
Halo semua.. Hehe
Aku dateng bawa ekstra part nih, entah nanti berapa biji..
Tetep ya sambil baca karyaku yg ikut lomba.. FLYING LECTURER genre horor.. Tapi tenang, nggak horor horor amat kok.. Hehee
.
.
Hari terus berganti, tak terasa usia kandungan Irene sudah memasuki 9 bulan. Segala sesuatu sudah dipersiapkan bersama Suami dan juga Ibu mertuanya. Mulai dari mempersiapkan perlengkapan pakaian bayi, hingga kamar tidur yang harus dirombak.
"Mas.. Aku nggak pengin pake amben ..".
Zahma membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. Rama menghentikan elusan diperut isterinya itu. Karena mereka sudah berhadap- hadapan.
(Amben itu bahasa jawa, artinya ranjang)
"Kenapa?". Rama bertanya heran,
"Ya nggak pengin aja Mas.. Takut jatuh..".
Rama menggeleng. Siapa yang akan jatuh coba? Batin lelaki dewasa itu.
"Kamu takut jatuh?".
Irene menggeleng.
"Bukan Aku, tapi anak kita Mas.. Kamu nggak pernah gitu bayangin kalo ada ranjang di kamar, anakmu ditaroh situ, terus menggelinding..??". Irene melirik suaminya. Sementara itu Rama tersenyum kecil, Kemudian mencubit pipi isterinya.
"Diakan masih bayi, mana bisa menggelinding Yang.. Yang..". Rama menggeleng, tidak habis pikir dengan bayangan isterinya yang terlalu jauh.
"Jadi mau dipindahin nggak ranjangnya?". Tidak mau berdebat, Irene mengeluarkan jurus pemaksaan miliknya, yang akhir- akhir ini sering dikeluarkan.
"Iya iyaaa.. Biar besok Mas pindahin ini amben nya" Putus Rama akhirnya, daripada nanti Isterinya itu marah kan?
Irene tersenyum puas.
Sebagai calon Ibu yang akan menjadi Ibu dalam waktu dekat, dia harus memperhatikan betul keselamatan anaknya.
Dia sudah googling banyak hal yang perlu seorang Ibu lakukan. Termasuk Dia mencari referensi dari internet seputar cara merawat bayi dengan benar.
Ibu mertua cukup banyak membantunya. Dia sangat bahagia, Karena ada sosok Ibu yang mendampinginya. Walaupun hanya Ibu mertua.
Di luar sana, banyak perempuan yang tidak seberuntung dirinya, mendapat mertua penuh perhatian, menyayangi seperti kepada anak kandungnya sendiri.
"Mas kamu mau kasih nama siapa ke anak kita?". Irene bertanya, Karena penasaran, suaminya itu belum membicarakan perihal nama untuk anak mereka hingga saat ini.
"Mas sudah ada.. Kamu sendiri maunya nama anak kita siapa?"
"Aku penginnya kamu yang kasih nama, Mas.. Hehee". Irene tertawa kecil.
"Oke kalo gitu.. Tapi kejutan yaa.. Biar nanti pas dedek 7 hari, sekalian aqiqah.."
"Ishh kok lama banget Mas? Sekarang yaa.. Kasih tau Aku..". Irene protes, bagaimana bisa dia tau nama anaknya di hari ke tujuh. Lalu saat bayi itu baru lahir, dia harus memanggil dengan apa?
"Pokoknya kejutan.. Nggak usah marah...". Rama mengelus pipi isterinya. Dia sudah paham, akhir- akhir ini isterinya itu sering sekali mengeluarkan tanduk jika ada hal yang tidak dituruti.
"hmmm".
Irene kembali memutar tubuhnya. Membelakangi sang suami.
"Elus lagi perutku". Katanya,
Rama hanya tersenyum, dan menuruti kemauan isterinya tanpa banyak bicara.
***
"Mau periksa ke Dokter kapan, Nak?". Ibu bertanya sembari mengambil sayur yang sudah Irene masak. Ibu hamil tua itu memaksa mertuanya untuk menyerahkan penguasaan dapur pada dirinya. Dan karena tidak ingin menantunya bersedih, Ibu menuruti saja kemauan menantunya itu, lagi pula masakan Irene memang enak.
"Belum tau Bu.. Belum buat janji juga..". Irene menjawab, sembari tangannya memegang sutil atau soled.
"Jangan terlalu mepet HPL". Pesan Ibu. Irene mengangguk, mengerti, karena mertuanya itu sudah pernah mengatakan sebelumnya.
Dari posisi terakhir saat USG, Bayi sudah berada pada posisi yang pas, sudah memasuki wilayah panggul. Jika tidak ada halangan lain, Irene bisa melahirkan secara normal.
"Irene takut bayi kami menggelinding Bu.. Ranjang kami kan tinggi Bu..". Irene menoleh ke Ibu mertuanya. Berharap Ibu mertuanya mengerti.
Ibu menggeleng, persis seperti respon Rama. Irene manyun saat menyadari respon Ibu mertua sama seperti Suaminya semalam.
"Bayi kalian aman Nak.. Tapi kalo memang mau dipindah ya nggak papa.. Ibu nanti minta tolong pak muksin sama toyo buat pindahin amben nya".
"Terimakasih Buu...". Irene tersenyum senang.
Seperti perkataannya tadi, Ibu sudah memanggil Pak muksin dan Toyo untuk mengeluarkan ranjang dari kamar anaknya.
Irene sudah menyingkirkan pernak pernik tidur miliknya dan suami, kasur juga sudah di singkirkan terlebih dahulu oleh dua lelaki yang diundang Ibu.
Irene keluar dari kamar, dan melihat dari arah ruang tamu, bersama Ibu mertuanya.
"Bawa ke belakang saja Pak..". Ibu memberikan instruksi, sambil menunjuk pintu yang sudah dibuka sejak tadi. Pintu menuju belakang rumah.
"Iya Bu Pram...".
Setelah Ranjang berhasil dikeluarkan, Irene masuk kembali ke kamarnya sambil membawa sapu dan pengki.
(pengki itu entah bahasa indonesianya apa, yang jelas pengki itu temennya sapu, buat membawa sampah Hehee).
"Sudah dibersihkan?". Ibu mengintip.
Irene menoleh ke arah pintu.
"Iya Bu.. Ini selesai sudah.. Bisa nanti kasurnya di taruh lagi.. Pak muksinnya dimana Bu..".
Irene beranjak keluar kamar sambil membawa pengki berisi debu.
"Pak.. Tolong ini kasurnya diletakkan lagi ya..".
"Siap Bu.."
Pak Muksin dan Toyo segera memasuki kamar, dan menggotong kasur untuk diletakkan di lantai sesuai permintaan Ibu.
***
Rama pulang dan sudah disambut oleh Isterinya di teras. Melihat suaminya pulang, Irene bangkit berdiri. Di usia kandungan seperti saat ini, Dia merasa kesulitan setiap kali akan bangun dari duduk.
"Tadi mas telpon nggak diangkat?". Rama menggandeng isterinya, membawanya masuk ke rumah.
"Tadi beres- beres kamar, Mas.."
"Oh Ibu sudah minta tolong orang?". Irene hanya menganggguk.
Rama memasuki kamarnya yang saat ini terlihat jauh lebih longgar.
Rama meletakkan tas kerjanya.
Rama berjongkok dan duduk di kasur, duduk di sebelah Irene. Hampir saja tadi Dia akan langsung duduk setelah meletakkan tas. Dia sepertinya harus mulai membiasakan diri tanpa ranjang. Jangan sampai dia terjungkal karena tidak ingat bahwa ranjangnya sudah disingkirkan.
"Sudah aman kan anak kita?". Tanya Rama, sambil melepaskan kemeja seragamnya.
"Aman Mas.. Hehee".
Irene nyengir lebar.
Dua orang itu kemudian mengobrol tentang rencana USG terakhir sebelum melahirkan. Seperti pesan Ibu tadi pagi. Rama mengiyakan dan nanti akan membuat janji dengan dokter kandungan yang biasanya memeriksa Irene.
Soal Nama, Irene mencoba mengorek kembali dari suaminya, namun suaminya itu tetap tidak mau memberitahukan. Membuat Irene kembali manyun.
"Simpen aja sendiri namanya Mas.. Ku panggil Jagoan aja anakmu". Ujar Irene,
.
.
Yang mau Arisan nama untuk anaknya Pak Rama dan Irene, tulis di kolom komentar yaa.. Heheee..
Jabang bayinya cowo💋