
Terimakasih atas dukungan pembaca untuk karyaku ini😘
.
.
Lanjut ya🙃
.
.
Irene memasuki pintu utama, suara ramai sudah menyambut Irene sejak masih berada di halaman rumah. Rupanya cucu Ibu sudah datang.
"Assalamu'alaikum...". Semua orang langsung menatap Irene, Menantu di keluarga Pak Pram itupun tersenyum saat semua mata menuju ke arahnya.
"Waalaikumsalam". Sesaat kemudian semua sudah kembali ke aktifitas masing- masing. Irene mendekat dan duduk di samping Ibu.
"Rama minta disuapin? Lama nganter makan siangnya Nak?". Ibu bertanya,
"Tadi Irene mampir ke rumah Nenek, Bu.. Kangen..". Irene tersenyum, dan tiba- tiba merasa sedih. Sejak di jalan, saat pulang tadi, Dia memikirkan sesuatu, berniat mengatakannya ke suami, namun dia tidak yakin bahwa sang suami akan menyetujuinya. Irene menghela nafas berat. Ibu yang mendengar helaan nafas Irene, melirik ke arah menantunya.
Dia menyerahkan anak dalam gendongannya ke Tata.
"Ada apa? Kamu bisa cerita ke Ibu.. Jangan dipendam sendirian Nak". ibu menyentuh bahu Irene. Irene menatap Ibu dengan perasaan bersalah.
"Tidak ada apa- apa Bu.. Irene hanya masih kangen Nenek". Gadis itu memaksakan diri untuk tersenyum pada Ibu mertuanya. Tidak mungkin Dia akan mengatakan yang sebenarnya.
***
POV RAMA:
Suasana Rumah masih ramai, saat Aku memasuki pintu utama. Ada kakak ku dan ipar, serta anak- anaknya, Ibu dan juga ayah yang sedang bercengkerama. Namun Aku tidak menemukan Isteriku disana.
"Assalamu'alaikum.. Wah lagi kumpull nih..".
"Pamaannn...". Anak pertama kakak berlari dan memeluk kakiku. Aku tersenyum dan mengelus puncak kepala bocah kecil itu.
"Pulang sore terus kamu, Ram?". Tegur sang Kakak.
"Iya nih mas...Rama bersih- bersih badan dulu yaa..". Rama segera berlalu menuju Kamar, karena dia yakin isterinya sedang berada di sana.
***
"Jadi tadi mampir ke rumah Nenek?". Irene mengangguk. Dia duduk di tepi ranjang, memperhatikan Aku yang sedang memakai pakaian.
Aku melirik isteriku dari cermin besar di lemari kamar. Aku bisa melihat kesedihan di wajah Irene.
"Kenapa?". Tanyaku. Aku segera mendekat dan duduk di samping Isteriku.
"Nggak kenapa- kenapa mas.. Emang Aku keliatan ada apa- apa?". Irene balik bertanya.
"Masih inget kata- kata mas pas di rumah sakit?". Irene menatapku kemudian mengangkat bahu, tidak tahu.
"Suami kamu bukan peramal, kalo kamu nggak ngomong apa- apa, mas ya nggak tau yang ada dipikiran kamu..". Aku hanya ingin mengingatkan isteriku itu.
"Kalo kita tinggal di rumah Nenek gimana, Mas?". Aku beralih menatap isteriku, Dia juga begitu. Aku bisa melihat ketidakyakinan di matanya.
"Apa selama ini Ibu menyakiti kamu?" Aku bertanya, memastikan bagaimana perlakuan Ibu terhadap Irene, selama Aku tidak ada. Jujur di hati kecilku, ada sedikit khawatir tentang perlakuan Ibu.
"Nggak mas.. Ibu baik padaku.. Aku kasihan dengan Nenek.. Dia sendirian, Ada bibi atau sepupuku itupun jika mereka sempat Mas...". Irene mengungkapkannya dengan nada sedih. Aku bisa merasakannya.
"Selama ini, Nenek sudah merawatku.. Dan sekarang saat Nenek sendiri, Aku malaah.....". Irene menutup wajahnya dengan dua telapak tangan, menandakan dia tidak dapat menyembunyikan lagi air matanya. Aku mendekap Isteriku mengelus punggungnya, membiarkan dia menumpahkan kesedihan yang dia rasa.
"Mau kapan ke rumah Nenek?". Irene mendongak, menatapku bingung.
"Mas setuju?". Tanya nya tidak yakin. Apakah dia pikir Aku setega itu?
"Iyaa Mas setuju..".
"Ibu dan Ayah bagaimana?". Tanya Irene lagi.
"Ibu dan Ayah dari awal tidak pernah mempermasalahkan kita akan tinggal dimana, Dan orangtua Mas pasti paham dengan kondisi kita saat ini..". Aku tersenyum untuk menenangkan Irene.
"Terimakasih Mas...". Irene memelukku dengan erat.
"Jika ingin mengatakan sesuatu, Katakan saja.. Jangan dipendam.. Mas ada disini untuk kamu, mendengarkan kamu... Ingat itu..". Pesanku lagi. Dia mengangguk dengan mantap.
***
Setelah pulangnya Kakakku beserta keluarga kecilnya, Aku mengatakan niatanku dan Irene untuk tinggal di rumah Irene. Ibu dengan berat hati mengiyakan keinginan Kami. Ibu pasti mengerti keadaan Nenek Irene pasca kepergian sang suami.
"Sering- sering ke rumah Ibu ya Nak..". Ibu mengelus tangan Irene. Irene mengangguk setuju. Gadis itu tadi sempat khawatir jika Ibu mertuanya tetap kekeh ingin mereka tinggal di rumah ini.
"Jadi ini yang bikin kamu tadi pulang dengan wajah sedih?". Tanya Ibu. Beliau menatap mata menantunya. dalam. Aku dan Ayah menyimak saja.
Isteriku tersenyum dengan Kaku. Merasa bersalah mungkin.
"Maaf ya Bu.. Irene senang tinggal bersama Ibu, tapi tadi pas ke rumah Nenek, Irene jadi keinget waktu itu Nenek dan Kakek selalu ada buat Irene. Tapi sekarang Nenek sendirian, Irene tidak bisa berbuat apa- apa". Ungkap Irene panjang lebar. Ibu mengangguk, mengerti.
"Iya.. Nenek lebih membutuhkan kalian saat ini, yang penting inget, jangan lupa Ibu nunggu kalian datang juga..". Ibu menepuk bahu Irene. Aku melihat Irene tersenyum, senang.
Syukurlaah.. Aku bisa melihat senyuman itu lagi.. Batinku.
Setelah obrolan itu, Kami mengobrol hal- hal lain, sebelum akhirnya kumandang adzan maghrib menghentikan obrolan hangat kami.
Aku segera beranjak diiringi Irene, begitupun Ayah dan Ibu.
"Sudah lega sekarang?". Aku bertanya setelah menutup pintu kamar.
"Lega Mas.. Makasih ya..". Aku tersenyum, dan mengangguk. Selama hal yang membuat Dia bahagia bisa Aku lakukan, Maka akan aku lakukan tanpa ragu.
Kami segera bersiap untuk sholat maghrib bersama, di dalam kamar.
.
.
Bersambung😘