360 DAYS

360 DAYS
Diklat



Terima kasih atas dukungannya untuk karya ini, para reader semuaaa💋


Kemarin dapat pemberitahuan dari pihak noveltoon, kalau novel 360DAYS masuk beranda rekomendasi karya berpotensi. Aku seneng banget donk..🥲🤧


Terimakasih readerku.. Tanpa kalian apalah arti karyaku iniii🤧🤧🤧


.


.


Lanjut yaa


.


Sepasang suami isteri tengah berada di dalam kamar. Sang isteri sedang sibuk mempersiapkan barang bawaan suaminya, sedang si suami sibuk memandangi isterinya. Sesekali tangan si suami mengelus perut Isteri.


"Bantuin ngapa Mas?". Irene mencubit lengan suaminya, Dia sejak tadi fokus, malah suaminya mengganggu.


"Mas udah bantuin kok.. Si ganteng kita juga bantuin tuh". Elak si suami.


Irene yang sejak tadi duduk di tepi ranjang, akhirnya berdiri. Kemudian mendelik melihat suami jahilnya ikut berdiri.


"Masss.. Masss.. Hihhh". Rama tertawa demi melihat wajah kesal sang Isteri yang baginya begitu menggemaskan, ditambah lagi perut Isterinya yang sudah nampak menggelembung.


"Iya iyaa.. kenapa jadi galak sih Yang..". Akhirnya calon Ayah itu menyerah, dan pura- pura merasa sedih. Sementara Irene kembali duduk di tepi ranjang, setelah menghembuskan nafas keras- keras agar kesal yang tadi segera menghilang.


Seperti beberapa tahun yang lalu, Rama mengikuti diklat bagi guru Matematika. Biasanya kegiatan itu akan berlangsung selama hampir seminggu. Jika dulu Rama akan mempersiapkan segala sesuatunya sendiri, dan dengan ringan akan berangkat ke lokasi diklat, Namun tahun ini berbeda. Dia sekarang tidak mempersiapkan sendiri, karena ada Isterinya yang begitu pengertian. Rama beberapa hari yang lalu sempat meragu untuk mengikuti diklat, sebab melihat Isterinya dengan perut menggelembung itu serasa berat untuk ditinggalkan. Namun begitu Dia konsultasi dengan sang Ibu, yang seperti biasanya, sangat bersedia menjaga Irene, Akhirnya Rama mantap mengikuti diklat.


Sebagai ganti rasa Rindu selama seminggu yang akan dia rasakan pada Isteri dan calon jabang bayinya, Rama mengajak Irene melakukan USG kemarin, ke dokter kandungan yang sama dengan USG sebelumnya.


Kebahagiaan dan semangat Guru Matematika itu langsung bertambah, begitu mengetahui bahwa bayi yang berada di dalam rahim sang Isteri berjenis kelamin Laki- laki dan berkembang dengan baik, dan sehat. Seperti harapannya.


Rama bahkan sudah memasang foto USG Irene menjadi backgroud layar laptop dan hape nya.


"Selama Diklat diminta pake dasi, Mas masih tau cara pakenya kan?". Irene melirik suaminya yang bersimpuh di lantai dekat dengan dirinya, sambil nyengir lebar.


"Bisa lah Yang.." Jawab si suami dengan begitu meyakinkan.


"Tapi pas acara apa itu, Kamu minta dipakein sama Aku loh Mas". Irene mencoba memojokkan suaminya.


"Kan Mas pengin dipasangin sama Isteri tercintaa".


"Alibi aja.. Jadi inget dulu, Aku pernah lihat Mas negur temenku yang nggak pake dasi dengan benar". Irene menerawang, mengingat masa putih abu- abunya.


"Kapan itu? Kok Mas nggak inget ya..". Rama mencoba mengingat, tetapi justeru yang Dia ingat hanya tingkah Isterinya. Dia pun tersenyum sendiri.


"Ngapa senyum- senyum Mas?.. Ayo lanjutin itu kerjaannya..". Irene kembali melipat baju suaminya.


"Mas inget kamu pas pake seragam putih abu.. Hehee...". Irene yang mendengar kalimat suaminya, langsung tersenyum, kemudian menepuk- nepuk pipinya pelan. Agar rona merah tidak muncul di pipi nya.


"Kemeja putih.. baju batik.. celana hitam.. dalaman.. sarung.. sajadah.. alat mandi..". Irene mengabsen satu persatu barang bawaan suaminya, dan segera memasukkan ke koper kecil berwarna biru. Sepatu pantofel yang sudah kinclong pun turut dimasukkan. Setelah merasa semua sudah masuk, Diapun menutup koper tersebut, dan menyerahkan pada suaminya untuk diletakkan di pojok kamar, agar esok hari bisa langsung dibawa.


"Kenapa tarik nafas kayak gitu..". Rama meraup wajah Irene, menatap Isteri hamilnya.


"Apa mas nggak usah ikut diklat aja? Toh sama kayak yang waktu itu, paling tambah materi baru sedikit..".


"Nggak Mas.. berangkat aja.. Diklat kan penting, biar Mas semakin berkembang.. Siapa tahu bisa jadi Kepala Sekolah kan? Hehee...". Irene tersenyum lebar, demi melihat suaminya tidak khawatir lagi. Entah mengapa Irene merasa berat mengikhlaskan suaminya berangkat diklat. Tetapi sebagai suporter utama keberhasilan suami, Dia harus menekan ego.


"Bener?". Rama bertanya sekali lagi, Dia tidak ingin Isterinya tidak mengikhlaskan perginya Dia mengikuti acara 3 tahunan itu.


"Bener Mas.. Pasti Kami kangen, tapi kan masih bisa video call kan?".


"Yasudah.. Nanti setiap kali Mas mau mulai kegiatan, Kita bakalan video call yaa?". Irene mengangguk, sangat setuju dengan usul suaminya.


***


Pov Rama:


Malam ini ada yang berbeda dengan kebiasaan tidur Irene. Jika biasanya Aku yang mendahului memeluk dirinya, Maka malam ini, Dia berinisiatif memelukku dengan erat. Calon bayi kami menjadi jarak. Aku mengecup puncak kepalanya. Dia sudah tidur beberapa saat lalu, setelah Aku mengelus punggung dan perutnya.


Ada rasa berat yang kurasakan untuk berangkat ke Semarang. Seminggu bukan waktu yang sebentar.


Aku menghembuskan nafas berat, sepelan mungkin, agar Irene tidak kaget dan bangun dari tidurnya.


'Seminggu pasti tidak lama, Rama.. Kalau sudah dilalui pasti rasanya sebentar saja.. Semangat.. Jangan lupa janji untuk selalu menghubungi Irene..'. Aku bermonolog dalam hati.


***


Pagi telah datang, Aku sudah bersiap untuk berangkat. Koper biru yang berisi barang bawaanku pun sudah di tangan. Aku menunggu Isteriku keluar dari rumah. Aku akan berpamitan. Hari ini rencananya, Aku dijemput oleh Pak Ari, rekan guru matematika di SMA, kemudian berangkat bersama ke Semarang.


Irene keluar dari pintu utama, Aku tersenyum menyambutnya. Pagi ini Dia terlihat begitu cantik, dengan gaun hitam yang panjang, bahkan menutup kakinya. Aku tidak pernah melihat Irene memakai baju ini, mungkin ini baju yang dulu tidak pernah dia pakai, Karena lihat saja, gaun itu menutup kakinya.


Irene tersenyum, kemudian meraih koper biruku. Dia mulai melangkahkan kakinya, Aku mengikuti Irene. Setelah turun dari teras, Irene berhenti dan menoleh ke arahku. Aku yang semula tersenyum, sedetik berikutnya Aku terpaku melihat wajah Irene, air mata sudah meleleh membasahi pipi mulus Isteriku itu.


"Aku pergi dulu Mas...". Irene kembali menoleh ke depan, mengabaikan Aku yang masih terpaku di tempat.


Ini ada apa??? Aku membatin. Irene kembali berjalan, membawa serta koper biruku.


Aku bingung, kenapa Irene? Semalam dia baik- baik saja. Dia mau prank kah? Aku hendak berjalan, namun kakiku mendadak terasa kram.


Ya ampuun ada- ada sajaaa... Aku berteriak frustasi.


Irene terus berjalan, sampai gerbang yang permukaannya sedikit menurun.


Di detik selanjutnya, Mataku membola saat sebuah mobil menabrak tubuh Isteriku tanpa ampun. Aku memejamkan mataku, dan air mata ku meluncur begitu saja dari balik kelopak yang tertutup.


.


.


Bersambung😌