanya mau diajak jalan- jalan sebelum Irene ke Semarang. Dari kemaren udah Aku tunggu loh Kak...". Irene mulai merajuk.


"Hmm....". Rama bertingkah seolah sedang berpikir, padahal sebenarnya dia sudah berencana untuk mengajak Irene memilih cincin.


"Ya sudah kamu siap- siap saja nanti sorean ya.."


"Kok sore kak?". Irene protes.


"Selesai ngajar siang, pulang dulu ke rumah kan? siap- siap baru bisa jemput kamu..". Jelas Rama panjang lebar. Masa iya dirinya akan mengajak jalan dalam keadaan memakai seragam guru? tidak lucu kan?😖. Batin Rama.


"Hehe.. Iya.. Ya sudah Irene tunggu ya Kak.."


"Iya.."


"Semangat ngajarnya, sayang Heheheee". Irene langsung menutup sambungan telponnya.


Hishh.. Rama baru saja membuka mulutnya untuk membalas, malah sudah dimatikan. Lelaki 31 tahun itupun memasukkan hapenya ke dalam saku dan segera kembali ke ruangan guru. Dia tadi menerima panggilan telpon dari Irene di tempat parkir.


***


Irene tengah duduk santai di ruang tamu bersama Nenek dan Kakeknya. Mereka sedang mengobrol banyak hal, terutama soal wisuda Irene tanggal 23 besok. Irene meminta Kakek dan Neneknya untuk hadir menyaksikan prosesi wisuda di dalam gedung serbaguna.


"Iya Nak.. Nanti Kakek dan Nenek yang akan datang.. Biar nanti pamanmu carter mobil, untuk pergi bersama ke Semarang". Kakek berkata.


"Iya Kek.. Nanti ke sana tanggal 21 ya kek.. Biar nginep 2 malem.. Kalo berangkat tanggal 22 takutnya nanti kakek Nenek kecapean di Jalan..". Saran Irene.


"Kamu jadi berangkat tanggal 19? Kenapa tidak bareng sekalian?". Tanya sang Nenek.


"Irene gladi bersih pas tanggal 20 Nek.. Latihan di wisuda..". Ujar gadis itu. Kakek Neneknya mengangguk paham.


Drtt.. Drttt... Irene melirik ponselnya yang bergetar.


"Irene jawab telpon dulu ya Kek Nek..". Irene segera memasuki kamarnya, kemudian dia menggeser ikon gagang telpon warna hijau.


"Iya halo.... Waalaikumsalam...".


***


Pov Taqy:


Aku kembali membaca pesan yang di kirim sepupuku. Barangkali Aku salah membaca huruf.


Irene akan dilamar orang, sebaiknya mundur saja.. Si@l !! tulisannya memang begitu.


Gadis itu akan dilamar oleh siapa? Apa Lelaki yang sudah menyakitinya itu yang melamar?


Aku berbicara dengan diriku sendiri.


Aku mengenalnya pertama kali saat menjadi narasumber di seminar yang diadakan Fakultas Hukum, almamaterku. Saat itu dia bertugas sebagai MC bersama sepupuku.


Saat itu sebelum Aku menaiki panggung, Aku berdiri sebentar di samping meja MC untuk membetulkan kancing lengan bajuku. Irene yang saat itu berada persis di sampingku, mengingatkan tentang dasiku yang tidak lurus.


"Dasinya juga Kak".


Gadis itu menunjuk ke arah leherku. Aku tersenyum dan mengangguk, sangat berterima kasih dengan perhatiannya.


Saat Aku sudah menaiki panggung dan mulai memaparkan materi seminar, Aku ingat, mata beningnya beberapa kali menatapku, jangan lupakan senyum manisnya juga.


Hal kecil itu begitu membekas di hatiku. Dan beruntungnya Aku, ternyata sepupuku sekelas dengan dengan gadis tersebut. Aku bisa mendapatkan nomor hapenya berkat sepupuku.


Aku mendengar cerita dari sepupuku juga, tentang kisah sedih Irene. Aku ingin mengobati lukanya, dengan memberikan dia cinta yang Aku miliki. Aku mulai mendekati dia, rutin mengirimi pesan, dan mengajaknya jalan. Bukan Jalan berdua, Namun ditemani oleh sepupuku. Ah iya.. Aku tidak pernah memberitahunya Jika Teman yang selalu di sampingnya adalah sepupuku. Jojo, dia adalah sepupuku dari jalur Ibu.


"Apa lelaki itu yang akan melamarnya?". Aku langsung bertanya begitu Jojo mengangkat telpon dariku.


"Ish.. bisa salam dulu nggak?". Jojo memang lebih muda dariku, namun kebiasaanya jika sedang mengobrol denganku, selalu saja seperti orang yang lebih tua.


"Cowokmu?". Aku mendengar suara seseorang yang sangat ku cintai.


"Iya nih.. lagi rewel banget... Aku ladenin dulu ya..".


Aku sedang kesal, namun mendengar sepupuku yang mengaku sebagai pacarku, benar- benar membuatku ingin tertawa. Lucu sekali. Tetapi Aku sangat berterimakasih pada Jojo, Karena Rahasia bahwa kami saudara sepupu masih terjaga.


"Iya dengan dia.. siapa lagi coba?..".


Aku menghembuskan nafas kasar. Segera saja ku matikan hape dan ku lempar sembarangan ke kasur. Aku mengacak rambutku. 3 tahun Aku mengejar, mengapa hasilnya nihil?


Aku sudah mengatakan keseriusanku di hadapan Kakek dan Nenek Irene waktu itu. Harusnya itu cukup membuat Irene menyadari Aku yang jauh lebih serius dibanding Lelaki lain.


'Apa perlu besok sebelum Lelaki itu melamar, Aku duluan saja?'. Aku mulai memikirkan hal gila.


Beberapa hari Aku tidak begitu fokus mengurus usahaku. Beruntung Aku memiliki orang kepercayaan yang setiap saat selalu mengingatkan dan dapat diandalkan.


"Tolong untuk sementara waktu Kamu yang urus ya..". Aku memegang pelipisku. Pusing sekali rasanya. Tidak biasanya Aku seperti ini.


"Iya Pak.. Saya permisi..". Kata Hendra, Orang kepercayaanku itu segera keluar dari ruangan.


Sepeninggal Hendra, Aku mengambil ponsel di laci meja kerjaku. Aku akan mengakhiri kegelisahanku.


"iya halo.. wa'alaikumsalam...". Suara lembut itu begitu Aku rindukan.


"Kakak dengar kamu akan dilamar, apa benar begitu?". Aku langsung menembak, Aku tidak bisa basa basi untuk hal sepenting ini.


"Itu...". Irene nampak ragu untuk menjawab.


"Bagaimana denganku yang waktu itu berbicara serius dengan Kakek, Ren?.. Apa itu tidak termasuk lamaran?". Aku bertanya lagi.


"Kaak...". Irene terdengar merasa bersalah.


"Aku cinta sama kamu, Ren.. sudah sekian kali Aku bilang ke Kamu.. Aku juga serius sama Kamu.. Tidak bisakah kita?". Aku bertanya dengan putus asa. Cinta pertamaku, nasibnya mengapa harus seperti ini?.


"Kakak bisa mendapatkan yang terbaik..". Ujar Irene.


'Kamulah yang terbaik itu, Ren..' Batinku sedih.


"Dia sudah menyakiti kamu, kamu menerimanya.. Aku nggak pernah secuilpun bikin kamu sakit kan Ren? Kenapa tidak bisa?".


"Maaf Kak.. Dari awal Irene memang hanya menganggap Kak Taqy sebagai Kakak, tidak lebih..". Irene terdengar menghembuskan nafas lirih.


"Dan.. Perasaan Irene sejak dulu hanya untuk dia, Kak..". Lanjutnya lagi, semakin membuat Aku terpuruk. Suasana menjadi hening, Aku tidak bisa berkata apapun. Dan Gadis itu juga sepertinya tidak ingin mengatakan apa- apa lagi untuk sekedar menyenangkan hati yang patah ini.


"Istirahatlah, Ren...". Aku segera mematikan sambungan telepon tanpa menunggu Irene menjawabnya.


.


"Takdir kita sama, Kamu dianggap adik, dan Aku dianggap Kakak..". Aku menertawakan diriku sendiri.


.


.


Bersambung😘