360 DAYS

360 DAYS
kampung laut



Terimakasih yang sudah membaca dan mendukung karya ini🥰🙏


.


Lanjut ya😘


.


.


Irene menatap Lelaki yang ada di depannya. Dia tidak mengerti mengapa Lelaki ini marah padanya. Terakhir dia merasa, harusnya Dia yang marah, karena Rama melupakan janjinya. Tadi, selepas Irene keluar dari Auditorium karena acara gladi bersih wisuda telah usai, Rama menarik tangan Irene yang saat itu sedang melewati gazebo bersama teman sekelasnya. Irene begitu terkejut melihat Rama yang sudah ada di hadapannya.


"Maksud Bapak apa??". Rama balik menatap dengan tajam gadis di depannya. Lelaki itu tidak menyukai panggilan 'bapak' yang keluar dari mulut wanita yang dicintainya.


"Jangan pergi tanpa pamit lagi". Ucap lelaki itu akhirnya, menekan kata LAGI.


"Saya tidak ada hape, bagaimana saya bisa pamitan?". Bela Irene. Itu yang terjadi. Jika saja waktu itu hapenya tidak disita, dia pasti bisa menghubungi Lelaki yang dicintainya ini tanpa diminta. Sementara itu Rama melengos. Jadi disini Aku yang bersalah? Batin lelaki itu.


Rama mengambil hape di dalam waistbag, dan mengangsurkan ke Irene. Gadis itu tak serta merta mengambil ponsel miliknya. Dia masih memandangi Lelaki di depannya. Dia masih berpikir, Lelaki di depannya ini begitu marah saat dirinya pergi, hanya karena tidak mengabari? Atau ada hal lainnya?


"Hari ini seharusnya Saya datang bersama keluarga saya ke rumah Kakek untuk melamar Kamu". Rama menatap gadis di depannya. Gadis itu nampak terkejut dengan kalimat yang diucapkan oleh Rama, Ia menutup mulutnya.


"Kapan kamu siap saya lamar?". Rama bertanya dengan serius.


***


POV Rama:


"Kapan kamu siap saya lamar?". Kalimat itu meluncur dengan mulus dari mulutku. Aku menatap gadis di depanku. Sesaat yang lalu dia kaget saat Aku mengatakan bahwa hari ini Aku akan melamarnya.


"Setelah saya wisuda". Jawab Irene setelah dia berhasil menguasai dirinya sendiri. Aku tersenyum mendengar jawaban itu. Jika seperti ini, jelas sudah. Aku mengakui, kesalahan bermula dari Aku yang tidak memberitahunya perihal lamaran. Aku lupa bahwa Irene adalah tipe wanita yang butuh ucapan, bukan hanya tindakan. Seperti halnya saat itu, Saat Aku mengatakan bahwa Aku menyukainya, dan tidak pernah menganggapnya adik.


"Terimakasih..". Aku meraih tangan kanan Irene, dan mengelusnya penuh cinta.


"Jangan pergi tanpa pamit lagi ya". Pintaku. Gadis itu mengangguk. Pipinya terlihat merona. Aku segera melepaskan tangan Irene.


"Wisudanya dimajukan juga?". Aku bertanya untuk mengusir rasa canggung yang mendadak muncul, karena tingkahku yang meraih dan mengelus tangan Irene.


"Tidak Kak.. Hanya gladinya saja..". Jelas Irene. Aku mengangguk mengerti.


"Ada acara lagi setelah ini?". Irene menggeleng.


"Bagaimana Jika kita jalan- jalan?". Tawarku. Jauh- jauh dari xxx masa tidak sekalian liburan. Gagal lamaran hari ini tidak masalah. Batinku.


"Boleh Kak.. Sama Jojo? Dia dari tadi nunggu kita..". Irene berbicara dengan lirih, sambil melirik ke arah temannya yang duduk tak jauh dari kami. Gadis itu sedang sibuk memainkan hapenya.


"Kita berdua saja". Putusku. Aku tidak mungkin membawa Teman Irene bersama Kami, bisa- bisa Aku tidak menikmati liburan dadakanku ini.


"Baiklah, Saya bilang ke Jojo dulu ya Kak". Aku mengangguk. Irene segera berlalu dari depanku, dan menuju tempat duduk temannya. Mereka tampak berbincang, Aku melihat temannya itu melirik sekilas ke arahku.


Sembari menunggu kedua gadis itu berbincang, Aku membuka gugel, dan mencari tempat wisata romantis di Semarang. Aku melihat beberapa rekomendasi yang diberikan oleh mbah gugel. Akhirnya Aku memutuskan akan membawa Irene ke Kampung Laut. Ku rasa tempat itu yang paling cocok. Kampung Laut bagus dikunjungi saat sore hari, dan lagi jaraknya tidak begitu jauh.


45 menit perjalanan, akhirnya Aku dan Irene sampai di Kampung laut. Hari sudah menjelang sore.


"Kamu pernah ke sini?". Aku bertanya begitu kami turun dari mobil.


"Ayo kita pilih tempat yang bagus..". Ajakku.


Beberapa saat kemudian, Irene sudah menemukan tempat yang diinginkannya. Kami segera duduk.


Beberapa saat pelayan mendatangi gazebo tempat kami duduk, menanyakan akan memesan menu apa. Irene nampak antusias memilih makanan, Aku tersenyum melihat tingkahnya. Selesai memesan, sembari menunggu pesanan siap, Irene mengajakku untuk berfoto berdua.


Setelah sekian lama berinteraksi dengan gadis itu, ini kali pertama kami foto berdua. Lucu sekali bukan? Harusnya Aku memiliki banyak foto berdua dengannya. Ya harusnya.😁


Irene berpindah duduk, mendekat ke arahku. Dia mulai mengarahkan kamera depan hapenya ke arah kami. Timer kamera berjalan mundur. 5.. 4.. 3..


Grepp.. Aku meraih pundaknya, membuat dia lebih mendekat, Irene terlihat kaget, Dia menatapku dengan bingung sedang Aku menatapnya sambil tersenyum.


Cekrekk...!


Aku melepaskan rangkulanku, dan membiarkan Irene menjauh. Aku tersenyum puas begitu melihat hasil jepretan kamera. Benar- benar candid. Hehe.


"Kirim ke hape saya ya. " Ujarku, sambil tersenyum.


"Eh? Iya Pa.. Kak!". Irene meringis. Lupa akan memanggilku Pak lagi.


"Setelah nanti kita menikah, biasakan untuk jangan memanggil Bapak.. Saya jadi merasa tua sekali..".


"Hehe.. Lalu saya harus memanggil apa, Kak?". Irene bertanya. Dia sudah pernah memanggilku Sayang, harusmya dia memanggilku dengan kata itu selepas menikah nanti.


"Sayang.. Atau Mas..".


"Eh?". Irene tersenyum aneh. Sepertinya Irene tengah membayangkan memanggilku dengan kedua panggilan itu.


"Lalu Mas mau memanggilku apa?".


Aku melebarkan mata, terpana dengan panggilan Irene padaku. Tidak menyangka akan secepat ini.


"Emm.. itu..". Aku bingung akan memanggilnya apa, Aku pernah memanggil dia Sayang, tetapi terdengar gatal di telingaku. Ah apa yaa.. Di tengah kebingungan, pelayan menyelamatkanku. Pelayan tadi datang ke meja kami membawa satu nampan besar.


"Selamat menikmati makanannya ya Mas dan Mba". Pelayan meletakkan makanan pesanan Irene tadi di meja kami, kemudian berlalu.


"Ayo kita makan siang yang ke sorean ini, Kak !!". Irene tertawa kecil, kemudian segera mengeksekusi makanan di depannya. Aku tersenyum, dan mengikuti gadis itu makan. Selesai makan, Kami menikmati pemandangan sore hari di kampung laut, benar- benar indah sekali.


Ini kali pertama Aku berlibur bersama dengan seseorang yang Aku cintai. Sebelumnya Aku tidak pernah memikirkan berlibur, yang penting bagiku adalah Aku bekerja dan melakukan yang terbaik sebagai seorang Guru. Berlibur ke tempat yang biasa saja tidak pernah terpikir, apalagi ke tempat romantis seperti ini. Tetapi begitu mengenal Irene, dan takdir kami yang harus berpisah selama 4 tahun, membuatku berpikir bahwa Aku perlu menciptakan momen indah bersama Irene. Aku perlu membahagiakan diriku sendiri, tidak melulu tentang bekerja.


"Kenapa lihatin Irene terus Kak?". Irene menepuk tanganku yang berada di atas meja. Hal itu membuat Aku sadar dari lamunan.


"Memangnya tidak boleh?". Aku balik bertanya.


"Iya boleh sih.. Hehehe".


Setelah puas menikmati suasana yang indah dan mengambil beberapa kenangan berupa foto, kami meninggalkan tempat indah itu. Aku berharap, suatu hari, Aku bisa mengajak Irene untuk berlibur lagi, dengan status yang berbeda. Dia sebagai Isteriku.


.


.


Bersambung😘