360 DAYS

360 DAYS
loka wisata



Terimakasih atas dukungan dari pembaca untuk karya ini🥰


.


.


Lanjut ya😘


.


.


Aku menggandeng tangan Irene dengan erat. Hari libur kali ini, Aku sengaja mengagendakan jalan- jalan bersama Irene. Ibu hamil itu terlihat sangat senang.


Setelah tadi membeli beberapa makanan ringan dan gorengan, Aku mengajaknya masuk ke dalam tempat wisata. Loka Wisata Baturaden.


Loka wisata baturaden merupakan salah satu tujuan wisata yang berada di kabupaten Banyumas. Kabupaten tetangga. Sengaja Aku memilihnya karena memang lokasinya yang dekat dengan tempat tinggal kami sekarang. Rumah Nenek. Selain itu, karena Aku hanya punya waktu seharian ini. Tidak lebih.


Aku ingat waktu itu pernah menjanjikan liburan bulan madu pada Irene ke tempat yang jauh, tetapi kenyataannya sampai sekarang Aku belum bisa membawanya liburan ke tempat jauh. Maafkan Aku yaaa.


"Nanti kita naik sepeda air yaa.. Kayaknya seru mas...". Ucap Irene begitu dia melihat danau buatan yang lumayan luas, dengan sepeda air di sana.


"Iyaa.. apapun yang kamu ingin lakukan. Asalkan selalu hati- hati yaa..". Nasehatku.


Di hari libur, loka wisata ini sangat ramai. Maklum saja, biaya masuk terbilang murah. Hehe..


Di sini selain bisa menikmati wahana yang ada, kita juga bisa menikmati pemandangan salah satu gunung yang ada di jawa tengah, yaitu gunung slamet. Gunung itu berdiri dengan gagah di sebelah sana.


"Mas ayo...". Aku menjadi pegangan Irene, di saat dia akan menaiki sepeda berbentuk angsa. Aku segera ikut setelah bumilku itu duduk dengan tenang.


"Mas sini jajannya, biar Aku sambil makan hehe.. Mas yang ngayuh yaa" Ucap Irene tanpa merasa rikuh sedikitpun. Aku tersenyum melihat tingkahnya.


"Iyaa.. Makan yang anteng, biar mas yang kayuh ini sepeda angsanya".


Kami pun segera berlayar di tengah danau buatan, bersama beberapa pengunjung loka wisata. Hampir setengah jam Aku mengayuh sepeda air ini. Capek sudah pasti jangan di tanya. Tapi, demi Isteriku, apa sih yang tidak? Beberapa kali Aku menghentikan mengayuh, hanya demi mendengarkan cerita Irene.


"Capek nggak?". Tanyaku pada Irene, saat melihat peluh di keningnya. Irene tersenyum lebar, lalu menggeleng.


"Nggak Mas.. Makasih yaaa...". Ujarnya dengan tulus. Aku mengangguk dan mengelus puncak kepalanya dengan sayang.


"Habis ini kita duduk aja di gazebo yaa.. Nanti kalo sudah bosen kita pulang.."


Isteriku itu hanya mengangguk, kemudian mengikuti langkahku menuju salah satu gazebo yang tersedia di sini.


***


"Mas makasih yaa.. udah nyempetin bawa Aku jalan- jalan". Irene duduk di sisiku.


"Sama- sama, yang.. Maaf ya jalan- jalannya cuman ke tempat tetangga". Ucapku sambil meliriknya.


"Hehe.. Yang pentingkan quality time nya maas..". Aku tersenyum. Dia memang tidak pernah meminta yang muluk- muluk.


Aku kembali melanjutkan pekerjaanku membuat resume (rangkuman) pelajaran kelas 10. Irene memperhatikanku, sambil tangannya bergelayut manja di lenganku. Agak menyusahkanku mengetik di laptop, namun Aku senang dengan posisi ini.


"Istirahat duluan aja.. Mas tau kamu ngantuk.. Nanti mas nyusul..". Pintaku, begitu melihat dia menguap untuk kesekian kalinya.


"Hehe iya mas.. Irene duluan yaa..". Setelah mengecup pipiku sekilas, dia langsung beranjak menuju ranjang.


Aku mengendurkan kaku di lengan dan tengkukku.


Setelah merapihkan beberapa buku dan laptop, Aku segera menyusul Isteriku. Pergi ke alam mimpi.


Aku memperhatikan wajah teduhnya. Dia selalu cantik, dan bertambah cantik setiap harinya. Aku mengecup kening Irene dengan pelan, takut dia terbangun.


"sleep well, honey...". Bisikku di telinganya.


***


Aku melirik jam dinding ukuran super jumbo yang ada di kamarku. jam 03.00 . Seperti kebiasaanku dari gadis hingga usia senja ini, Aku bangun pukul 03.00 pagi. Setelah menikah, kebiasaanku masih sama. Suamiku juga ternyata memiliki kebiasaan yang sama. bahkan Suamiku biasanya akan membangunkan ku terlebih dahulu. Ah.. Aku jadi mengingat dia yang sudah tiada.


Aku menyeka sudut mataku, begitu mengingat dia, air mataku akan lolos tanpa dapat ku cegah.


50 tahun lebih kami bersama, melewati suka dan duka.


Aku meloloskan nafas berat. Mengingat dia hanya membuatku bertambah ingin bertemu.


Aku turun dari ranjang. Kurasakan pegal di pinggang dan lututku begitu tubuh ini ku gerakkan. Hal ini Sudah biasa tetapi makin hari sepertinya bertambah sakit saja ini tulang. Usia senja memang seperti ini.


Aku melirik kamar cucuku, Irene, Dia belum bangun. Aku melanjutkan langkah ke kamar mandi belakang. Mencuci muka, gosok gigi, kemudian berwudhu.


Inilah rutinitasku setiap pagi, bersujud dan memohon pada sang pencipta, agar diberikan kebaikan dan keberkahan hidup. Aku berdoa untuk kelapangan kubur suamiku, mendapat tempat yang terbaik di sisi Tuhan. Aku juga berdoa untuk kebahagiaan anak keturunanku. Untuk cucuku yang saat ini tengah mengandung cicitku. Aku berdoa untuk kesehatan dan kelancaran persalinannya.


Satu jam lebih Aku bersimpuh, mengadukan setiap rasa, terutama rasa rindu terhadap mendiang suami. Air mataku sudah turun dan membasahi mukena yang ku pakai.


Aku mengingat perjalanan ku dan suamiku. Pertemuan pertama kami, hingga akhirnya lelaki itu melamar dan menikahiku. Memberikan kebahagiaan walaupun hidup dengan sederhana. Membimbing dengan halus. Hingga akhirnya takdir Alloh memutuskan Kami harus terpisah.


"Aku ingin menyusul kamu, Kang" Lirihku.


Nduk..


hahh suara ituu?? Aku mendongak dan terpukau. Aku melihat suamiku tengah berdiri di hadapanku. Dia tersenyum padaku. Wajahnya berseri seperti mengeluarkan sinar putih. Tangan kanannya terulur, seperti mengajakku bersamanya.


"Kang, A..aku rindu kamu...". Aku merasakan suaraku bergetar. Air mataku kembali lolos. Suamiku hanya tersenyum dan mengangguk. Tangannya tetap terulur, menungguku meraihnya.


Aku mulai bangkit berdiri dengan perlahan. Aneh. Dimana rasa pegal sendiku? Lutut dan pinggangku tidak terasa sakit. Sungguh biasanya jika bangkit dari posisi duduk, rasa pegal akan menyerang.


Aku segera meraih tangan suamiku dan mengabaikan keanehan sakit sendi. Dingin. Tangan itu sangat dingin. Suamiku tetap tersenyum begitu Aku sudah meraih tangannya. Aku bahagia bisa memegang lagi tangan ini. Tangan yang dulu sangat kekar, tangan yang sangat berjasa dalam hidup ku dan anak- anakku.


"Ayo Mas.. Kita pergi...". Ajakku dengan perasaan bahagia yang membuncah.


***


POV Author:


"Mas.. Aku bangunin Nenek dulu ya.. Dari tadi belum bangun..".


"Iya, Biar kita sarapan bareng Nenek seperti biasa".


Ibu hamil itu meletakkan sayur tumis kangkung di meja makan, kemudian segera beranjak menuju kamar sang nenek.


Tok tok tok


"Nek?...". Irene memanggil Neneknya dengan suara lembutnya. Aneh.. Biasanya Nenek akan menyahut di panggilan pertama.


"Nek?". Irene mencoba memanggil lagi. Karena tak kunjung ada jawaban, Irene segera meraih gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Ibu hamil itu menyunggingkan senyum begitu melihat sang Nenek tertidur sambil duduk di gelaran sajadah, lengkap masih mengenakan mukena.


Irene berjongkok dan menepuk pundak Nenek pelan, agar beliau tidak kaget.


"Nek.. Irene sudah selesai masak sarapan.. Ayo...".


Hening. Tidak ada tanda dari sang Nenek.


Wajah ibu hamil itu berubah cemas. Dia memegang tangan sang Nenek. Dingin. Irene semakin cemas.


"Ne.. nekk.. Neneekkkk!!!!".


.


.


Bersambung😘