
Terimakasih atas dukungan pembaca semua untuk karya ini. this novel is nothing without reader🙃
.
.
Lanjut yaa😘
.
.
POV Ibu:
"Ini sudah semua, Bu?". Tata meneliti barang bawaan yang diletakkan di bagian depan motornya.
"Iya sudah semua.. Ayo nak". Aku segera menaiki motor yang dikendarai menantuku.
Sejak kemarin, entah mengapa, Aku merasa sangat merindukan Irene, menantuku. Setelah anakku memutuskan untuk tinggal bersama di tempat Irene, Aku merasa kesepian. Yaa, Aku terbiasa ditemani oleh menantuku itu sebelumnya. Jadilah kemarin Aku menelpon Tata, untuk mengantarku ke rumah Irene.
"Ini nanti belok kemana Bu?".
"Belok kanan".
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam, karena Aku meminta Tata membawa motor dengan santai, asal selamat sampai tujuan.
Aku segera turun dari motor. Pintu rumah tertutup, mungkin menantuku itu sedang tidur. Aku mengambil barang bawaanku yang berada di depan motor, dibantu Tata.
Aku membawakannya beberapa buah yang masih asam, dan camilan kue kering.
Tok tok..
"Assalamu'alaikum... Nakk... Ini Ibu..". Aku berdiri dengan tenang, menunggu Irene membuka pintu.
"Apa tidak sebaiknya Ibu telpon Irene saja?" Saran Tata. Ah iya, bisa juga saran Tata.
Aku mengambil hape jadul dari tas jinjingku. Aku menekan nomor Irene, beberapa kali Aku mencoba, namun tidak diangkat.
"Apa mungkin dia sedang pergi?". Aku bertanya sendiri.
"Tetapi kata Rama, irene ada di rumah". Monologku.
"Mertuanya Irene ya?".
Aku mendongak dan melihat ke gerbang, di sana ada Ibu- ibu yang sepertinya tetangga Irene. Aku berdiri dan menghampiri Ibu itu.
"Iya betul Bu.. Mohon maaf, Apa ibu tahu menantu saya dimana?". Tanyaku dengan sopan.
"Setiap pagi, kalau suaminya berangkat, Dia selalu ke makam orang tua dan Kakek Neneknya Bu.. Itu yang saya tahu..". Ucap Ibu itu. Aku sedikit kaget.
"Ke Makam?". Tanyaku lagi.
"Iya Bu.. beberapa tetangga juga sempat lihat dia jalan ke sana.. pulang menjelang siang..". Jelas Ibu tadi.
Dia jalan Kaki, ke makam yang jaraknya jauh? Apakah Rama setega itu membiarkan Isterinya berjalan Kaki? Astaghfirulloh.. Aku mengelus dadaku.
"Oh iya Bu.. terimakasih ya Bu.. Biar saya susul Irene ke sana.."
"Sama- sama Bu.. Saya kasihan sama anak itu Bu.. Dari kecil sudah kehilangan Orang tua, sekarang kehilangan Kakek dan Nenek.. Saya yang tahu dia sejak kecil sudah sama Kakek Neneknya.. Pasti sangat terpukul sekali Dia..". Terang Ibu tetangga berempati. Aku turut sedih mendengarnya, Yaa Aku tahu kenyataan Irene yang sudah yatim piatu. Mendengarnya dari mulut tetangga yang menyaksikan kisah Irene, membuatku merasa sedih.
Setelah Ibu tetangga Irene pergi, Aku menemui Tata dan meminta menantuku itu menjemput adik iparnya.
***
POV Tata:
Aku mengikuti arahan dari tetangga Irene yang kebetulan ku temui di jalan.
Iparku itu memang berbeda dari Mba Hana, Mungkin karena umurnya yang terpaut cukup jauh denganku, Aku merasa dia seperti Adikku sendiri. Beberapa kali kami mengobrol sangat dekat. Dia bahkan pernah bercerita masa- masa SMA nya, saat menyukai Rama, adik suamiku.
Lucu sekali kisah mereka menurutku.
Setelah melihat kesana kemari, dan berjalan masuk ke dalam makam cukuo jauh, Akhirnya Aku melihat sosok Irene. Dia tengah duduk, memeluk kakinya yang menekuk. Sungguh miris sekali melihatnya seperti itu. Dia Ibu hamil, harusnya tidak begini keadaannya.
"Irene?". Aku memanggilnya. Di berjengit kaget, kemudian menengok ke belakang, tempatku sekarang berdiri. Matanya membola melihatku yang ada di belakangnya, Aku sedih melihat kondisinya yang seperti itu. Wajah sembab, rambut yang menempel di wajah akibat air mata yang mengering.
Irene berdiri, dan tersenyum kaku.
"Mba Tata?". Tanyanya dengan suara serak.
Aku mengambil tisu basah yang ada di tas jinjingku. Memberikan pada Irene. Dia menerima tanpa berucap sepatah katapun.
"Mba datang sama Ibu, tetapi kamu tidak ada di rumah.. kata tetangga kamu ke makam.. jadi mba susul kemari..". Jelasku panjang lebar.
"Mas Rama?". tanyanya dengan suara lirih, sambil menatapku. Aku melihat ekspresi khawatir. Aku menggeleng.
"Dia belum pulang". Mendengarku, dia menghembuskan nafas lega.
"Mbaa...". Irene meraih tangan kananku. Aku menatapnya.
"Jangan bilang ke Ibu dan Mas Rama soal ini yaa... Bilang tadi Mba lihat Aku ketiduran.. tolong mbaaa...". Mata Orene berkaca- kaca demi memohon kepadaku.
Aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya Aku hanya mengangguk.
"Terimakasih mbaaa". Ucapnya dengan tulus.
Bagaimana mungkin Aku akan membiarkan kondisi Ibu hamil ini tetap sedih seperti itu? Jika Aku membiarkan, sama saja Aku membiarkan calon keponakanku me derita bahkan sejak dalam kandungan.
Baiklah.. Aku akan mengatakan pada Ibu, tetapi tidak di hadapannya. Semoga Ibu dan Rama bisa menyelesaikannya tanpa membuat Irene semakin tertekan. Aku bermonolog dalam hati.
***
POV Author:
Tata membiarkan iparnya membersihkan wajah, sembari menunggu sembab di wajahnya sedikit berkurang.
"Hidup dan mati itu sudah tertulis, Ren.. Kita sama- sama menunggu waktu yang ntah kapan". Tata duduk bersebelahan dengan Irene. Iparnya mendengarkan dalam diam.
"Saat kita kehilangan orang yang kita sayangi, kunci pertama itu ikhlaskan.. Ada hikmah dibalik semua kejadian.. Coba kamu lihat kebelakang, ada siapa saja sekarang di belakang kamu, yang mendukung kamu?"
Ujar Tata lagi. Tata pernah merasakan kehilangan itu. Hanya saja bukan orang tua, tetapi Kekasih yang sangat dia cintai di masa itu. Namun dia mengikhlaskan, kemudian pada akhirnya dia mendapat pengganti seorang yang jauh lebih baik, suaminya sekarang.
"Ada suami yang selalu mendukung kamu saat ini Ren, Karena Alloh tahu, Kamu sudah mempunyai punggung penguat, jadi Alloh ambil Kakek dan Nenek.. Sudah saatnya mereka beristirahat.." Tata mengusap punggung Irene. Berusaha sedikit memberi pengertian dan penguatan.
"Terimakasih mba nasehatnya.. Irene belum bisa benar- benar ikhlas atas kepergian Kakek dan Nenek.. Mereka berharga untuk Irene...". Ungkapnya sedih. Sudut matanya mulai berair.
"Ada yang saat ini lebih berharga Ren...". Irene melirik kakak iparnya, sementara Iparnya tersenyum menenangkan.
"Bayi kalian saat ini yang paling berharga, Di butuh kasih sayang sejak saat ini, Dia memang baru sebesar biji, tetapi Dia sudah mengerti bagaimana perasaan Ibunya.. Dia sedih jika Ibunya bersedih, Dia senang saat Ibunya senang...".
Irene berkaca- kaca mendengar perkataan Tata. Suaminya pernah mengatakan hal itu, dan dia? Sangat keras kepala!
"Maaff.....". Irene berucap lirih, air matanya luruh. Dia mengelus perut rata nya. Merasa sangat bersalah.
"Jangan bersedih lagi yaa". Hibur Tata.
.
.
Bersambung😘