
Terimakasih untuk yang sudah berkenan membaca dan mendukung karya ini selalu💋💋
.
Lanjut ya😘
.
.
Dua hari setelah wisuda, Irene kembali ke XXX kampung halamannya. Dua hari di Semarang dia gunakan untuk berpamitan pada teman- temannya yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan, sekaligus mengurus beberapa hal di fakultas.
Pagi ini, Irene sedang berkemas dibantu oleh teman baiknya, Jojo.
"Yah Aku kesepian deh Beb nggak ada Kamu..". ucap Jojo, masih sambil merapihkan beberapa baju Irene.
"Kenapa nggak pulang aja? Kan tinggal nunggu wisuda.. Lama juga ada berapa bulan kan..". Saran Irene.
"Penginnya gitu, tapi Aku sudah minta kerja di tempatnya sepupu". Jojo tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya.
"Lha itu malah bagus Jo.. Aku selepas ini pengin juga tu kerja di kantor notaris..". Curhat Irene.
"Trus kalo kamu kerja suami kamu gimana?". Jojo menghentikan tangannya bergerak. Dia menatap teman baiknya yang tampak sedang berpikir.
"Aku belum tahu, Jo.. Semoga saja nanti Pak Rama mengizinkan Aku bekerja". Irene tersenyum. Membayangkan dirinya berumah tangga, menjadi isteri mantan Guru SMA nya. Dia dulu memang berharap bisa dicintai oleh Lelaki itu, namun untuk menikah, rasanya itu khayalan yang terlalu tinggi. Namun takdir berkata lain, nyatanya khayalan itu jadi kenyataan.
"Pas lamaran, Kamu datang yah Jo.. Aku pengin ada sahabat di sampingku.. nyaksiin salah satu acara sakralku". Irene menatap Jojo penuh harap.
"InsyaAlloh Aku datang, Beb..". Jojo menjawab sambil tersenyum.
Kedua gadis itu kembali merapihkan barang- barang Irene, setelahnya mempaking supaya mudah untuk dibawa.
***
"Waalaikumsalam, Mas..".
"....."
"Iya ini baru selesai paking barang.. Jam berapa?.. Oh iya Mas. Hati- hati yaa..".
Irene menutup panggilan. Dia melirik sekilas ke wadah barangnya yang sudah tertata rapih, siap diangkut.
"Dari calon suami?". Tanya Jojo yang sedang berbaring di Kasur Irene sambil memainkan Hapenya.
"Iya, mau jemput ini.. Aku siap- siap dulu ya Jo".
"Iya sana, mandi terus dandan yang cantik. hehehe" Jojo tertawa meledek Irene. Sementara Irene hanya tersenyun menanggapi ledekan Jojo.
Setelah selesai bersiap, Irene menunggu kedatangan Rama di teras kos bersama Jojo. Waktu berlalu, Seseorang yang ditunggu akhirnya datang. Lelaki itu datang naik mobil milik Kakak sulung.
"Barangnya masih di dalem, Mas.. Berat..". Irene meringis, mengkode calon Suaminya untuk mengeluarkan barang- barang miliknya.
"Iya biar Mas yang bawa, dimana kamar kamu?". Rama membuntuti Irene masuk ke dalam Rumah Kos. Sopir yang tadi mengemudi turut membantu membawakan barang milik Irene.
"Terimakasih ya Mas.. Aku pamit sama Jojo dulu bentar..".
Irene meninggalkan Rama yang sudah memasuki mobil. Gadis itu memeluk erat sahabat yang sudah 4 tahun menemaninya, suka duka bersama, saling menghibur dan menguatkan.
"Hati- hati yah Beb.. Nanti kalo sudah sampe, kabarin Aku..". Jojo berkata sambil mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya. Begitupun Irene. Walaupun mereka akan bertemu lagi, namun keduanya tak bisa membendung rasa kehilangan yang mencuat begitu saja.
Irene melambaikan tangannya pada Jojo, begitu mobil sudah mulai meninggalkan halaman rumah Kos.
***
Iringan 3 mobil lamaran meninggalkan Halaman rumah Rama begitu semua yang akan ikut telah menaiki mobil.
Sementara itu di kediaman keluarga Irene, semua tampak sudah siap menyambut tamu.
"Ma, ini untuk makan keluarga Pak Pram cukup tidak ya..". Nenek yang seharusnya duduk dengan tenang di ruang tamu bersama Kakek, malah terlihat gelisah. Dia menanyakan kecukupan makanan untuk menjamu keluarga calon cucu-mantu nya kepada Irma, anak perempuannya.
"Cukup Bu.. di dalam juga masih ada.. Sudah Ibu ke Ruang tamu saja sama Ayah.. Biar Irma sama Ning yang ngurus..". Sebagai Anak sulung, Irma merasa dirinya yang harus bertanggung jawab atas keponakannya, Irene. Lagi pula, Dia tidak ingin Ibu dan Ayahnya yang sudah berusia lanjut itu kelelahan. Dia ingat dulu, Dialah yang dititipi untuk menjaga dan merawat Irene oleh adik bungsunya.
"Ning, Mba mau ke kamar Irene dulu ya..".
"Iya mba".
Irma berlalu meninggalkan ruang tengah, dia menuju kamar keponakannya.
"Irene..". Bibi Irma memasuki kamar, dia melihat keponakannya sedang dikerubungi 2 temannya. Dia tersenyum melihat keponakannya, yang baru ia sadari, ternyata sudah sebesar itu. Dia ingat, waktu itu Irene masih berusia 12 Tahun saat dirinya membawa Irene ke Rumah untuk dirawat.
"Kamu cantik sekali, Nak..". Irma duduk di samping keponakannya. Jojo dan Fifi yang tadi duduk di sebelah Irene, beringsut memberi ruang untuk Bibi Irene itu.
"Terimakasih, Bi.." ucap Irene.
"Tidak terasa, seperti baru kemarin Bibi ngajak kamu ke Rumah, eh sekarang udah gede aja Kamu..". Bibi mengelus pucuk kepala Irene dengan sayang. Irene tersenyum menerima perlakuan dari Bibinya itu.
"Nanti keluar ya, kalau calon suamimu sudah datang, bibi mau jaga makanan dulu, mbok dirampok kucing.. hehe". Bibi berseloroh, membuat 3 gadis yang berada di kamar tertawa kecil.
"Iya bi.. Terimakasih ya Bi, sudah mau direpotkan oleh Irene". Irene memeluk bibinya sebelum beranjak.
"Bibi tidak merasa repot, Nak.. Sudah tugas Bibi..". Irma mengelus pucuk kepala Irene lagi, sebelum benar- benar beranjak dari kamar keponakannya itu.
***
Acara lamaran berjalan dengan lancar, cincin yang tempo hari dipilih oleh Irene sudah melingkar di jari manisnya. Gadis itu sejak tadi terlihat tersenyum, begitupun dengan Rama. Beberapakali mereka mencuri- curi pandang, dan tersipu malu saat tak sengaja tatapan mata mereka bertemu.
"Kaya remaja pertama jatuh cinta kamu tuh, Beb.. Senyam senyum terus kayak gitu..". Jojo menyenggol lengan sahabatnya, kemudian berbisik pelan.
"Ish. Kan emang pertama Jo..". Irene balas berbisik.
"Sudah lah, sana kamu ikut makan kayak yang lain.. Tuh Fifi aja udah nambah..". Irene melirik ke arah Fifi yang duduk bersama Raka, sepupunya, tak jauh dari mereka.
"Ya ayok kamu juga.. Biar ada kerjaan, daripada lirik- lirikan gitu sama Pak Rama..". Ajak Jojo.
"Iya iya.. Ayok..". Kedua gadis itu mendekati meja prasmanan, mengambil nasi dan lauk, kemudian nimbrung bersama Fifi dan Raka yang hampir menghabiskan makanan di piring masing- masing.
Hari pernikahan sudah ditentukan dan disepakati dua belah pihak, tepatnya tanggal 20 Oktober 2018 nanti. Menurut Kakek Irene, lebih cepat lebih baik, Karena jika terlalu lama menunggu sah ditakutkan akan terjadi fitnah. Lagipula, keluarga Rama juga menginginkan pernikahan bisa dilakukan sesegera mungkin, jika bisa malah beberapa hari setelah lamaran. Hehe..
"Selamat ya Pak.. Semoga lancar sampai hari H..". Raka, sepupu Irene yang sudah menyelesaikan makan, menghampiri Rama, guru Matematikanya, dan duduk di sampingnya.
"Terimakasih, Raka..". Responnya. Kedua Lelaki beda usia dan status itu kemudian mengobrol santai, terutama tentang gadis yang saat ini sedang bercanda dengan 2 orang temannya, padahal sedang makan.
Rama tersenyum begitu melihat Irene yang tak sengaja menatapnya.
.
.
Bersambung💋