ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 17 Menginap di hotel



"Bantu saya mengganti pakaian Vanya. " ucap Zeevan dengan polosnya.


"Ppffttt.. apa anda tidak mau mengganti pakaian untuk istri anda sendiri tuan Zeevan Sanders ?" sang dokter tampak sedikit terkekeh namun kemudian Mampu mengendalikan diri ke mode sebelumnya.


"Maaf, baiklah saya akan bantu. Apakah anda sudah menyiapkan pakaian bersih dan kering untuk nona Vanya Sanders ?" tanya dokter wanita yang kembali meletakkan tas medisnya dan kini melangkah mengikuti Zeevan ke salah satu ruangan.


"Belum , saya belum ada pakaiannya. Saya minta tolong dokter pastikan ukuran yang tepat bagi Vanya, lalu katakan pada pegawai toko baju lewat ponsel ini. " Zeevan mengulurkan ponselnya agar dokter tersebut bisa mengatakan secara langsung ukuran yang pas untuk Vanya .


Hanya wanita yang bisa memahami wanita lainnya..


Zeevan memang sengaja menelpon salah satu toko baju yang beberapa kali dia kunjungi selama ada di Bali.


Selain memesan secara langsung set pakaian bersih untuk dirinya Zeevan juga memesankan satu set untuk Vanya.


Dokter tersebut tampak menyebutkan beberapa angka dan ukuran.


Kemudian setelah itu,


Dokter wanita ikut menunggu di ruang tamu sembari menunggu pegawai toko pakaian datang mengantarkan pesanan.


Sekitar setengah jam kemudian,


Dokter wanita membantu memakaikan pakaian bersih untuk Vanya yang masih terlelap. Sedangkan Zeevan berganti pakaian di dalam kamar mandi.


Setelah selesai membantu, dokter wanita tersebut pamit undur diri. Zeevan ingin memberikan uang tambahan sebagai tanda terima kasih tetapi dokter tersebut menolak secara halus dengan alasan ini hanya bantuan kecil jadi tidak perlu sungkan.


Setelah dokter pergi, kini hanya ada Zeevan yang duduk disebuah sofa sambil memegang ponsel dan terus mengawasi Vanya yang masih terlelap di atas ranjang.


Hari semakin larut hujan tak kunjung reda. Sepertinya malam ini Zeevan memutuskan untuk menginap di hotel.


Tepat pada pukul tujuh malam, pelayan masuk ke dalam kamar mengantarkan makan malam untuk pasangan Sanders.


Setelah meletakkan semua menu yang dipesan pelayan tersebut undur diri keluar dari kamar.


Sebuah trolly berisi aneka makanan kesukaan Zeevan dan entah apakah Vanya akan menyukai apa yang Zeevan pesankan tapi,


"Kita lihat saja apakah nanti kamu mau makan apa tidak, Vanya.. kapan kamu siuman heumm? ini sudah berjam jam. " ucap Zeevan lirih.


Karena Vanya belum bangun maka Zeevan makan duluan porsi makanannya dan menyisakan milik Vanya tetap tertutup rapat agar dimakan setelah dia siuman.


Selesai makan malam, Zeevan kembali memainkan ponselnya. Raut muka Zeevan yang tadinya biasa saja kini mulai menggurat serius.


Sepertinya Zeevan mendapatkan pesan yang tidak mengenakkan dari nomor tak dikenal .


"Damn !! " Zeevan mengepalkan tangannya kesal.


Dalam otaknya Zeevan berpikir siapa kira kira yang berani mengirim pesan teror padanya .


Berkali kali Zeevan coba menghubungi balik nomor asing tersebut namun selalu tidak diangkat.


Merasa jika pesan ancaman itu sangat mengganggu, Zeevan memutuskan untuk meminta bantuan pada seseorang yang dia percayai mampu melacak pemilik nomor asing tersebut.


Menghela nafas berat dan panjang Zeevan juga merasa capek karena seharian tidak istirahat. Dan karena kamar yang ditempati hanya meiliki satu ranjang maka dengan terpaksa Zeevan membaringkan diri di sisi lain ranjang.


Vanya terbaring di sisi sebelah kiri dan Zeevan berbaring di sisi sebelah kanan ranjang.


Perlahan namun pasti Zeevan mulai memejamkan mata hingga akhirnya terlelap di alam tidur nya.


Menjelang tengah malam, saat ini jam di dinding menunjukkan jarum pendek diangka dua belas dan jarum panjang di angka satu.


Pada saat itu pula tampak Vanya menggeliat diatas pembaringan dan mulai mengerjapkan mata.


Ternyata itu adalah selang insfus, netra Vanya mengucek beberapa kali memastikan.


Benar saja, ternyata Vanya tidak ngelindur saat ini sebuah jarum selang infus menancap di lengan kanannya.


Huftt..


Vanya menghela nafas singkat memindai sekitar, dan begitu Vanya sadar sepenuhnya ternyata dia tidak berada di rumah sakit melainkan kamar hotel.


Kamar yang sama seperti yang tadi pagi dia masuki bersama Zeevan sang suami.


Teringat kata suami seketika membuat Vanya mencari sosok Zeevan yang ternyata sedang mendengkur halus di sisi lain ranjang.


Awalnya Vanya ingin kesal tapi mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya tak sadarkan diri maka Vanya memilih membiarkan saja Zeevan dengan alam tidurnya..


Kkrryyyiiuuukk...


Suara cacing di dalam perut Vanya mulai protes. Vanya ingat jika terakhir dia memberi makan cacing cacing di dalam perutnya adalah tadi pagi, sebelum berangkat ke makam.


Aa iya aku hanya makan tadi pagi, nasi sama telur dadar pantes aja sekarang lapar.. batin Vanya berbicara sendiri.


Vanya tidak berani membangunkan Zeevan yang tertidur sambil mendengkur, dengan langkah pelan dan hati hati Vanya mencoba mengintip isi kulkas, apakah ada yang bisa untuk mengganjal perutnya yang lapar.


Begitu turun dari ranjang, Vanya lagi lagi teekejut dengan apa yang dia kenakan.


Pakaian bersih dan kering, bukan seperti pakaian yang terakhir dia pakai sebelum pingsan.


Apa Zeevan yang mengganti pakaianku ?? aaarrgghhh awas saja kalau benar dugaanku. batin Vanya lagi lagi merutuki sang suami yang dikiranya kurang ajar karena berani menyentuh tubuhnya tanpa permisi.


Vanya berjalan pelan ke arah kulkas, sayangnya begitu di buka hanya ada minuman soda. Tidak ada susu atau air mineral.


Huft.. Vanya menutup pintu kulkas kecewa lalu seketika dirinya melihat sebuah trolly yang tampak berisi banyak makanan.


Dengan langkah yang tetap pelan dan hati hati karena selang infus yang menancap ditubuhnya, Vanya membuka satu persatu menu makanan di dalam wadah.


Sudah dingin tapi masih bisa di makan, batin Vanya.


Vanya memutuskan mengambil salah satu wadah berisi menu makanan yang menurutnya sesuai dengan selera lidahnya.


Seporsi nasi goreng yang dicampur aneka potongan olahan seafood. Vanya menikmati seporsi nasi goreng seafood sambil duduk di sofa sambil menyalakan saluran televisi.


Suasana malam yang sepi dan Vanya tidak mau pikirannya membayangkan hal hal horor yang katanya sering terjadi di hotel hotel tua Bali.


Suara acara televisi dengam volume cukup keras ternyata ampuh mengusir rasa takut dalam diri Vanya tetapi hal tersebut ternyata justru menggangu Zeevan.


Ya , Zeevan merasa terusik kala mendengar suara televisi yang Menurutnya sangat berisik untuk dinyalakan pada tengah malam begini.


Zeevan terbangun lalu menoleh mencari keberadaan Vanya yang tidak ada di sisi ranjang tempatnya tidur tadi.


Dengan langkah kakinya yang panjang Zeevan mengendap tanpa menimbulkan suara hingga tepat berdiri dibelakang sofa tempat Vanya berada.


"Kamu sudah siuman Vanya ?" tanya Zeevan tiba tiba.


Vanya sedikit terkejut saat melihat Zeevan berdiri dibelakang dekat sofa tempat dia duduk.


Dengan ekspresi wajah yang dibuat datar lantaran menahan diri, Vanya menjawab dengan anggukan.


Kemudian..