
Terimakasih untuk pembaca dan pendukung karya ini.. Big Love❤
.
Lanjut ya😘
.
.
"Hati- hati di jalan ya, Mas". Irene menyalami suaminya yang hendak berangkat bekerja. Tak lupa senyum manis dia suguhkan untuk suaminya itu.
"Iya, Sayang.. Baik- baik di rumah ya?". Rama mengecup kening isterinya dengan lembut.
"Kabarin kalo sudah sampe ya?".
"Siap, Yang". Rama mengacungkan jempol, tanda setuju. Tanpa diminta, Dia pasti akan melakukannya.
Motor Rama segera meninggalkan halaman rumah Irene.
Setelah pernikahan, Rama tinggal di rumah Irene. Kebiasaan di daerahnya seperti itu. Nanti setelah seminggu, Baru keluarga pengantin wanita akan mengantarkan pengantin wanita dan laki- laki ke kediaman pengantin laki- laki.
Hari ini hari ke empat setelah pernikahan Rama Irene.
***
POV Rama:
"Wah penganten barunya sudah berangkat aja ini..". Begitu memasuki ruang kantor, Aku langsung disambut dengan ucapan heboh Bu Titik. Aku tersenyum canggung.
"Assalamu'alaikum". Aku menyapa semua rekan guru. Walaupun saat acara beberapa hari yang lalu, sebagian besar datang, namun mereka tetap mengucapkan selamat untuk pernikahanku.
"Saya kaget loh pas lihat isteri sampean.. Itu alumni SMA ini kan ya?". Tanya Bu Suci.
"Hehe ya begitulah bu". Aku menjawab malu- malu. Apa yang ada dipikiran mereka ya? hmm..
"Wahh.. Ini kalo dibikin Film judulnya Aku menikahi muridku.. Hehe.."
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Suci.
"Bercanda ya Pak.. Selamat loh Pak.. Bahagia selalu ya Pak..". Ucap Bu Suci kemudian, mungkin takut jika Aku tersinggung dengan candaannya.
"Terimakasih doanya Bu.. Doa yang sama untuk Ibu dan Suami". Kataku tulus.
Hari ini, hari pertama mengajar dengan status baruku yang sudah tidak single lagi, rasanya benar- benar amazing sekali. Aku membayangkan nanti, jika tahun ajaran baru, Aku akan dengan bangga menyebutkan nama isteriku pada murid- muridku. Tidak akan ada lagi yang menggodaku, karena statusku yang masih single.
Aku memasuki kelas 12 IPA yang Aku ada jadwal mengajar di jam pertama.
"Assalamu'alaikum.. Apa kabar semuanya?". Aku menyapa murid- muridku.
"Baik Pak.. Alhamdulillah". Setelah ritual pagi, berdoa sebelum pelajaran, dan mengabsen satu persatu muridku, Aku mulai memasuki proses pembelajaran. Namun,
"Selamat untuk pernikahannya Pak Rama.. Saya mewakili teman- teman, mendoakan semoga Bapak beserta Isteri selalu dilimpahi kebahagiaan dan keberkahan dalam pernikahan". Dito, ketua kelas 12 IPA, berkata sambil berdiri. Aku tersenyum dan mengangguk.
"Terimakasih doa kalian untuk Bapak..".
Seorang siswi yang duduk persis di meja depanku, mengangsurkan sebuah kotak berukuran sedang. Sepertinya kado.
"Semoga Bapak menyukai kado dari Kami". Ucap si ketua kelas lagi.
"Terimakasih..".
Aku meletakkan kado itu di mejaku. Setelah suasana kondusif, Aku melanjutkan proses pembelajaran yang sempat tertunda. Aku sangat berterimakasih dengan perhatian murid- muridku.
"Untuk rumus Limit, ada rumus simpel nya.. Tetapi itu nanti, kalau sudah memasuki masa tryout Ujian Nasional, baru bapak kasih rumusnya.."
"Yaah.. Sekarang saja pak..". Sahut murid- muridku kecewa. Aku tertawa kecil,
"Rumus simpel itu seperti jalan pintas, Jangan senang pakai jalan pintas, karena membuat kita menggampangkan segala sesuatu..". Nasehatku. Mereka mengangguk.
***
"Kerjakan tugas halaman 65, pertemuan selanjutnya kita bahas ya"
"Ya paak". Jawab muridku kompak.
Aku melirik jam di tangan kiriku. Sudah jam 1 lebih. Aku hari ini menjanjikan akan mengajak Irene jalan- jalan sore. Segera saja Aku bergegas menuju parkiran motor, menaiki motorku dan berlalu dari lingkungan sekolah.
Di perjalanan, Aku membayangkan Irene yang menyambutku di depan pintu. Hehe, Rasanya menyenangkan sekali. Andai saja, Kami menikah dari beberapa tahun yang lalu...hmmm
Aku berhenti di pertigaan. Aku ingat, saat pertama kalinya Aku memboncengkan Irene, Aku menurunkan Irene di sini. Jika sebelumnya Aku akan memilih belok kanan, maka saat ini Aku belok ke kiri. Arah menuju Rumah Irene.
"Ah iya.. sepertinya masalah tempat tinggal harus dibicarakan segera dengan dia.."
"Ibu ingin sekali Irene tinggal di rumah, tetapi bagaimana dengan isteriku itu?". Aku bermonolog.
Masalah tempat tinggal bagi seseorang yang sudah berkeluarga adalah salah satu yang sangat penting menurutku. Hal itu berkaitan dengan rasa nyaman masing- masing pihak, baik Aku sendiri maupun isteriku. Aku nyaman tinggal dimanapun, namun bagaimana dengan isteriku?
Beberapa waktu berlalu, motorku sudah berhenti di halaman rumah Kakek. Seperti yang ada dalam anganku tadi sewaktu di perjalanan, Saat melihatku memasuki halaman Rumah, Irene langsung bangkit berdiri. Dia menyambutku dengan senyuman indahnya. Aku sangat menyukai senyuman itu. Menyejukkan sekali.
"Kamu nungguin dari tadi?". Aku mengulurkan tanganku, Irene meraihnya, kemudian mencium dengan takzim.
"Nggak juga sih Mas.. Hehe..". Irene tertawa kecil, menggemaskan sekali.
"Ya udah, cepet ganti baju, habis itu makan siang, Aku masakin sesuatu looh".
"Masak apa?" Tanyaku antusias. Aku baru tahu setelah menikah, ternyata Isteriku ini sangat jago memasak.
"Ada lah.. udah cepetan ganti baju..".
Selesai berganti kostum, Aku segera menuju meja makan. Suasana rumah sepi, Kakek dan Nenek Irene sejak kemarin tidak berada di rumah. Mereka menginap di rumah anaknya. Aku segera menikmati makan siang buatan Irene. Semur Ayam yang menurutku rasanya enak sekali. Ibu pernah memasak, Namun masakan Isteriku rasanya berbeda. Mungki karena dimasak dengan cinta kali ya hehehee.
"Oh iya Yang.. Nanti setelah ini, kamu maunya tinggal dimana?". Selesai makan, Aku langsung membahas perihal tempat tinggal.
"Aku ikut Kamu aja Mas..". Jawab Irene sambil tersenyum.
"Kalo tinggal sama Ibu gimana?". Aku bertanya lagi. Aku menelisik wajah Isteriku, Dia diam sesaat.
"Iya nggak apa- apa Mas..".
"Kamu kayaknya nggak nyaman ya kalo tinggal bareng Ayah dan Ibu". Tanyaku. Aku meraih tangan Isteriku. Meminta dia jujur.
Aku pernah mendengar beberapa kali rekan guruku yang perempuan, menceritakan keluhan mereka saat tinggal bersama mertua. Aku takut Irene merasa tidak nyaman.
"Bukan begitu Mas.. Aku nyaman saja kalau misal nanti akhirnya tinggal di Rumah ibu.."
"Lalu?".
"Aku takut Ibu menagih cucu". Irene tersenyum malu.
"Ya ampuun Sayang.. Kamu inget terus kalimat Ibu kemarin itu?". Irene mengangguk pelan. Aku menggeleng tidak habis pikir.
"Ibu tidak akan menagih cucu, Sayang.. Kamu tenang saja..".
Akhirnya Aku berbicara panjang lebar, Aku ingin nanti di tempat tinggal yang baru, Irene merasa nyaman. Jika tidak nyaman harus bilang padaku, tidak usah menutupi. Irene menyetujuinya.
"Nanti mau jalan kemana, Mas?". Tagih Irene.
"Aku pengin borong jajan Mas.. Hehe..". Ucapnya lagi.
"Boleh..". Aku menyetujuinya. Sesederhana itu menyenangkan Dia. Selepas menjadi isteriku, Dia tidak banyak meminta padaku.
"Besok- besok Mas akan ambil cuti, Kita bisa Liburan ke tempat yang lumayan jauh.. Tidak cuman di sekitar sini.. Sabar ya?". Aku mengelus kepala Irene. Dia membalasku dengan tersenyum manis. Aku ingin memberikan momen yang indah untuk dia, mengajaknya berlibur ke tempat yang romantis, layaknya pengantin baru di luar sana.
.
.
Bersambung💋