
Terimakasih untuk pembaca yang sudah mendukung karya ini🥰
.
.
Lanjut yaa..😘
.
.
"Kamu kenapa akhir- akhir ini sering diam? Biasanya rewel..". Niatku yang akan mencandai Isteri, berujung delikan mata oleh Irene. Aku yang sibuk pasca perlombaan yang berlangsung di Sekolah, ditambah tugas memberikan materi tambahan untuk persiapan Ujian Nasional, membuatku mengabaikan Irene.
"Nggak kenapa- kenapa, Mas..". Ujarnya. Mulutnya bisa berkata begitu, tetapi tidak dengan gestur tubuhnya. Dia menyimpan sesuatu, dan Aku harus mengetahuinya.
Katakan kalo Aku kurang peka, dan memang kenyataannya seperti itu. Aku bukan peramal yang bisa membaca pikirannya. Jika ada sesuatu, mengapa tidak mengatakan saja??
Aku menggeleng sendiri. Biar nanti Aku mencari tahu.
"Mas berangkat dulu ya.. Nanti pulang sorean..". Ujarku. Dia meraih tanganku dan menciumnya. Aku memeluk dia sebentar, kemudian segera keluar kamar, diikuti oleh Irene.
Hari libur sebenarnya lebih enak dihabiskan dengan keluarga, tetapi karena tugas yang diemban, mau tidak mau Aku harus merelakan hari liburku terlewatkan dengan bekerja.
Aku mengendarai motorku menuju sekolah. Setibanya disana, sudah banyak murid yang datang. Aku memang datang sedikit terlambat.
"Hari minggu agendanya santai, tapi malah ke sekolah ya Pak". Ucap salah satu rekanku, yang tampak sedang mengambil bahan ajar di mejanya.
"Hehe iya Bu..". Aku merespon seadanya. Bukan hanya kami berdua yang menghabiskan hari libur di tempat kerja, ada sekitar lima guru yang hari ini memiliki jadwal memberikan tambahan materi, bersamaan denganku.
Aku segera menuju kelas, agar segera selesai, dan dilanjutkan dengan kelas yang lainnya.
***
Selesai memberikan penjelasan materi, sembari menunggu Muridku mengerjakan latihan soal, Aku keluar dari ruang kelas. Aku memandang lingkungan sekitar sekolah. Ku hembuskan nafas berat. Aku memikirkan sikap Irene beberapa waktu ini.
Apa ini masih ada kaitannya dengan kejadian saat ia tidak mengizinkan Irene jalan- jalan dengan Jojo? Bukankah sahabatnya itu pada akhirnya datang ke rumah, dan Irene baik- baik saja? Atau ada masalah dengan Ibu? Tetapi mereka terlihat akur saja. Hmmm..
Aku pernah berpikir, membahagiakan dan menyenangkan Irene cukup sederhana, Namun Aku perlu meninjau ulang, apakah memang benar sesederhana itu? Dia memang senang jika diajak jalan, membeli makanan, atau sekedar melihat pemandangan indah. Apakah ada hal lain yang diinginkan Irene selain hal sederhana itu?
Ckk !. Aku berdecak pelan. Andai Aku punya indra ke tujuh!. Aku melirik jam tangan, sudah setengah jam rupanya Aku di luar kelas. Aku segera masuk ke dalam kelas, untuk melanjutkan membahas hasil pekerjaan muridku.
"Sudah selesai?". Tanyaku begitu memasuki kelas.
"Sudah Pak.."
"Belum Pak !".
"Sepuluh menit lagi yaa.. Yang sudah coba dicek sekali lagi jawabannya". Aku duduk di bangku kebesaran, sembari memperhatikan murid- muridku. Sesekali Aku melirik hapeku, yang sengaja ku taruh di atas meja, agar dengan mudah Aku mengetahui jika ada pesan masuk. Nyatanya sejak tadi benda itu tidak menunjukkan tanda kehidupan.
Tanganku gatal untuk diam saja, Akhirnya Aku memutuskan untuk meraih benda pipih itu, kemudian mengirim pesan ke kontak chat yang sudah ku beri pin, agar selalu berada di posisi chat teratas.
Q: Sedang apa yang?
Terikirim.
Waktu berjalan, tetapi balasan dari Irene tak kunjung ku dapatkan. Ah mungkin dia sedang mengobrol dengan Ibu. Aku berpikir positif.
Untuk mengalihkan pikiranku dari Irene, Aku bangkit dari tempat duduk, dan berjalan menuju murid- muridku yang masih kulihat sedang mengerjakan soal.
***
Selesai memasukkan motor ke dalam garasi, Aku segera menuju ke pintu utama. Pintu utama tertutup dan terkunci, sepertinya tidak ada orang di rumah. Aku mengambil kunci cadangan yang memang selalu kubawa.
Aku menuju kamar, dan segera berganti kostum. Lelah sekali rasanya dari pagi sampai sore berada di sekolah. Bertambah lelah dengan kenyataan bahwa Irene tidak ada di rumah dan Dia tidak memberi kabar sama sekali.
Mungkin pergi bersama Ibu, dan tidak sempat memberi kabar. Batinku
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Aku segera membaringkan diri di kasur. Beberapa saat kemudian, Aku mendengar suara salam dari Ibu.
Aku segera bangkit, dan keluar dari kamar. Barangkali saja Irene ada bersama Ibu.
"Loh.. Tadi sebelum Ibu berangkat Dia ada di rumah..". Ibu terlihat bingung.
Ya ampun, kemana dia?
"Sudah menelpon dia?", Ayah bertanya.
Ah iya Aku belum menghubungi dia, hanya tadi mengirimi pesan, itupun belum dibaca sampai sekarang.
Aku membuka aplikasi chat, dan mendial nomor Irene. Suara dering hape terdengar dari arah dapur. Aku segera menuju dapur.
Aku mendekati ponsel Irene yang berada di samping wastafel.
"Coba kamu hubungi temannya yang waktu itu datang ke rumah..". Ibu yang menyadari kebingunganku, memberikan masukan. Dan tanpa menunggu lama, Aku segera mendial nomor hape Jojo.
Dering pertama langsung diangkat oleh gadis itu.
"Apa Irene ada bersama Kamu?". Tanyaku tanpa basa basi.
"Hah? Irene? Saya ada di Semarang Pak.. Irene tidak menghubungi saya pag.....". Aku segera memutuskan panggilan.
Aku mengacak rambutku frustasi.
"Tidak usah gegabah, Kita tunggu Irene pulang, siapa tahu memang dia ada keperluan mendadak, sampai hapenya saja tertinggal..". Ayah menepuk bahuku. Setelahnya, Ayah memasuki Kamar. Disusul dengan Ibu.
Aku duduk di meja makan dengan lemas.
Tingkah Irene yang tidak biasa, membuatku khawatir. Apa Aku terlalu mengekangnya selama ini?
Aku membuka hape Irene, membuka chat. Tidak ada pesan baru, kecuali dari grup almamaternya, dan entah grup apalagi.
Aku membuka sms, tidak ada sms baru, kecuali promosi operator dan tawaran pinjaman online. Terakhir Aku membuka riwayat telpon.
"Raka?".
Aku mengerutkan alis, tumben bocah itu menelpon sepupunya, biasanya dia akan datang langsung ke rumah, jika ada keperluan.
Tanpa berfikir terlalu panjang, Aku langsung memanggil kontak Raka menggunakan ponsel Irene.
"Halo...". Suara Raka di seberang telpon.
"Irene ada bersama kamu?". Tanyaku to the point.
"loh? Irene sedang di rumah sakit, Pak.. Memangnya dia tidak ngasih kabar? Ehh ini nomer Irene ya...". Raka ngoceh panjang, namun Aku tidak mendengarnya, sekarang yang ada di otakku adalah Irene ada di rumah sakit.
"Irene sakit? Tadi pagi dia baik- baik saja....". Ujarku.
Ku dengar Raka mengambil nafas dan menghembuskannya dengan kasar.
"Tadi saya bilang, Kakek masuk rumah sakit, jadi irene sekarang sedang menunggu Kakek..".
"Saya kesana.. Kamu kirim alamat di chat..!". Perintahku tak terbantah.
Aku segera menuju kamar dan bersiap untuk pergi.
"Nak, Mau kemana buru- buru seperti itu?". Ibu baru saja keluar kamar.
"Irene ada di rumah sakit" Jawabku singkat.
"Ya Alloh.. Kenapa Ibu tidak tahu kalau dia Sakit.. Yah.. Ayahh...". Ibu yang panik langsung memanggil Ayah, dan Aku hanya mendengus.
"Ibu dan Ayah ikut !". Ucap Ibu dari dalam kamar. Terpaksa Aku harus menunggu, padahal Tubuhku ingin sekali rasanya berangkat dan segera bertemu dengan Irene. Aku tahu pasti dia sedang bersedih. Kakek adalah orang tua kedua Irene.
Ah apakah Irene beberapa waktu ini merindukan Kakek dan Neneknya????
.
.
Bersambung😘