360 DAYS

360 DAYS
di Semarang



Terimakasih atas dukungan pembaca sekalian pada karya Authorā¤


selalu like dan komentar di setiap Bab, biar penulis makin semangattttšŸ’‹


.


Lanjut yaa..


.


Setelah perjalanan cukup panjang, dan beberapa kali beristirahat karena datang memakai motor, Akhirnya Aku dan Pak Ari sampai di hotel tempat diklat akan dilakukan. HK Hotel. Salah satu hotel ternama di Semarang. (Anggap aja begitu ya pemirsaa.. Hehe)


Kami memasuki lobi hotel, dan bertemu dengan rombongan lainnya. Beberapa Guru yang memang Aku mengenalnya. Kami bertegur sapa dan mengobrol sebentar. Selesai berbasa basi, Aku mengajak Pak Ari menuju resepsionis, meminta kunci kamar.


Kami mendapat jatah sekamar, seperti pemberitahuan yang kami dapatkan di grup chat.


Hotel bintang 4 ini terlihat cukup nyaman. Diklat sebelumnya berlangsung di hotel bintang 3.


lumayan peningkatan kualitas tempat. Aku nyengir dengan suara batinku sendiri.


Kami menaiki lift untuk sampai lantai ketiga. Lantai dimana kamar kami berada.


"Ayo Pak istirahat.. Besok pagi sudah mulai sibuk kita ini..". Aku menepuk pelan bahu Pak Ari.


Aku berpindah menuju balkon kamar hotel. Aku sudah mendial kontak Irene, panggilan video.


Beberapa saat kemudian, Aku melihat wajah Irene di layar hape. Aku tersenyum.


"Mas sudah sampai, ini sudah di kamar, Yang..". Aku memberi kabar.


Setelah berhenti di rest area ke 4, Aku yang membawa motor, bergantian dengan Pak Ari. Kasihan jika harus dia yang mengendarai terus sampai ke Semarang. Sehingga Aku tidak mengabari Isteriku setiap waktu, karena yang Aku pegang adalah stang motor, bukan hape seperti sebelumnya.


"Iya Mas.. syukur Alhamdulillaah.. Mandi dulu sana Mas.. Kunyel banget keliatannya". Irene tertawa pelan, dan Aku ikut tertawa.


"Mas pengin denger suara kamu dulu, baru mandi.. gantian juga sama Pak Ari..". Ungkapku.


"Oh iya iya Mas.. Sekamar berapa orang?".


"Dua yang.. Aku sama Pak Ari aja..".


Aku menengok ke belakang, dan memastikan bahwa rekanku Pak Ari sudah masuk ke kamar mandi. Begitu tidak terlihat, Aku mendekatkan ponselku, dan mengecup Irene yang berada jauh di sana. Ciuman ini merupakan ekspresi kerinduanku pada Irene.


"Ngapain kamu Mas? Hape dideket- deketin gitu". Tegur Irene.


Astagaa... Irene tidak paham jika Aku sedang menciumnya. Aku mendengus kesal. Momen yang harusnya romantis malah jadi seperti ini.


"Ini ada nyamuk.. Mas teplak (tampol, atau tabok) pake mulut..". Jawabku.


"Ada- ada aja kamu Mas.. Mas..". Irene menggeleng, dia tidak mengerti bahwa Aku sedang kesal sekaligus malu.


Kami mengobrol cukup lama, hingga akhirnya Pak ari memberitahu bahwa dia sudah selesai membersihkan diri.


"Mas mau mandi dulu ya..". Pamitku. Irene mengangguk, dan tersenyum.


"Iya Mas.. langsung istirahat aja, biar besok fresh pas ikut pembukaan..".


Isteriku memang begitu pengertian. Ini pengalaman pertamanya melepas suaminya diklat yang jauh, tetapi dia seolah sudah paham dengan apa yang harus dia lakukan pada suaminya. Aku bersyukur memperoleh Irene sebagai Isteriku. Walaupun di masa lalu Dia adalah muridku, Namun semua itu bukan penghalang bagi kami untuk berbahagia dengan status sebagai suami isteri.


Irene melambaikan tangan dan menutup panggilan video kami.


Aku beranjak dari balkon kamar hotel. Aku melihat rekanku sudah segar, tidak seperti tadi terlihat kunyel. Seperti kata Irene terhadapku. Hehee...


***


Malam hari selesai menunaikan ibadah sholat maghrib, Pak Ari mengajakku turun ke bawah. Sepertinya suasana di cafe bawah ramai dengan guru- guru matematika. Aku ikut bergabung.


"Bagaimana kabarnya Pak Gusman? Sehat ya Pak..". Sapa Rama pada salah seorang rekan yang dia kenal, berasal dari daerah temanggung.


"Gimana sampean Mas?".


"Sama saja Pak.. Sehat dan semakin bugar".


Kami mengobrol beberapa waktu, kemudian bergabung dengan yang lainnya juga.


Berkumpul dengan orang yang memiliki passion yang sama, memang sangat nyambung. Apalagi saat berbagi pengalaman mengajar murid dengan aneka karakter dan tingkat kecerdasan.


Aku kadang mengaplikasikan saran dari rekan yang lain perihal menghadapi murid dengan kondisi tertentu.


"Denger- denger sampean mau jadi Ayah ya Pak? Selamat loh Pak.. Semoga sehat selalu Ibu dan Anaknya ya Pak..". Di tengah- tengah obrolan, ada yang menanyakan hal pribadi. Sudah biasa juga seperti itu.


"Betul sekali Bu.. Terimakasih doanya Bu..".


Jam 8 Aku memutuskan kembali ke kamar, sebab sudah mengantuk sekali. Kebiasaan juga di rumah, Irene selalu mengajakku tidur di jam- jam ini, setelah solat isya.


Ahh.. Aku jadi merindukan Irene.. Sabar.. Sabarr..


Rekan sekamarku, belum kembali ke kamar. Di usia seperti pak Ari memang masih senang begadang, dan ngobrol dengan teman- temannya. Aku maklum saja.


Aku segera mengambil air wudhu dan menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Selesainya, Aku segera menuju pembaringan, dan beristirahat.


Sebelum memejamkan mata, Aku memandangi layar hapeku lama- lama. Aku melihat bayiku. Aku mengecup layar hapeku, dan berdoa semoga Anak dan Isteriku selalu diberi kesehatan.


Aku ingin menyaksikan kelahiran anakku, dan melihat tumbuh kembangnya, bersama- sama dengan Isteriku.


Setelah melihat foto USG itu, Aku sudah bisa memejamkan mataku dengan mudah.


Sleep well my son and wifeā¤


***


Hari ke 4 Diklat di Semarang...


Seperti hari- hari sebelumnya, Para peserta diklat selalu mendapatkan tugas dari Widyaiswara. Dan setiap peserta dipilih secara random untuk mempresentasikan hasil tugasnya.


Pagi ini, Aku mendapatkan kesempatan mempresentasikan hasil tugasku. Aku segera maju ke depan, dan mempersiapkan laptopku yang berisi hasil tugas.


Aku tengah mempresentasikan hasil tugas yang diberikan Widyaiswara (pembicara atau tutor pada sebuah pelatihan) kemarin, saat Aku merasakan hape di saku celanaku bergetar. Aku tetap fokus melakukan presentasi, walaupun merasakan hapeku bergetar kembali beberapa kali.


Selesai melakukan pemaparan, Aku menyempatkan diri mengeluarkan hape. Karena getaran panggilan tidak biasanya bertubi- tubi seperti ini. Irene pun mengerti kapan dia harus menghubungiku, dan kapan tidak.


Ibu?


Aku mengenyit melihat ternyata panggilan dari Ibu. Tidak biasanya Ibu menghubungiku. Aku meminta Izin terlebih dahulu untuk mengangkat panggilan, sepertinya Ibu akan memberi kabar penting.


Aku menyingkir sebentar ke pinggiran, namun masih di dalam ruangan diklat. Tepat saat Aku akan menghubungi Ibu, beliau melakukan panggilan masuk.


Pas sekali.. ujarku.


"Assalamu'alaikum Bu.. Rama sedang presentasi tugas Bu.. Mass........". Aku terdiam tidak melanjutkan kalimatku.


Aku tidak berpikir hal buruk apapun saat menerima panggilan ini dari Ibu, Namun begitu suara Ibu terdengar dengan terbata- bata mengucapkan informasi, Aku seperti merasakan plafon hotel di ruang diklat jatuh menimpaku. Duniaku seketika runtuh saat Aku berhasil merangkai potongan kalimat Ibu.


Hapeku terjatuh begitu saja, dan Aku mengabaikan Beberapa orang yang mendekatiku. Menanyakan keadaanku saat ini.


Irene? Mimpi itu?


.


.


Bersambung🤧