360 DAYS

360 DAYS
Apakah masih berlaku?



Terima kasih untuk yang sudah membaca dan memberi dukungan untuk karya ini. Always like and comment yaa🥰🙏


.


.


Lanjut😘


.


.


Pov Rama:


"Bagaimana perasaanmu ke saya, Ren?". Aku menahan nafas beberapa saat demi mendengar dia memberikan jawaban.


"Bagaimana dengan Ibu dan Mbak Laila?". Dia balik bertanya. Aku menghembuskan nafas dengan sedikit kekecewaan.


hmmhhh... Ku kira tadi dia akan menjawab bahwa dia masih menyukaiku.


"Kenapa dengan Ibu? Beliau sangat menyayangimu. Dan Laila, Bagaimana kamu tahu dia?". Aku ingin tahu Dia tahu Laila dari mana, selama ini mereka bahkan tidak pernah saling bertemu. Apa dia diam- diam selama 4 tahun ini mengintaiku? ahhh.. hihiiii... Aku tersenyum sendiri memikirkan dugaanku.


"Sebaiknya kita makan dulu, Kak.. Irene lapar.. Hehee".


'Dasar gadis inii.. Mau mengalihkan pembicaraan?'. Aku menggerutu dalam hati.


"Ehmm.. Baiklah.. Kita makan dulu..". Aku mencuci tangan di mangkok berisi air yang tersedia, kemudian mulai menyuapkan makanan yang tersaji ke dalam mulut. Aku memperhatikan Irene. Dia masih malu- malu seperti dulu.


'Dia bilang tadi datang bersama sahabatnya, dimana sahabatnya itu?'. Aku mengedarkan pandanganku, hingga Aku bisa menangkap sosok di pojok saung yang lain.


'Jadi mereka tadi memata- mataiku dulu dari sana? Hehe'. Aku tersenyum memikirkan tingkah mereka, pasti Gadis ini pikir bukan Aku yang mengiriminya pesan.


"Temanmu tidak memesan makanan?". Aku bertanya di sela- sela makan.


"Eh?". Irene mendongak. Dia sedang mengunyah. Dia menengok ke arah sahabatnya. Dia memberikan kode ke gadis di ujung sana.


"Sudah kak.. Dia lagi nunggu makanannya..". Irene berkata padaku, setelah kode- kode dengan Fifi selesai.


"Ohh iya..".


Aku segera menghabiskan makananku. Setelah selesai, Aku mengambil ponsel di saku. Aku sengaja memotret Irene yang sedang mengunyah makanan. Dia imut sekali. Hehe..


"Pak Rama sedang motoin saya?". Irene menyadari tingkahku. Dia kemudian menutup mulutnya dengan lengan.


Cekrekk!!


Aku mengambil kembali potretnya yang sedang menutup mulut karena malu. Aku tertawa melihat hasil jepretanku.


"Hapus lah kak.. jelek pasti..". Irene memprotes.


"Kamu cantikk". Aku menatap dalam matanya, mata itu menatapku juga. Mungkin kaget dengan kalimatku barusan.


"Selesaikan makanmu, kita selesaikan obrolan kita yang tadi". Perintahku.


Irene kembali makan, beberapa kali matanya melirikku, sepertinya dia takut Aku memotretnya kembali. Aku hanya tersenyum. Beberapa menit kemudian, dia sudah menyelesaikan makannya. Aku memberikan tisu agar dia bisa membersihkan sudut bibirnya yang terdapat noda saus.


"Terimakasih kak". Irene menerima tisu dariku.


"Kenapa dengan Ibu, dan bagaimana kamu tahu tentang Laila?". Aku kembali bertanya. Irene tampak berpikir.


"Hari itu.. Saya bertemu dengan Ibu, dan...". Gadis itu menjeda ucapannya, membuat penasaran saja.


"Dan??". Aku bertanya tak sabar.


"Benarkah?". Irene mengangguk pelan.


"Apa yang Ibu katakan pada kamu?!!.". Aku bertanya dengan nada sedikit keras. Aku ingin tahu, apa Ibu mengatakan hal yang tidak- tidak pada gadis ini. Irene berjengit. Dia tampak takut.


"Ah maaf..". Aku meminta maaf menyadarinya. Aku melihat gelagatnya. Dia seperti ragu hendak mengatakan sesuatu.


"Katakan saja.. Tidak apa- apa.. Jujurlah, cukup dulu kesalahpahaman terjadi, Tidak sekarang..". Aku memohon.


"Em.. Waktu itu Ibu bertanya bagaimana perasaan Irene ke Pak Rama.. Dan Ibu mengatakan kalau selama ini perhatian itu karena Ibu yang meminta.. Ibu juga bilang kalau Irene adalah adik yang begitu disayangi.. soal Mbak Laila.. Ibu bilang dia calon Isteri Kakak.. Kalian akan segera menikah..". Irene berhenti.


"Seperti itu saja?". Aku bertanya. Dia mengangguk.


"Kenapa kamu pergi tanpa mengatakan apapun, Ren? Apa hanya karena kata- kata Ibu itu?".


Ibu selama ini mengerti bagaimana perasaanku pada Irene. Aku tidak pernah menganggapnya adik, walaupun awalnya itu yang Aku pikirkan. Namun seiring waktu berlalu, perasan itu berubah. Harusnya Ibu mengatakan yang sebenarnya, dan tidak perlu berkata seperti tadi pada Irene. Aku jadi kesal dengan sikap Ibu.


Aku ingat permintaan Ibu untuk membawa Irene ke hadapannya. Aku jadi takut Ibu akan meminta Irene pergi. Tidak !! itu tidak boleh terjadi. Baiklah, nanti Aku akan menemani Irene saat mengobrol dengan Ibu. Putusku.


"Waktu itu Irene sakit hati.. Jadi tidak bisa berpikir panjang, Lagipula Irene tidak tahu kalo Pak Rama suka sama Irene.. Waktu itu Bapak nggak pernah bilang apa- apa.. Irene pikir perkataan Ibu benar..". Gadis itu menuduk, dari nada suaranya, Aku bisa merasakan jika dia sedang protes padaku.


"Maaf untuk itu..". Hanya itu yang bisa Aku katakan. Maaf.


"Lalu siapa Lelaki yang kemarin mengantarmu?". Ini salah satu pertanyaan lain yang begitu ingin ku tanyakan pada dia, sebelum Aku menanyakan kembali bagaimana perasaan gadis itu padaku saat ini.


Irene mendongak mendengar pertanyaanku.


"Dia alumni kampus Irene, Kak..".


"Maksudnya bagaimana hubungan kalian?". Tanyaku tak puas dengan jawabannya tadi.


"Hanya teman..". Jawab gadis itu.


"Lalu mengapa dia berkata seperti itu di hadapan Nenek?". Itu merujuk pada kata- kata Lelaki itu yang hendak mengatakan bahwa dia akan mengatakan keseriusannya pada Irene. Aku mengetatkan gigiku. Geram dengan tingkah Lelaki yang baru ku lihat pertama kali. Sebenarnya Aku geram, karena Aku belum pernah mengatakan kalimat sejantan itu di hadapan Kakek Nenek Irene. Hmmm...


"Saya juga tidak tahu, Pak.. Benarr...". Dia mengatakan dengan sungguh- sungguh. Aku mengangguk. Baiklah, Aku mempercayainya.


"Lalu bagaimana perasaanmu ke saya, Ren? Apakah perkataanmu saat saya di rumah sakit waktu itu masih berlaku??". Aku menatapnya dalam. Aku sebenarnya ingin meraih kedua tangan Irene. Namun gadis itu menguasai tangannya sendiri. hhh... Irene tampak sedang mengingat sesuatu, matanya membola dan dia segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sepertinya dia sudah ingat saat itu. Pipinya tampak merona. Ahh bocah ini menggemaskan sekali. Eh? Hehehe..


"Itu.. Jadi bapak mendengarnya?". Irene bertanya malu- malu. Aku mengangguk. Aku waktu itu tersadar juga setelah mendengar kalimat Irene. Namun begitu sadar, malah Dia tidak ada di tempat.


"Saya mendengarnya, Ren.. Apa kamu menyukai saya?". Irene mengangguk pelan, Aku bisa melihat wajahnya yang semakin merona. Aku merasa puas dengan jawaban Irene, walaupun hanya berupa anggukan kepala.


"Kamu mau menjalaninya dengan saya? Saya bukan orang romantis yang dengan mudah menyampaikan perasaan secara gamblang, Ren.. Saya lebih suka langsung bertindak sesuatu untuk orang yang spesial di hati...". Aku tersenyum tulus, sambil menatap mata Irene. Gadis itu berkaca- kaca. Aku mencondongkan tubuhku, dan mengusap sudut matanya dengan lembut.


"Hik hik hik...". Bukannya diam, Gadis itu malah tambah menangis. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Aku bingung, semua orang memandang ke meja kami. Termasuk gadis di pojok saung, sahabat Irene. Aku tersenyum canggung.


'Hei kenapa dia berdiri?'. Aku menatap heran ke arah mantan murid SMA ku. Dia menghampiri mejaku dan Irene.


.


.


"Bapak mengatakan apa ke teman saya?". Tanya Fifi, Dia menatapku dengan kesal.


(Nb. Jangan tiru sikap Fifi yah kawan- kawan.. Guru adalah sosok yang harus kita hormati, walaupun posisi kita sudah jadi mantan Murid.. Bermanfaatnya suatu Ilmu, salah satunya Karena Kita menghormati Guru Kita..)


.


.


Bersambung😘