
Terimakasih yang sudah membaca dan memberikan dukungan pada karya ini yaa..🥰
.
.
Lanjut😘
.
.
"Kami dekat Fi.. Aku bahkan sering ke rumahnya, dan bertemu Ibunya.. Dia pernah ngajak Aku jalan dan makan..". Aku melanjutkan ceritaku. Fifi mendengarkan. Kami berdua berbaring di kasur. Saling berhadapan.
"Tiap pulang sekolah dia juga selalu nganterin Aku.. Itu alesanku kenapa Aku selalu nunggu di pertigaan Heeee". Irene meringis. Dia ingat, dia selalu berbohong pada Fifi, mengatakan bahwa sedang menunggu Kakeknya, sehingga menumpang Motor Fifi hanya sampai pertigaan. Fifi manggut- manggut, ingat momen itu.
"Kamu ingat pas Aku luka- luka, dan Pak Rama dua minggu lebih nggak berangkat? Itu karena kami kecelakaan bersama Fi..". Irene menjadi sedih jika ingat peristiwa tragis itu. Beruntung nyawa Pak Rama tidak melayang. Fifi tampak terkejut dengan bagian yang ini,
"Ya ampunn Ren.. Hal sebesar ini kamu simpen sendirian? Aku tiap hari di samping kamu, kamu bisa cerita ke Aku Ren...".
"Maafin Aku ya Fi.. Aku nggak pernah cerita ke Kamu..".
"Lalu sekarang bagaimana hubunganmu dengan Pak Rama, Ren?". Tanya Fifi.
"Aku nggak pernah punya hubungan apa- apa dengan dia, Fi.. Waktu itu Aku menganggap dia suka juga sama Aku.. Siapa yang nggak berfikir ke arah situ coba, kalo kita diperlakukan dengan lembut, dan berbeda.. Ternyataa..". Irene menjeda ucapannya. Tiba- tiba dadanya berdenyut nyeri.
"Ternyata dia memang menganggapku hanya sebagai adik.. Aku di anggap adik di keluarganya Fiii.. Ibunya yang menyuruh dia memperlakukanku dengan Baik.. Dia nggak pernah membalas perasaanku Fi.. Itu.. itu bikin Aku sakit banget Fiii...". Irene menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Dia tidak bisa menahan keinginan untuk tidak menangis.
"Bodohnya A..Aku Fi.. Aku masih nu nggu dia..". Di sela tangisnya, Irene merutuki kebodohannya sendiri.
"Aku masih inget.. Dia janji mau dateng saat Aku.. Lu lus.. ". Irene melepaskan tangannya dari menutupi wajah. Dia menatap sahabatnya dengan sedih, air mata sudah membasahi seluruh permukaan wajahnya.
"Aku.. dah lulus, Apa dia bahkan.. ingat janjinya sendiri????".
Fifi membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan uneg unegnya. Fifi ikut merasakan kesedihan Irene. Dia mengelus punggung Irene untuk memberinya semangat.
"Lalu saat ini kalian bagaimana? Kamu juga bilang kemarin itu Beliau ke sini kan?". Setelah tangis Irene reda, Fifi kembali bertanya. Dia ingin Irene menuntaskan ceritanya, agar dia bisa memberikan nasehat atau saran yang sesuai, walaupun misal nanti dia tidak bisa membantu apa- apa, setidaknya beban Irene telah terbagi.
"Pas pulang kemarin Aku nggak tahu dia ada di rumah Fi. Aku aja kaget.. Kami dah 4 tahun nggak pernah komunikasi.. Waktu kita ke saung, Ada yang DM Aku.. inget?". Fifi mengangguk.
"Orang itu DM dan bilang dia Pak Rama.. minta ketemu Aku, Fi...".
"Kamu sudah jawab?"
"Belum.. Aku takut itu bukan bener- bener Pak Rama.. Lagipula Mau membicarakan apa Fi? Nggak ada yang perlu dibicarakan kan? Sudah jelas ini cuman perasaan sepihak..Aku emang pengin tanya banyak hal sama dia, Tapi Aku pikir lagi, nggak penting juga..".
"Kalo menurut Aku, kalian bertemu aja.. Dah nanti mau ngobrol apa itu urusan belakang".
"Dari ceritamu tadi, Aku nebak yang bilang kamu adik di keluarga Pak Rama itu Ibunya kan? Pak Rama sendiri gimana?". Fifi penasaran dengan bagian ini.
"Waktu itu, saat Aku sakit, Pak Rama jenguk Aku di rumah.. Dia bilang ke Aku, anggap Dia sebagai Kakak, supaya Aku bisa berbagi dengan nyaman ke dia.." Irene mengingat momen itu.. Momen sehabis kecelakaan, saat dia beberapa hari tidak berangkat karena rasa bersalah pada Pak Rama yang begitu besar.
"Jadi bener Pak Rama anggep kamu adik? Dan dia Kakakmu?". Irene mengangguk.
"Iya sepertinya gitu, Fiii...". Irene menjawab Ragu. Fifi tidak merasakan di posisi Irene, saat dia menerima perlakuan lembut dan penuh perhatian dari Pak Rama, saat itu dia rasa bukan perlakuan Kakak pada adiknya.
"Kok sepertinya si? Harus jelas Ren.." Fifi malah jadi jengkel sendiri mendengar cerita ngambang hubungan Guru Matematika SMA dengan sahabatnya itu.
"Lha gimana Fi..". Irene menjawab lesu.
"Dah sekarang kamu bilang iya aja ke akun ig itu, terus tanya dimana mau ketemuan. Biar nanti kita pantau, misal itu bener Pak Rama, Kamu temuin, misal bukan kita tinggal kabur.. Setuju?". Akhirnya Fifi memberikan saran sekaligus antisipasi, jika akun ig itu hanya iseng mengatasnamakan Pak Rama.
"Aku pikir kalian memang butuh saling bicara, Ren..".
Akhirnya Irene menyetujui saran dari Fifi. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak sembarangan di atas kasur. Dia membuka aplikasi bergambar kamera, kemudian mulai membuka pesan dari orang yang mengaku Pak Rama. Fifi memperhatikan gerak gerik sahabatnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, begitu dua gadis menyelesaikan cerita mereka. Irene bercerita banyak, termasuk tentang ada Lelaki yang sedang mendekatinya. Fifi mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa kali juga dia memberikan komentar.
***
Di belahan dunia yang lain..
Rama memasuki kamarnya dengan perasaan tidak menentu. Dia gelisah. Sejak tadi dia memberi les privat, pikirannya sudah melayang kemana- mana. Dia bahkan tidak fokus mengajar.
Rama meraih hape yang diletakkan di atas meja kamar. Dia membuka aplikasi instagr@m, dan melihat apakah ada pesan masuk untuknya. Ternyata masih Nihil. Dua hari sudah dia menunggu seseorang membalas pesannya.
Hal yang dia takutkan sejak perbincangan dengan ayah waktu itu, sepertinya menjadi kenyataan. Dia terlambat. Ada laki- laki lain di dekat Irene. Bahkan Lelaki itu secara terang- terangan mengatakan keseriusannya terhadap Irene. Lelaki itu selangkah lebih maju darinya.
Walaupun begitu dia tidak ingin ada kesalahpahaman, cukup dulu dia ditinggalkan, sekarang dia akan memperjelas semuanya. Jika nanti semua sudah jelas, namun kenyataannya Irene tidak memiliki rasa apa- apa, setidaknya beban di hati sudah terangkat. Itulah yang ada dipikiran rama saat ini.
"Hahhh....". Rama menghembuskan nafas dengan kasar. Berharap perasaannya bisa tenang. Rama membuka laci meja untuk mengambil headset, dia memutuskan mendengarkan musik. Saat meraba laci, tangannya menyenggol sebuah benda. Diapun melongokkan kepalanya mendekati laci.
"Ah hadiah dari murid- muridku...". Rama meraih kado di hari ulang tahunnya. Dia bahkan lupa akan membuka kado itu.
Setelah membuka bungkus kado, dia menemukan sebuah buku berukuran sedang.
"Antologi Puisi...". Rama membaca judul pada sampul buku. Dia mulai membaca daftar isi buku itu, dan menemukan nama yang tak pernah diduganya.....
.
.
"Irenee???" Gumam nya.
.
.
Bersambung😘