360 DAYS

360 DAYS
Tanpa dia



Terima kasih untuk yang sudah membaca dan memberikan dukungan.. jangan lupa like, dan tinggalkan komentar yaa🥰


.


.


Lanjut🙃


.


.


Aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku merasa lelah sekali hari ini. Aku mengambil kembali ponsel di saku. Aku menyalakan hape, dan langsung saja seraut wajah Ayu menyapaku. Yaa.. Aku tidak sempat membuka hape setelah tadi di saung Aku mengutarakan niatku pada Laila.


"Bagaimana Kabarmu?". Aku berbicara sendiri, menatap foto di hape ku.


3 Tahun lebih atau hampir empat tahun sudah berlalu, Dan kesalahpahaman itu tidak pernah Aku luruskan. Aku mengingat kembali kejadian bertahun yang lalu, saat acara kelulusan Irene di aula sekolah. Keputusanku untuk tidak mengejar Irene dan menjelaskan semuanya di hari itu juga, merupakan kesalahan terbesar yang Aku sesali hingga saat ini.


Yaa.. sejak hari itu, hampir 4 tahun lamanya sudah, Anak itu, ah bukan lagi, Dia bahkan sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Gadis itu memutuskan jalur komunikasi antara Kami. Dia mengganti nomor hapenya.


Bukan hanya itu, Dia pergi sehari setelah acara, bahkan tanpa berpamitan padaku, meninggalkan Aku di sini dengan perasaan bersalah. Yang baru Aku tahu adalah, saat di hari Aku menunggu dia di rumah kakeknya selama tiga jam, ternyata dia pergi ke rumahku, pamit pada Ibu. Aku baru tahu setelah seminggu Irene pergi. Ibu tidak bercerita padaku secara detail, hanya mengatakan bahwa Irene pamit pada Ibu bahwa esok dia akan pergi memulai pendidikannya di kota yang jauh.


Aku bisa saja menjadi gila dengan menyusulnya ke Semarang menjelaskan kesalahpahaman bahwa berita mengenai pernikahanku tidaklah benar, namun, itu tidak Aku lakukan. Saat itu Aku berharap bahwa Irene akan mengerti dan tahu dengan sendirinya, apakah berita itu benar adanya atau tidak.


Akhirnya Aku melanjutkan hidupku. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa, semua baik- baik saja. Kenyataannya, Aku menjalani hariku dengan dipenuhi bayangan Irene. Senyumnya yang malu- malu sungguh membuat gila.


Selepas kepergian Gadis yang diam- diam mengisi relung hati, Ibu menjadi lebih over memaksa padaku. Pertemuan pertama kali dengan Laila, berlanjut dengan pertemuan- pertemuan selanjutnya, dan itu sudah diatur oleh Ibu.


Jujur Aku tidak mengerti dengan Ibuku sendiri, Aku menaruh hati pada Irene itu karena Ibu. Ibu yang memaksaku, mengatasnamakan Irene yang seorang anak yatim piatu sehingga Aku harus berempati pada dia. Apakah Ibu tidak memikirkan, bagaimana perasaan anak nya ini, ketika harus dekat dengan seorang gadis?


Ketakutanku menjadi kenyataan, tunas tumbuh di hatiku. Lalu apa yang malah Ibu katakan? Aku harus menganggap Irene adik? Hhhh benar- benar lucu sekali. Kini dengan Laila pun sama, Aku harus melakukannya karena Ibu. Ibu ingin Aku menikah, Aku malah berpikir tidak akan menikah saja jika seperti ini.


'Menikah bukan keputusan yang bisa dipaksakan, seperti halnya perasaan'. Batinku.


***


Seperti pagi sebelum- sebelumnya, Aku berangkat bekerja setelah menyelesaikan sarapanku. Hari ini Aku merasa lebih ringan dari sebelumnya, Aku sudah tidak memikul beban tentang Laila. Aku berharap Laila pun sama, Dia terbebas dari beban juga. Ya, berhubungan dengan orang yang tidak memiliki perasaan yang sama bukan kah itu sebuah BEBAN?.


Aku akan menjalani hari- hariku dengan bahagia. Ya, itu yang akan aku lakukan. Hanya saja, Aku masih punya satu tugas penting, yaitu membuat Ibu menerima keputusanku, dan membuat Ibu tidak memaksakan kehendaknya.


Aku ingat, saat sarapan bersama pagi tadi, Ibu sama sekali tidak berkata apapun padaku, Beliau mengajak bicara semua orang, kecuali Aku. Kakak dan Iparku yang sudah mengetahui apa yang terjadi, hanya bisa diam.


Aku memasuki kantor dengan senyum tersungging di bibirku, Aku menyapa semua rekan kerjaku, dan mereka balik menyapaku. Aku melihat jadwal mengajar yang ku tempelkan di meja, kemudian mengambil presensi dan bahan ajar. Aku segera melangkahkan kakiku menuju kelas 10A yang berada di lantai dua.


Aku memasuki kelas, suara dengungan yang tadi terdengar, berhenti ketika kakiku mulai menapak di pintu kelas.


"Assalamu'alaikum, apa kabar semuanya?". Aku menyapa muridku, dan duduk di kursi kebesaran.


"waalaikumsalam, baik pak..". Mereka menjawab serempak. Aku mengabsen satu persatu nama muridku. Setelah selesai, Aku mulai pembahasan materi, melanjutkan materi sebelumnya yang belum selesai.


Saat memasuki kelas ini, Aku seperti melihat kembali Irene di antara mereka semua. Terutama saat dia tersenyum, dan tanpa sedetikpun melepaskan pandangan matanya dariku. Aku pertama kali menganggapnya aneh, namun sekarang, Aku bahkan sangat merindukannya.🥲


'Bagaimana Kabarmu hari ini?'


***


"Selamat ulang tahun Pak Rama Arkana...". Aku terkejut begitu memasuki kelas 11 disambut dengan bunyi terompet dan ucapan selamat dari murid- muridku. Aku bahkan tidak mengingat jika hari ini adalah ulang tahunku. Yang Aku ingat adalah hari ini Aku masih tanpa dia. hhh...😌


"Terima kasih semuanya.. Bapak sangat terharuu". Aku mengusap sudut mataku. Aku tersenyum pada semuanya. Sebuah kue ulang tahun kecil sudah diletakkan di meja guru, mejaku. Aku duduk di kursiku, dan muridku masih mengerubungiku. Salah seorang dari mereka memberikan sebuah pisau. Aku memotong kue kecil itu.


'ini untuk seseorang yang jauh di sana'. Batinku. Kemudian Aku memotong sisa kue itu menjadi beberapa bagian.


"wahh Ini kue nya kurang besar, jadi kalian kongsi yaa...". Aku melawak. Murid- muridku tertawa mendengar lawakanku.


Hari ini Aku tidak jadi mengajar di kelas ini, hanya bercerita banyak hal pada mereka. Selain mendapatkan kue, Aku juga diberi sebuah hadiah oleh muridku. Entah apa isinya, yang jelas Aku sangat berterima kasih.


Kejutan dari mereka mengingatkanku pada usiaku yang kini sudah 31 tahun. Di usia ini, Apakah Aku hanya akan seperti ini terus? Masih tidak memiliki keberanian menjemput dia? hmmhhh...


Bel tanda selesainya sekolah sudah berbunyi dengan nyaring, tidak ada kegiatan di sekolah untuk guru- guru selepas bel pulang. Aku bersiap untuk pulang ke rumah. Aku melirik hadiah yang tadi diberikan muridku. Aku memasukkannya di dalam tas. Aku berniat membukanya di rumah nanti.


Aku memacu motorku meninggalkan gedung sekolah. Beberapa menit berlalu, Aku sudah sampai di rumah. Aku memarkirkan motor di garasi.


Aku memasuki rumah, Aku sedikit kaget mendapati Ibu yang sudah berdiri menyambutku di Ruang tamu.


"Ibu mau mengatakan sesuatu, ganti baju dulu dan temui Ibu di ruang tengah". Ibu berbicara tanpa ekspresi, dan segera berlalu begitu selesai memberikan perintah. Aku mengambil nafas, entah mengapa rasanya udara begitu susah masuk ke dada.


Aku berganti baju, dan segera menemui Ibu di ruang tengah. Aku duduk di hadapan Ibu.


"Ibu mau mengatakan apa?". Setelah seminggu lebih Ibu mendiamkanku, Ibu akhirnya mau berbicara padaku, namun entah mengapa Aku menduga Ibu akan mengatakan hal yang berat.


"Bawa gadis itu ke hadapan Ibu". Ibu berkata. Aku terkejut, dan tidak mengerti maksud Ibu.


"Maksud Ibu apa?". Aku bertanya, butuh penjelasan.


"Bawa Irene ke hadapan Ibu, biar Ibu bertanya bagaimana perasaannya sekarang pada kamu.. Jangan sampai perasaan itu hanya angan- anganmu saja, yang membuat kamu bahkan tidak mau menikah sampai sekarang". Ucap Ibu sejelas mungkin.


Aku terpaku mendengar perkataan itu.


.


.


'apakah benar ini hanya angan- anganku saja?'.


.


.


Bersambung😘