
Terimakasih atas dukungan pembaca sekalian untuk karyaku yaaa🥲
.
.
Lanjut😘
.
.
Acara doa bersama di hari ke tujuh meninggalnya Nenek, telah usai dilakukan. Semua keluarga berkumpul di ruang tamu rumah yang luas. Kini, diantara mereka tidak ada lagi sosok Ayah dan Ibu, Kakek dan Nenek yang dulu selalu menjadi pusat perhatian. Limpahan kasih sayang yang diberikan dua sosok itu begitu membekas di hati Anak dan cucu serta cicitnya.
Jumad, Anak tertua Kakek dan Nenek, memulai pembicaraan keluarga. Bukan soal harta yang dibicarakan, Dia hanya menasehati adik- adiknya untuk tetap tabah dan sabar atas kehilangan yang baru saja mereka rasakan, jangan juga lupa untuk selalu mendoakan Ayah dan Ibu, serta Kakek dan Nenek mereka.
"Bapak dan Mamak kita butuh doa dari kita...". Begitu kalimat terakhir yang diucapkan Jumad untuk keluarga besarnya.
Obrolan keluarga besar mengalir begitu saja, saling memberikan penghiburan.
Irene yang duduk didampingi suaminya, tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya sesekali tersenyum mendengarkan paman dan bibinya berbicara. Baginya kini, lengkap sudah. Nenek, sosok yang seperti Ibu baginya, sudah pergi. Dulu dia harus merasakan kehilangan Ayah dan Ibu, sekarang Kehilangan Kakek dan Nenek.
"Yang...".
"Eh?". Irene menengok untuk menatap suaminya. Dia melamun.
"Paman bertanya ke Kamu...". Irene beralih menatap keluarga besarnya. Mata mereka melihat ke arah Irene semua. Turut prihatin dengan Ibu yang tengah hamil muda itu.
"Ah iya Paman? Maaf Irene tidak mendengarkan..". Irene tersenyum kaku. Suaminya mengelus Lengan Irene dengan lembut. Memberi penguatan.
"Seperti perkataan Kakek, Rumah ini adalah hak mu.. Kamu bisa tinggal di sini.. Paman berharap, Kamu bisa menjaga tempat berharga ini untuk keluarga besar kita, Nak". Ucap paman Irene yang kedua.
Irene mengangguk. Rumah penuh kenangan ini akan dia jaga, selamanya.
"Irene pasti akan menjaganya, Paman..".
"Bibi tahu, kamu sangat kehilangan Nenek.. Kami juga semua sama Nak.. Jangan berlarut- larut ya.. Kamu sedang mengandung, Ibu hamil tidak boleh sering bersedih.. Paham kan?". Bibi Irma menasehati keponakannya. Dia sudah tujuh hari ini melihat keponakannya itu terlihat murung. Semua anggota keluarga mengangguk, setuju dengan nasehat bibi Irma.
Siapa yang tidak tahu, Irene adalah cucu yang paling dekat dengan Kakek Nenek, Kedua sosok itu seperti pengganti ayah dan Ibunya yang sudah tiada bertahun- tahun yang lalu, bahkan saat dia belum menginjak remaja. Wajar jika Irene merasa sangat kehilangan.
Obrolan keluarga besar berakhir tengah malam, jam 2 bahkan masih ada yang masih mengobrol. Beberapa pulang ke rumah masing- masing, dan beberapa lagi sudah menggelar karpet dan tidur di ruang tamu.
Irene sudah memasuki kamarnya pada pukul 10, meninggalkan keluarga besarnya yang masih mengobrol santai.
***
POV Rama:
"Belum bisa tidur?". Aku bertanya pada Isteriku, sejak tadi dia berbaring namun tak berhenti bergerak.
"Nggak bisa tidur Mas..". Jawabnya lirih. Aku membalikkan tubuhku untuk menghadap dia. Kemarin- kemarin, dia senang jika Aku mengelus perutnya. Mungkin kali ini bisa dicoba untuk membuat dia tertidur.
Aku mulai mengusap lembut perut isteriku. Irene melirikku dan tersenyum kecil. Senyum itu cukup mengobati rasa rinduku akan keceriannya yang hilang.
"Tidurlah.. Mas nggak akan berhenti elus- elus kok..". Ucapku. Dia mengangguk, kemudian memejamkan mata.
Beberapa menit Aku menunggunya tertidur, hingga kemudian ku dengar nafasnya mulai teratur.
"Sleep well, sayang...". Aku mengecup keningnya, kemudian menyusulnya ke alam mimpi.
***
Kami berada di kamar, terpisah dari keluarga Irene yang masih berada di rumah besar. Tadi Aku sempat mengajaknya keluar, namun dia tidak mau, dia mengeluhkan kakinya yang terasa pegal.
"Mas sudah izin, Ada guru yang menggantikan mas..". Ucapku.
Aku akan mulai berangkat saat kondisi isteri hamilku ini stabil, setidaknya senyum di wajahnya sudah kembali. Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian. Untuk mengajaknya tinggal bersama Ibu pun, Aku belum mendapatkan momen yang tepat. Biarlah nanti...
"Mas bisa kerja lagi.. Irene udah nggak papa.." Irene menatapku, mata itu seolah berusaha mengatakan bahwa Dia sudah baik- baik saja sekarang. Aku tersenyum.
"Mas akan bekerja jika sudah saatnya.. Mas lagi menikmati liburan hehee..". Irene menarik sudut bibirnya lebar, sampau menampakkan giginya.
"Masih pegel?" Tanyaku, tanganku sudah lumayan terasa kaku untuk memijit.😁
"Sudah nggak Mas.. Makasih yaa". Ucap Irene dengan tulus.
Setelah mengobrol banyak hal, Aku mengajak Irene keluar dari kamar. Menemui keluarganya, yang mungkin hari ini akan pulang ke rumah masing- masing.
"Bibi akan sering kemari.. Kamu baik- baik saja yaa.. Kalau mau, kamu bisa ke rumah Bibi". Pesan salah satu bibi Irene yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Nenek. Hanya beda RW.
"Terimakasih banyak ya Bii.. Irene pasti main". Aku merangkul pundak Irene, menemaninya mengantarkan Bibinya pulang. Bibi keluarga terakhir yang pulang hari ini. Suaminya tadi malam sudah pulang bersama anak sulungnya.
Suasana rumah menjadi sepi. Yaa.. beginilah suasana rumah jika jantung Rumah sudah tiada. Kini hanya Irene dan suaminya yang tinggal di rumah ini. Rumah sederhana namun sangat luas. Cita- cita Kakek yang ingin bisa menampung seluruh Anak dan Cucunya jika sedang berkumpul, sudah tercapai.
" Mas ke belakang dulu ya...".
Irene duduk di ruang tamu, Sedangkan Aku beranjak menuju belakang. Setelah selesai dengan ritual alam, Aku kembali ke ruang tamu. Namun, Aku tidak mendapati Isteriku di ruang tamu.
'Kemana dia?'. Batinku.
Mataku sekilas melirik ke arah kamar Nenek. Pintu itu sedikit terbuka.
Aku mendekati kamar Nenek, karena Aku yakin bahwa Isteriku ada di sana.
Aku membuka pintu kamar Nenek lebar- lebar, dan benar Isteriku ada disana. Dia tengah berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka. Dia tampak memindai barang- barang Nenek.
Aku tidak mendekat, dan hanya mengamati dia dari pintu. Aku tahu, Dia menyadari keberadaanku.
Irene mengambil sesuatu dari lemari. Ku tebak itu kain jarik (kain panjang, biasanya buat gendong anak kecil, kalo orang sepuh juga biasanya buat kemben atau rok). Irene mencium benda itu cukup lama, kemudian memeluknya. Dia sedang merindukan Nenek.
"Kamu bisa membawanya ke kamar kalau mau, Yang...". Aku memberinya saran. Aku sudah mendekat, dan berdiri di belakangnya.
Irene diam saja, dia masih memeluk jarik itu. Aku yang mengerti, berusaha menguatkan dia. Aku memeluknya dari belakang. Berharap Dia mengerti, bahwa dia masih mempunyai Aku yang akan selalu ada untuk dia dan anak kami kelak.
"Aku mau tidur di kamar Nenek mas...". Pinta Irene tiba- tiba. Aku mengangguk menyetujuinya.
"Iyaa.. nanti malam kita akan tidur di sini".
Suasana kembali Hening, Irene tidak berbicara, dan Akupun sedang fokus menikmati posisi pelukan ini.
.
.
Bersambung😘