
Terimakasih yang sudah membaca dan memberi dukungan untuk karya ini. Jangan lupa tinggalkan like dan jejak komentar🥰🙏
.
.
Lanjut😘
.
.
Irene sudah membawa koper kecil berisi barang- barangnya ke teras kos. Dia sedang menunggu Kak Taqy yang bilang hampir sampai di kos. Beberapa menit kemudian, Lelaki itu sampai di halaman rumah kos, Dia membawa mobil berwarna merah, berbeda dari yang terakhir lelaki itu bawa saat jalan bareng Irene.
Taqy langsung keluar dari mobilnya, dan meraih koper di tangan Irene.
"Biar Aku yang bawa ke bagasi...". Irene memberikan kopernya.
"Terimakasih Kak..".
Selepas menaruh koper Irene di bagasi mobil, dia segera membuka pintu depan, dan menyuruh Irene masuk. Irene merasa tidak enak, karena diperlakukan seperti majikan.
Kak Taqy mulai melanjukan mobilnya meninggalkan halaman rumah kos.
Selama perjalanan, Irene hanya diam, Dia bingung mau ngobrol apa dengan Lelaki di sampingnya ini.
"Kakak denger kamu sudah daftar wisuda yaa.. selamattt..". Taqy memulai pembicaraan. Dia melirik sekilas ke Irene, Gadis yang ditaksirnya sejak lama.
"Hehe, Iya kak.. makasih ya".
"Ada rencana mau kerja dimana?". Tanya Taqy lagi.
"Belum ada sih Kak.. Tapi Aku pengin magang di kantor Notaris, Kak Taqy tau kantor notaris yang bagus nggak?". Irene balik bertanya, setidaknya obrolan bisa berlanjut, dan tidak lagi hening. Begitu pikir Irene. Perjalanan masih panjang, bukankah tidak enak jika hanya diam saja?.
"emm... Di Kantor notaris Pak Sulaiman bagus, Ren.. Banyak alumni kampus yang magang di situ kok.. Teman kakak juga ada, malah udah gabung di sana..".
"Benarkah? wah kebeneran banget kak.. hehe". Irene tersenyum senang. Dia memang ingin sekali magang di kantor notaris begitu menyelesaikan pendidikannya di fakultas hukum.
"Biar nanti Aku kenalin sama temen kakak itu yaa, Besok kalo sudah wisuda aja..". Taqy merespon perkataan Irene dengan senang. Dia bisa lebih dekat dengan gadis itu, dan itu kesempatan yang langka.
"Makasih banyak ya Kak..". Irene menengok ke arah taqy, dan tersenyum dengan tulus. Taqy membalas tak kalah tulus.
***
Lima Jam sudah Kendaraan yang dinaiki taqy dan Irene melaju di jalanan, Beberapa kali mereka mampir ke rest area.
"Habis ini ambil arah kanan Kak.. Lurus aja terus jalan besarnya cuman satu.." Irene memberikan petunjuk arah. Mereka sudah memasuki Desa tempat tinggal Irene. Taqy mengemudi dengan serius. Tanpa Irene tahu, Dia sebenarnya sejak tadi merasa deg- deg an, Ini pertama kalinya dia berkunjung ke rumah wanita. Sebelum- sebelumnya dia tidak pernah. Karena baru kali ini dia serius menyukai wanita. Irene, dia wanita pertama yang menyegarkan kekeringan di lahan hatinya.
"Rumah yang paling beda itu kak, rumah kakek nenekku". Suara Irene mengagetkan Taqy yang sedang serius mengemudi dan usaha untuk menetralisir debaran hatinya.
"Eh iya..". Taqy merespon seadanya.
Taqy memperlambat laju kendaraan saat memasuki halaman rumah Irene. Dia melihat ada sebuah motor terparkir di halaman, dia mundur ke belakang dan mengambil arah yang tepat agat tidak menubruk motor itu.
"Ayo turun, kita sudah sampai kan?". Taqy melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya. Dia tidak mendengar respon Irene. Dia langsung melihat ke arah Irene. Dia melihat Gadis itu tampak kaku, dengan wajah tegang.
"Hei ada apa?". Taqy memegang pundak Irene. Gadis itu terlonjak kaget. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah Taqy.
"Nggak apa- apa Kak..". Irene menggelengkan kepalanya cepat. Dia berusaha menguasai dirinya sendiri.
"Biar Irene yang bawa, Kak.. Kakak jadi kayak supirku hehe". Irene berusaha menetralisir debarang jantungnya dengan mengajak bercanda Kak Taqy.
"Anggap Kakak sedang latihan menjadi sopir pribadimu". Taqy tersenyum penuh arti, sedangkan Irene menjadi bungkam. Candaannya berbalik gombalan.
Irene berjalan menuju rumahnya dengan perasaan tidak karuan, Setelah melihat motor yang terparkir di halaman, Jantungnya seperti berhenti beberapa detik. Dia tidak lupa siapa pemilik motor itu. 4 Tahun tidak merubah ingatannya.
"Assalamu'alaikum Kakek.. Nenek..". Irene masih berdiri di depan pintu. Penghuni yang ada di dalam rumah serempak menatap ke pintu, tempat berdirinya Irene.
Nenek yang mengetahui yang datang adalah cucunya, segera menghampiri Irene dan memeluk dengan pelukan erat. Nenek sedikit terkejut melihat ada seseorang di belakang Irene. Nenek melepas pelukannya pada Irene, dan beralih pada sosok Lelaki di belakang cucunya, yang sedang memegang koper. Nenek menatap cucunya dengan tatapan ingin tahu.
"Ah ini Teman Irene, Nek.. Kak Taqy ini nenek ku..". Irene memperkenalkan Lelaki yang mengantarnya pulang.
Taqy meraih tangan Nenek Irene dan menciumnya penuh hormat, dia juga mengangguk sopan pada Nenek Irene.
"Mari masuk.. kebetulan lagi ada tamu juga..".
Irene segera memasuki ruang tamu dengan ragu. Matanya bersitatap dengan tamu yang tengah duduk, menatapnya dengan dalam sejak tadi.
"Bapak ada di sini?". Irene bertanya canggung. Yaa ini pertemuan pertama mereka, setelah empat tahun, dan tanpa rencana.
"Iya..". Rama menjawab pertanyaan Irene dengan canggung juga. Rama tersenyum.
"Temannya suruh duduk loh Nak, malah berdiri aja.. Ayo sini duduk Nak.. anggap seperti rumah sendiri yaa.. Nenek senang banyak yang mampir..". Nenek Irene yang baru muncul dari dapur membawa dua gelas teh menegur Irene yang tidak mempersilahkan Temannya duduk.
"Ah iya Nek, terimakasih".
Taqy duduk di sofa yang berseberangan dengan tamu yang lain. Matanya tidak berhenti menatap tamu yang ada di hadapannya. Dia sedang menilai, siapakah lelaki ini, mengapa dia bisa ada di rumah kakek dan nenek Irene. Sedangkan Rama yang di tatap oleh Taqy, melakukan hal yang sama, dia sedang menilai, siapa lelaki itu, dia tidak pernah melihat fotonya di instagr@m Irene.
"Nek, Kakek dimana?". Irene keluar dari kamarnya, dia langsung duduk di samping neneknya. Sofa yang tidak berhadapan dengan kedua tamunya.
"Kakek sedang pergi dengan pak RT.. sebentar lagi juga pulang.."
"Ohh.." Irene manggut manggut. Dia kini beralih kepada dua tamu yang ada di hadapannya.
"Kak di minum teh nya..".
"Ah iyaa...". Kedua lelaki yang ada di hadapan Irene menjawab bersamaan. Irene tersenyum, dia tadi hanya menyuruh Taqy. Ternyata tamu yang lain ikut merespon.
"Rumahmu dimana, Nak? Nenek sepertinya baru melihat kamu..". Nenek mulai mengintrogasi. Irene hanya mendengarkan, tatapan matanya tidak beralih dari sosok Rama, Lelaki yang masih menghuni hatinya.
"Taqy dari semarang Nek.. Kenal Irene karena satu fakultas..". Taqy menjawab dengan penuh percaya diri. Dia harus percaya diri di hadapan pesaingnya. Beberapa menit yang lalu, dia sudah menyimpulkan bahwa Lelaki di hadapannya bukan Lelaki sembarangan, pasti ada hubungan dengan Irene. Dia tadi sudah melihat dengan jelas Mereka berdua tampak canggung, dan tatapan mereka seperti saling merindukan.
"Saya ikut Irene ke rumah juga ingin berbicara serius dengan Kakek dan Nenek..".
Irene langsung mendongak, melihat ke arah Taqy. Lelaki itu menatapnya, senyuman sudah tersungging di bibirnya. Irene melebarkan matanya. Dia terkejut.
.
.
"Maksud Kakak apa?" Irene bertanya terbata.
.
.
Bersambung😘