ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 13 Malam pertama Zeevan dirumah kayu bercat biru



Zeevan berjalan keluar menjauh dari rumah. Kaki panjang Zee melangkah lebar menuju pesisir pantai yang berisi banyak kapal nelayan berjejeran.


Merasa kesal atas kejadian yang dia alami, Zee mengumpat beberapa kali seraya kakinya menendang angin ke depan, netra Zeevan nyalang menatap situasi disekitarnya yang tampak kumuh dan,


Apa seperti ini layak disebut hunian ? rumah rumah berdiri tak sesuai standar. Zeevan mengamati rumah para nelayan yang memang tidak sesuai standar hunian sehat.


Zee terus melangkahkan kakinya, di sepanjang bibir garis pantai sambil bertelanjang kaki, Zee melepaskan sepatu yang tadi dia pakai dan membawanya di tangan kiri.


Setidaknya udara pantai selalu terasa segar, hufftt... Zee berkali kali menghirup dalam dalam lalu melepaskan menikmati oksigen segar yang terhampar sejauh matanya memandang.


Menjelang malam hari,


Vanya yang sudah berada di dalam rumah tampak sudah masuk kedalam kamar. Sama sekali tidak khawatir pada suaminya yang belum juga kembali entah dari pergi kemana.


"Baguslah kalau dia gak balik, aku malas liat wajah Zee yang menyebalkan itu. Rasaya ingin aku cekik. " gumam Vanya yang selalu merasa kesal setiap mengingat Zeevan.


Pada pukul delapan malam terdengar suara pintu kayu terbuka dari luar, itu adalah Zeevan yang baru saja kembali dari jalan jalan di bibir pantai yang hanya berjarak lima puluh meter dari rumah biru bercat biru milik Vanya.


"Vanya ! kamu dimana ?" suara Zeevan terdengar keras padahal nada bicaranya normal.


"Vanya !! apa kamu di dalam ?? Vanya !!" Zeevan terus menerus memanggil nama sang istri kecilnya itu.


"Apasih berisik !!" suara Vanya terdengar sewot keluar dari dalam kamar bapak dan ibu.


Ya Vanya memang ingin menghabiskan hari hari terakhirnya di Bali dengan menikmati atmosfer kenangan mendiang Bapak dan Ibu dikamar mereka.


"Aku butuh mandi dan juga, apa makan malam kita? " tanya Zeevan kini dengan volume suara yang sedikit pelan.


"Kamar mandi ada di belakang, tidak ada makan malam dan kamu tidur disitu. Bye ! " Vanya menunjuk ke arah ruang tivi sesaat sebelum dirinya kembali masuk ke dalam kamar mendiang bapak dan ibu.


Vanya pergi begitu saja tanpa memperdulikan bagaimana tanggapan Zeevan.


"Heii Vanya !! Astaga gadis cupu bikin kesal aja ish. " Zee menuju ruang tivi dengan mulut mengomel, tentu saja mengumpat kata kata kasar sebagai bentuk emosi yang dia rasakan.


Kamar mandi yang berbentuk aneh, ya lagi lagi Zeevan dibuat senewen dengan sebuah ruangan sempit, pengab, banyak lumut dan hanya ada ember besar dan gayung itupun airnya sedikit keruh.


Zeevan tiba tiba merasakan jijik lantaran tempat yang Vanya sebut kamar mandi itu sama sekali tidak bersih, tidak sehigienis kamar mandi yang biasa dia pakai.


VANYA !!!!! DASAR GADIS MISKIN SIALAN !!!


Akhirnya Zee harus mengurungkan niatnya untuk mandi, tubuhnya yang kotor karena terkena pasir pantai terpaksa hanya ganti pakaian yang bersih.


Zeevan benar benar tersiksa kala berada di rumah kayu kecil bercat biru milik Vanya.


Ruang tivi di dalam rumah Vanya hanya berukuran kecil, sebuah kasur lantai ukuran single tempat biasa Vanya dan mendiang orang tuanya menghabiskan waktu usai makan malam sambil menonton acara tivi disertai senda gurau.


Zee tidak bisa tidur diatas kasur lantai yang terlihat lusuh, kembali Zeevan menyusuri setiap ruangan yang ada dirumah kecuali satu ruangan dimana sang istri tadi masuk.


Rumah yang Zeevan dan Vanya tempati memang kecil dan tidak memiliki banyak ruang, Zeevan hanya melihat ruang tamu yang digabung dengan barang barang mendiang Bapak Beni.


Zeevan juga sempat melihat sepeda bekas yang tersandar bersama barang barang lainnya. Kemudian Zeevan melangkah menuju ruangan lain yang belum sempat dia lihat tadi.


Selain dapur yang digabung dengan tempat makan, Kamar mandi kotor yang jadi satu dengan tempat cuci piring, Zeevan masuk kesebuah kamar yang tepat berada disebelah kamar tempat Vanya masuk tadi.


Ruangan apa ini.. batin Zeevan sambil membuka pintu.


Kamar milik Vanya memang tampak lebih rapi dan bersih dibandingkan ruangan lain, setidaknya tatanannya tampak lebih rapi dan sedikit nyaman.


Zeevan menatap sekeliling ruangan, terasa sekali kalau ini adalah kamar seorang gadis.


Banyak poster poster penyanyi terkenal asal negeri Korea yang berjajar terpasang memenuhi dinding kamar.


"Apa itu, B T S ? cih seleranya terlalu tinggi. " Zeevan melihat jejeran poster tujuh penyanyi pria asal Korea dengan berbagai pose dan kostum.


Zeevan hanya geleng geleng kepala, seakan mencoba memaklumi mungkin karena Vanya masih remaja baru 18 tahun makanya seleranya seperti itu.


Dari dinding Zeevan mengalihkan pandangan kearah sebuah meja, tampak banyak buku buku terjejer rapi.


Gadis cupu kutu buku hahaa ... Zeevan membatin sambil mengamati satu persatu buku pelajaran milik Vanya.


Setidaknya meja belajar Vanya rapih dan nyaman untuk belajar meski sederhana dan di dalam kamar yang sempit.


Netra Zeevan tertuju pada sebuah buku, tampak seperti buku gambar yang diletakkan di sudut meja.


Iseng Zeevan membuka buku tersebut dan terkejut..


Banyak sekali sketsa rancangan desain hasil goresan tangan Vanya yang membuat Zee berdecak kagum.


Padahal sketsa itu hanya dibuat menggunakan pensil tanpa warna tapi setiap guratan pensil tampak seolah memiliki nyawa hingga desain yang tercipta tampak nyata.


"Ternyata ini bakat dan cita cita kamu Vanya. Menarik.. " Zeevan semakin larut mengagumi setiap lembar sketsa desain hasil ciptaan Vanya.


Bahkan ada salah satu desain sketsa yang menurut Zee sangat sempurna dan membuat dirinya merasa harus mengatakan hal ini pada sang mommy.


Mommy Lucy adalah pecinta fashion, dia menyukai banyak rancangan desainer yang tidak hanya terkenal asalkan unik dan menarik pasti mommy lucy berminat.


Cekrek..


Satu foto sketsa desain gaun diambil oleh Zeevan tanpa sepengetahuan pemiliknya.


Dengan lincah jari jemari Zeevan mengirimkan foto tersebut kepada sang Mommy.


Saat ini di negara tempat kedua orang tuanya berada pasti masih siang hari, ya perbedaan waktu yang cukup signifikan sekitar delapan jam selisihnya.


Zeevan menghela nafasnya, menutup buku gambar sketsa desain milik Vanya dan mengembalikan ke tempat semula.


Hhoaamm... saat ini Zeevan benar benar mengantuk dan segera saja menbaringkan tubuh bule nya ke atas kasur Vanya yang ternyata,


Sempit sekali astaga.. Zeevan lagi lagi bergumam merasakan tidak nyaman dengan posisi tidurnya.


Ranjang Vanya berukuran single, meski rapih dan empuk tapi tubuh Zeevan tidak muat untuk tidur terlentang diatasnya.


Benar benar menyiksa..


Saat ini terpaksa Zeevan tidur dengan posisi miring dan menekuk kedua kakinya dengan kedua telapak tangan yang dijadikan bantalan kepala.


Belum juga lima menit Zeevan sudah kembali mengeluh, Gerah sekali, aku butuh AC !!!