360 DAYS

360 DAYS
Dia kembali ceria



Terima kasih atas dukungan yang diberikan reader semua yaa.. 😘


.


.


Lanjuut😉


.


.


Jam setengah 6 pagi, Isteriku sudah berada di dapur. Suara kluntingan alat masak sudah terdengar. Aku yang baru selesai membersihkan diri, sebelum bersiap pergi bekerja, mendekat ke arah dapur. Melihat aktifitas Irene. Keahliannya memasak bertambah dari hari ke hari.


"Masak apa hari ini, Yang?". Tanyaku, sembari melongok ke arah wajan.


"Tanpa nama Mas.. penting enak nanti hasilnya Heheee". Irene tertawa.


"Mau bawa bekal?". Irene melirikku,


"Boleeehh". Aku menjawab dengan antusias.


Hari ini Aku memutuskan untuk kembali bekerja, seperti kataku, Aku akan bekerja jika kondisi isteriku sudah stabil. Aku merasakannya 3 hari ini. Setelah permintaannya untuk tidur di kamar Nenek, Keesokan harinya dia kembali. Senyumannya sudah kembali. Aku sangat bersyukur, karena Irene tidak terlalu lama terpukul dan bersedih atas kematian Nenek. Aku berharap, dia sudah benar- benar ikhlas.


Kami sarapan bersama di jam enam 15 menit. Masakan Irene memang selalu enak. Cocok di lidahku. Aku memang dari dulu tidak pemilih soal makanan.


"Gimana Mas rasanya? Aku kasih jeruk nipis dikit itu..". Irene bertanya dengan raut penasaran. Aku mengacungkan jempolku, membuat mata ibu hamil itu berbinar.


"Kayaknya masak daging terus dikasih rasa kecut enak ya mass...".


"Asal kamu yang masak, pasti enakk...", Aku mengelus kepalanya dengan lembut.


"Gombal aja teruss...". Irene memutar bola mata, tanda malas mendengar gombalanku. Aku tertawa melihatnya.


"Baik- baik ya di rumah.. Kalo pengin sesuatu, telpon Mas..".


"Iya Mas.. Hati- hati yaaa". Aku mengecup keningnya, sebelum berangkat bekerja. Aku melihat dari kaca spion, Irene yang tengah melambaikan tangan. Aku tersenyum.


Setelah perjalanan 30 menit, akhirnya Aku sampai di parkiran sekolah. Beberapa murid menyapaku, dan menanyakan kabar. Seminggu tidak mengajar, memang rasanya sedikit berbeda, ada rasa hampa karena tidak bertemu dengan murid- muridku.


Aku memasuki kantor, dan hampir semua rekan guru sudah datang.


"Pagi Pak Bu.. Apa kabar semuanya?". Tanyaku pada rekan guru. Mereka semua menyahut, dan menanyakan kabarku juga, serta kabar Isteriku.


"Semoga sehat selalu Isteri dan calon anak Bapak yaa..". Doa salah seorang rekanku. Aku tersenyum dan mengucapkan banyak terimakasih atas doa darinya.


"Pak Ari, terimakasih sudah menggantikan saya mengajar selama seminggu ini yaa...". Pak Ari adalah guru baru di SMA. Beberapa bulan lalu dia masuk ke sekolah, Aku bahkan menjadi salah satu penilai saat Dia melakukan micro teaching (praktek mengajar).


"Sama- sama Pak.. Sudah menjadi tugas saya juga.. Malah saya bertambah pengalaman, mengajar di kelas 3". Tugas Pak Adi sama sepertiku mengajar Matematika. Hanya saja Dia mengajar di sebagian kelas 10 dan kelas 11 IPS. Usianya yang masih muda sangat diharapkan memberikan energi positif untuk siswa siswi di SMA ini.


Waktu itu, Aku sempat merasa di posisi terjenuhku. Bekerja dengan rutinitas, dan tidak ada hentinya membuatku jenuh. Aku mengusulkan kepada Kepala Sekolah, untuk menambah 1 guru Matematika lagi. Dan Kepala Sekolah menyetujuinya.


"Mari Semua.. Saya mengajar dulu..". Aku segera beranjak dari tempat duduk dan menuju ke kelas 12. Kelas pertama di hari ini.


***


Di sela mengajar, Aku menyempatkan diri menghubungi Irene. Dering pertama dan kedua belum ada jawaban. Akhirnya di dering ketiga, Irene mengangkat panggilan dariku.


"Assalamu'alaikum Mas..". Suara Irene terdengar lirih.


"Kamu sedang nangis Yang?". Tanyaku langsung.


"eh enggak lah Mas.. Aku ngantuk, jadi tidur.. eh mas malah telpon.. kaget kan Aku...".


Aku tertawa kecil mendengar jawabannya.


"Iya- iyaa.. Maafin Mas ya.. Mas cuman pengin tau kamu lagi ngapa..".


"Heeemmm".


"Ya sudah kalo masih ngantuk, Istirahat lagi yaa...". Ucapku pada akhirnya.


"Iya mas..".


Panggilan sudah berakhir, Aku menaruh kembali Handpone ku di saku celana.


Jam sudah menunjukkan pukul 11. 45, Aku segera mengakhiri kelas.


"Maaf Pak..". Aku mendongak, seorang siswi sudah berdiri di hadapanku, berjarak meja guru.


"Iya ada apa shiren?". Tanyaku, sembari melanjutkan merapihkan peralatan mengajarku.


"Hari ini saya ada syukuran, Ini untuk Bapak..". Siswi bermama shiren itu meletakkan sebuah kotak makanan di hadapanku.


"Oh iya terimakasih banyak yaa...".


Shiren mengangguk dan tersenyum sangat lebar. Aku membalas tersenyum. Melihatnya memberikan kotak makanan mengingatkanku pada sosok isteriku saat dia masih menjadi muridku di SMA ini. Bedanya yg Shiren berikan adalah kotak dari kardus, kalau Isteriku memberiku kotak makan berwarna pink. Hehee


uhh Aku jadi merindukan diaa.. keluhku.


Aku segera keluar dari kelas dan menuju ruangan kantor yang berada di lantai pertama.


Aku meletakkan kotak makan pemberian muridku, kemudian duduk di kursi kerjaku.


Aku mengambil kotak bekal yang dibawakan oleh Irene. Begitu Aku membuka kotak bekal itu, Aroma lezat langsung menusuk hidungku. Hmmmm...


"Bawa bekal Pak..". Tanya Bu Suci yang baru masuk ke ruangan guru.


"Iya ini Bu.. Buatan isteri tercintaa Hehee, Mari Bu makan siang dulu". Ajakku.


"Silahkan Pak.. Duluan saja..".


Aku segera melahap makan siangku.


***


Aku sampai di rumah pukul 15.00. Aku melihat Irene duduk di teras, sambil memainkan handphone nya. Begitu melihat motorku memasuki halaman, Dia langsung bangkit berdiri, dan tersenyum lebar ke arahku. Wajahku yang masih tertutup helm tentu saja tidak memperlihatkan senyumanku yang jauh lebih lebar dari senyumannya.


"Sudah nunggu dari tadi?". Tanyaku begitu Aku sudah berada di hadapannya.


"Nggak mas.. Baru aja duduk". Aku menatap wajahnya dalam. Aku melihat wajahnya sedikit sembab.


"Dari tadi ngapain aja?". Tanyaku,


"Tidur aja mas.. Hehee..". Irene memeluk lenganku, kemudian kami berjalan bersama ke dalam rumah. Menerima sambutan Isteri sepulang bekerja itu menyenangkan, apalagi jika isteri menyambut dengan wajah ceria.


"Mas ganti pakaian aja dulu sana, Irene mau ke dapur...". Saran Irene. Aku mengangguk.


"Oh iyaa.. ini yang di plastik apa Mas?".


Irene rupanya baru memperhatikan Aku yang membawa sebuah plastik.


"Tadi ada murid yang katanya lagi syukuran, Mas dikasih". Jawabku dengan sedikit berteriak, karena Irene tidak mengikuti ke kamar.


Aku tidak mendengar jawaban dari Irene. Mungkin dia sedang memindahkan isi dalam kotak makanan itu ke wadah atau piring barangkali.


Selesai Berganti pakaian, Aku menyusul Isteriku ke dapur. Seperti dugaanku, makanan dalam kotak sudah beralih ke sebuah piring.


"Nggak elit banget pakenya kotak kardus Mas.. murid kamu". Irene melirikku.


"Haha.. Ada yang inget yaa, waktu itu pernah kasih sarapannya pake kotak nasi warna pink..". Aku tertawa geli, mengingat tingkah isteriku di masa lalu. Irene melirik tajam. Menggemaskan sekaliii..


Aku mencubit hidungnya saking gemasnya.


"Dia bener lagi syukuran, bukan cari perhatian.. Teman sekelasnya di kasih kok.. Guru lain juga di kasih..". Ucapku, khawatir dia cemburu. Ibu hamil kan begitu, mudah cemburu, begitu sih dari yang Aku baca di go*gle.


"Dulu Aku nggak caper ya Mas.. Aku cuman kasian.. Soalnya Aku juga kalo nggak sarapan, perutku langsung nggak enak, keringat dingin keluar, persis kayak Mas itu lah !!". Irene berbicara panjang lebar, mungkin membela diri. Aku mengangguk- angguk.


"Iyaa.. Mas percaya kokk". Aku tersenyum lebar. Muka Isteri hamilku itu nampak kecut.


"Nggak percaya juga nggak apa- apaa".


Irene menarik piring berisi makanan dalam kotak makan kardus, kemudian dia melahapnya seorang diri.


.


.


Bersambung😘