
Asisten Clark terpaksa memarkirkan mobilnya di pelataran parkir sebuah toko lalu melanjutkan dengan berjalan kaki mencari rumah Pak Beni.
Asisten Clark tampak menonjol menarik perhatian lantaran penampilannya yang tampan dengan setelan jas mewah seperti pengusaha terkenal di tivi tivi.
Warga setempat yang berpas pasan pasti bergumam mengagumi kesempurnaan penampilan ala pengusaha keren dari luar negeri.
"Maaf, bisakah anda membantu saya mencari letak rumah Pak Beni ?" tanya Asisten Clark pada beberapa warga yang sedang duduk disebuah pos ronda.
Kebetulan kondisi jalanan semakin sepi membuat Asisten Clark kesulitan.
"Pak Beni yang mana ya ? pak Beni ada banyak di wilayah sini tuan. " ucap salah satu penjaga pos sopan.
Merupakan kebiasaan bagi warga masyarakat di Bali untuk senantiasa bersikap ramah terhadap turis atau pengunjung dari luar negeri.
"Pak Beni yang bekerja sebagai pemilah ikan, Hhmm beliau ada seorang putri bernama Vanya. Tahu kah ?" ucap Asisten Clark lagi dengan tetap bertutur kata sopan.
"Ooh Pak Beni yang itu, bapaknya si Vanya ya kan. Rumah mereka sekitar 100 meter lagi tuan. Anda ikuti jalanan lurus ini lalu pas ada pertigaan anda belok ke kanan nah rumah Pak Beni paling ujung, rumah kayu berwarna biru. " tanpa curiga warga penjaga pos ronda tersebut mengarahkan secara tepat.
"Hhmm baiklah saya akan coba, terima kasih ya bapak bapak semua. " senyum sopan seiring pamit melangkahkan kaki menuju arahan tadi.
Sempat para warga yang sedang ronda itu berbisik bisik, Ada perlu apa malam malam begini bule necis mencari pak Beni.
Aneh saja bagi mereka melihat sosok pria bule berpenampilan necis ala bos bos pengusaha nyasar masuk ke wilayah kampung mereka.
Mengabaikan bisik bisik para warga Asisten Clark melangkahkan kaki dengan hati hati, heran dalam diri Asisten Clark lantaran kampung ini sangat gelap di malam hari. Hanya beberapa lampu jalan yang menyala itupun berjarak berjauhan.
Menggunakan ponsel sebagai senter, Asisten Clark akhirnya berhenti di depan sebuah pintu rumah kayu bercat biru yang terbuka. Tepat seperti yang diarahkan para warga tadi.
Pandangan Asisten Clark meragu apakah benar ini rumah Pak Beni, dengan was was Asisten Clark mengetuk pintu yang terbuka sebanyak tiga kali sambil mengamati bagian dalam rumah.
Tok.. tok.. tok...
Rumah yang sangat kecil, bahkan Asisten Clark sampai hampir membentur tiang pintu. Tampak sebuah foto keluarga tergantung di dinding membuat Asisten Clark yakin dia tidak salah tempat.
Kembali mengetuk daun pintu tiga kali sambil memanggil nama siempunya rumah.
Tok.. tok.. tok..
"Vanya... apa kamu didalam ?" ucap Asisten Clark sambil menunggu siapa tahu Vanya muncul dari dalam.
Hening..
Tidak ada respon seseorang dari dalam rumah, Asisten Clark memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dengn sedikit membungkuk lantaran tingginya yang hampir membentur tiang penyangga .
Bukan salah aku tapi salah rumah ini yang kenapa kecil sekali seperti rumah kurcaci.. batin Asisten Clark sambil geleng geleng kepala tak habis pikir.
Di jaman modern seperti ini masih saja ada orang yang tinggal di rumah kecil terbuat dari kayu bahkan sangat tidak memenuhi standart rumah layak huni.
Langkah Asisten Clark terhenti kala mendengar isak pelan tangis seorang gadis yang pasti itu adalah Vanya.
Pelan Asisten Clark membuka pintu kamar yang juga terbuat dari kayu, kkkreeeettt... suara pintu kayu terbuka membuat Vanya kaget dan seketika membuka mata was was.
Posisi Vanya yang sempat tertidur sambil menangis tadi memang membelakangi arah pintu jadi, saat Asisten Clark melangkahkan kaki masuk kedalam tiba tiba..
Segera Vanya bangkit dari tidurnya sambil masih mendekap daster milik sang ibu, antisipasi untuk menyerang Vanya meraih sebuah gelas kaca di meja dekat ranjang.
"Vanya, tenang. Saya kemari untuk memastikan kondisi kamu. " ucap Asisten Clark refleks mengangkat kedua tangan saat Vanya seperti hendak melempar gelas kaca kosong tersebut.
"Om ngapain kesini hah !! PERGI !!" Vanya melempar gelas kaca begitu saja kearah Asisten Clark yang beruntung masih bisa menghindar hingga gelas kaca itu membentur dinding dekat pintu.
PRANKK !!
Asisten Clark melirik serpihan kaca yang berserakan di dekat kakinya, menggunakan ujung sepatu pantofel mahalnya kemudian Asusten Clark menggeser serpihan kaca ke tepian.
"Vanya listen, semua orang mengkhawatirkan kamu girl, nyonya Lucy selalu memanggil nama kamu. Beliau sungguh khawatir. " ucapan Asisten Clark tentang nyonya Lucy membuat Vanya berteriak sambil histeris.
"Tante baik itu ternyata ibu dari pembunuh ibuku huhuhuuu.. Kalian semua jahat !!! Aku gak akan pernah mau kembali menginjakkan kaki kerumah sakit, PERGI OM !!" Vanya menangis tersedu emosi.
"Vanya, Tuan muda Zee tidak sengaja menabrak kalian. Tuan muda juga merasa bersalah dan beliau harus bertanggung jawab kan, Listen girl.. Apa kamu meragukan ketulusan keluarga Sanders yang ingin bertanggung jawab sepenuhnya pada dirimu ? apa kamu tahu jika seluruh biaya rumah sakit ditanggung oleh pihak keluarga Sanders. Come on.. jangan hanya melihat dari sudut pandang kamu sebagai korban. " Asisten Clark berdiri menatap teduh ke arah Vanya.
Sorot netra gadis kecil di hadapannya itu memang tampak sayu, sembab karena menangis bercampur lelah. Penampilan Vanya yang masih mengenakan pakaian yang sama dari rumah sakit, rambut sebahu yang tergerai berantakan. Kondisi yang benar benar memprihatinkan.
"Vanya gak minta apa apa OM, Vanya cuma mau ibu Vanya kembali. Apa tuan muda yang om banggakan itu bisa mengabulkan keinginan Vanya Hahh ??" Vanya kembali tersulut marah, kali ini sengaja Vanya memukulkan tangannya mengenai cermin di meja.
Brakk !! Vanya mengobrak abrik meja di dekat tempat dia berdiri saat ini.
"Vanya cuma mau ibu huhuhuuu... IBUU !!!!" Vanya sampai duduk bersimpuh di lantai kembali menangisi sang ibu yang sudah tiada selama lamanya.
"Vanya.. ingat kamu masih punya ayah kan ? apa kamu juga tega meninggalkan Pak Beni sendirian berjuang di rumah sakit heum ?" nada bicara Asisten Clark melunak.
Saat Vanya lengah, Asisten Clark kembali maju satu langkah, sialnya..
Vanya yang mendengar suara tapak pantofel mahal itu refleks meraih serpihan cermin yang tadi dia pecahkan.
"Om jangan dekat atau Vanya bunuh diri !!" Gegas Vanya berdiri sambil mengarahkan pecahan kaca tepat di pergelangan tangannya.
Tatapan nyalang dengan emosi yang labil membuat Asisten Clark terpaksa mengalah mengurungkan niat untuk membawa paksa Vanya.
"Oke oke.. Saya menjauh... " sembari Asisten Clark melangkah mundur tiba tiba ponselnya berdering.
Ddrrttt... ddrrttt.... ddrrttt...
Melihat nama yang tertera pada layar ponsel, gegas Asisten Clark menggeser lambang telpon warna hijau dan..
"Tuan Devan... " tampak Asisten Clark merubah ekspresi menjadi tegang sambil menatap tajam keara Vanya yang masih siaga dengan posisi siap bunuh diri.
Beberapa saat kemudian..
"Baik tuan, saya segera kembali ke rumah sakit. " begitu yang diucapkan Asisten Clark saat mengakhiri panggilan suara dengan tuan Dev.
"Vanya.. " Asisten Clark menatap tajam kearah Vanya.
Sedangkan Vanya membalas tatapan itu tak kalah tajam serta mengancam.
"Ayah kamu... "