360 DAYS

360 DAYS
akan menemui



Terima kasih yang sudah membaca dan memberikan dukungan untuk karya ini.. jangan lupa like dan tinggalkan jejak komentarnya🥰🙏


.


.


Lanjut ya😘


Permintaan, Ah bukan permintaan, tetapi perintah Ibu untuk membawa Irene ke hadapan Ibu menjadi tugas yang begitu berat untuk ku, terlebih lagi ucapan Ibu yang mengatakan bahwa perasaan Irene hanya angan- anganku saja, semakin menambah beban berat.


'Apa benar hanya angan- anganku saja?'.


Aku mulai mengingat kembali lembaran demi lembaran hal yang sudah ku lewati bersama Irene.


Irene mengatakan dia menyukaiku, walaupun dia mengatakan itu saat Aku dalam kondisi tidak tersadar. Atau Aku hanya bermimpi? Tapi suara itu terdengar nyata di telingaku.


Saat kami sedang berdua, dia tampak malu- malu, Aku tidak bodoh untuk bisa menafsirkan bahwa itu adalah sikap saat berada di dekat seseorang yang disukai.


Lalu saat kecelakaan waktu itu, Aku melihat matanya menyorotkan kekhawatiran yang luar biasa, apakah seperti itu jika melihat seseorang yang biasa saja? Tidak kan? Itu pasti karena dia menyukaiku. Lalu momen saat Aku selalu mengantarkannya pulang sekolah, momen dia mengikuti les, momen Aku membawanya ke saung, momen Aku membawanya ke taman. Semua lembaran itu muncul seperti layar proyektor yang menampilkan slide power point.


Kami melewati semua hal tersebut seperti air yang mengalir. Aku memang tidak pernah mengatakan secara gamblang bahwa Aku menyukai dia, namun, semua sikapku bukankah seharusnya Irene bisa menangkap dengan jelas, bahwa apa yang Aku lalukan karena Aku memiliki perasaan yang sama? Bukankah begitu?


'Ya harusnya begitu'. Hatiku membela.


Tetapi ada jenis orang tertentu yang membutuhkan kepastian dari ucapan juga kan?


"arggggh". Aku mengacak rambutku. Aku takut Irene termasuk dalam jenis itu. Bagaimana jika waktu itu, Irene juga butuh ucapan bahwa Aku menyukainya.


'Ya tuhan.. Bagaimana ini??'. Aku mendes@h frustasi.


Ketakutanku bertambah saat Aku mengingat dengan mudahnya Irene pergi tanpa berpamitan padaku, padahal Dia menyempatkan berpamit pada Ibu. Harusnya jika dia tahu perasaanku, dia tidak akan pergi dalam kondisi seperti itu kan?


Aku menelungkupkan wajahku di bantal.


"Bagaimana Aku menemui dia?". Aku bertanya lirih.


***


Aku keluar dari kamar setelah selesai bersiap. Aku menuju meja makan, sudah ada Ibu dan Ayah di meja makan, mereka juga sudah mulai menyendokkan nasi. Aku duduk dengan tenang dan mulai mengambil makanan. Ya Aku berharap bisa tenang. Namun sudut mataku menangkap Ibu yang sedang melirikku.


hhh.. baiklaahhh.. Aku bergumam dalam hati.


"Kamu tidak lupa dengan permintaan Ibu kan?".


Aku yang bersiap memasukkan makanan ke mulut, ku urungkan. Aku menatap Ibu, ku hembuskan nafas kesal sepelan mungkin, agar beliau tidak tersinggung.


"Rama tidak lupa, Bu..".


Ayah hanya bersikap sebagai pendengar yang baik. Aku tersenyum kecut melihat Ayah yang tersenyum padaku. Biar nanti Aku meminta nasehat Ayah saja. Begitu keputusanku. Aku menyelesaikan sarapanku dengan segera, lagi pula jam sudah menunjukkan setengah 7 pagi. Aku harus bergegas berangkat ke sekolah. Jadwalku cukup sibuk kali ini. Saking sibuknya Aku bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih, bagaimana cara bertemu dengan Irene.


Irene.. Irene.. dan Irenee.. Tidak dapat ku jangkau dengan mata, namun selalu memenuhi penglihatanku🥴.


***


Aku memasuki kamar dengan rasa lelah luar biasa. Jadwal super padat sudah ku lalui hari ini. Jadwal les kelas 11 yang biasanya hari kamis, Aku sengaja mundurkan. Tujuanku hanya satu, Aku ingin istirahat. Aku melirik jam tanganku, sudah jam setengah 5 sore.


Aku bangun dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Aku kembali berbaring di kasur. Menatap langit- langit kamar.


Aku mengambil ponsel di tas kerjaku. Benda itu sejak pagi tidak ku sentuh sama sekali. Aku segera membuka aplikasi bergambar kamera, kemudian mengklik nama seseorang. Aku ingin melihat kegiatannya hari ini.


Tampak sebuah foto berupa slempang wisuda bertuliskan nama dan gelar yang dia peroleh. Di bawahnya ada caption 'Finally... masih ingatkah dia?'.


Aku bangga dia sudah menyelesaikan pendidikannya dalam tempo yang cepat. Dia pasti belajar dengan sungguh- sungguh. Dari setiap foto yang dia bagikan, Aku memang yakin dia belajar dengan baik.


"Tetapi bagaimana jika perkataan Ibu benar?". Aku menjadi ragu. Aku kembali menatap langit- langit kamar, Aku meletakkan hapeku di atas kasur. Aku memejamkan mataku. Pusing rasanya....


'Bagaimana Aku begitu tidak percaya diri...'. Aku mengeluh dalam hati.


Aku mendengar suara adzan maghrib berkumandang. Aku segera bangun dan mengambil air wudhu. Aku keluar kamar dan bertemu dengan Ayah yang juga baru keluar kamar. Kami ke masjid bersama untuk sholat berjamaah.


"Yah..". Ayah menengok ke arahku sebentar.


"Bagaimana cara Rama bertemu dengan dia? Apa yang harus dikatakan?". Aku bertanya, langsung pada inti. Ayah tidak langsung menjawab. Mungkin beliau sedang memikirkan cara paling tepat untukku.


"Kamu bisa menemui dia di rumahnya..". Jawab Ayah.


Aku jadi ingat, terakhir Aku ke rumah kakek neneknya adalah sehari setelah dia pergi ke Semarang. Setelah itu tidak pernah lagi. Kalau ke rumah Bibinya, Aku tidak pernah sama sekali. Ibu biasanya yang ke rumah Bibi Irene, namun sejak Irene pergi, Ibu tidak pernah menyinggung soal bibi Irene.


Apa mungkin Ibu bertemu Irene di rumah bibinya, namun tidak mengatakan padaku? Aku bertanya.


"Rama sudah lama tidak pernah ke rumah itu, Yah..".


"Kamu bisa mencoba nya, Nak.. Sebelum semua terlambat..". Ayah menepuk pundakku. Beliau tersenyum padaku. Mendengar perkataan Ayah, Aku jadi merasa takut.


'Bagaimana jika Aku benar terlambat???'.


Aku menggeleng cepat, menolak pikiran burukku. Baiklah, Aku sudah memutuskan, Aku akan menemui dia di Rumahnya, biar nanti Aku menghubungi dia lewat DM instagr@m. Aku sudah mantap.


'Tunggu Aku datang, Dewi Perdamaian ku'


***


Pov Author:


Tahun 2018


Meninggalkan Rama, Di sudut dunia yang lain, masih di zona waktu yang sama, Gadis yang sedang dipikirkan oleh Rama tampak sedang duduk sendiri di gazebo fakultas Hukum Universitas XXX. Dia tampak sedang memasukkan ponsel ke tas mungilnya, setelah tadi dia sukses mengirimkan status di aplikasi bergambar kamera.


"Lama banget ya ampun Aku nungguin Kamu, Joooo..." Irene mengayunkan tas mungilnya ke arah Jojo, temannya yang sejak tadi dia tunggu, Jojo menghindar dari serangan Irene.


"eitss.. Sorryyy... tadi Irsyad numpang pinjem leptop..". Jojo tersenyum lebar. Irene masih manyun. Jojo merangkul temannya itu.


"Udah nggak usah manyun gitu.. maka nya doain Aku biar cepet lulus kayak kamu, jadi Aku bisa bebass....". Irene melirik Jojo dan memberikan senyum terpaksa.


"Nah gitu kan cantik hehe.. dah lah yukkk". Jojo menarik tangan Irene untuk segera meninggalkan Gazebo.


"Eh gimana? Udah selesai daftaran wisudanya?". Jojo bertanya, sambil sekilas melihat ke arah Irene.


"Alhamdulillah, Jo.. Selesai sudahh hehee". Irene tersenyum lebar. Jojo pun turut tersenyum, merasakan kebahagiaan teman kuliah yang hampir empat tahun ini bersama. Dia berharap dalam hati untuk bisa menyelesaikan skripsinya, dan wisuda.


"Eh lusa jadi pulang kampung?". Begitu sampai di parkiran tempat motor Jojo, Dia ingat kalau Irene mengajaknya pulang kampung.


"Jadi lah.. Aku pengin sampein kabar gembira ini ke kakek nenek.. Kamu jadi pulang juga kan?". Irene balik bertanya. Jojo mengangguk. Dua gadis itu memakai helm, kemudian menaiki motor bersama menuju asrama.


.


.


Yess pulang kampunggg🙃 (sorak Irene)


.


.


Bersambung🥰