ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 40 Help me, Vanya



Sementara itu di dalam apartemen,


Vanya yang ketiduran baru saja terbangun setengah jam yang lalu, lantaran lapar Vanya gegas menuju dapur usai mandi air hangat untuk membuat makan malam.


Begitu membuka pintu kulkas, Vanya berdecak kagum dengan isi bahan makanan yang lengkap dan segar.


Setelah menimang nimang bahan apa saja yang akan Vanya butuhkan untuk membuat nasi goreng seafood rumahan,


Vanya mulai mencuci dan meracik semua bahan. Begitu asiknya Vanya menyiapkan masakan sampai tidak sadar jika pintu apartemen sudah terbuka dan Zee masuk begitu saja tanpa menyapa langsung membanting pintu kamarnya kasar.


BRAKK !! suara membanting pintu yang terdengar keras mengejutkan Vanya sampai tersentak kaget.


"Zee, kamu sudah pulang ?" tanya Vanya sedikit teriak.


Tidak ada jawaban, Vanya pun menghentikan aktivitas racik meraciknya untuk memastikan jika itu adalah Zee .


tok.. tok.. tok..


Vanya mengetuk pintu kamar Zee beberapa kali , dan karena tidak ada sahutan Vanya coba memutar handle pada pintu .


Bukannya bermaksud kurang ajar atau tidak sopan tetap Vanya ingin memastikan jika yang di dalam adalah benar Zee.


Ceklek.. pintu kamar Zee terbuka dan Vanya melongokkan kepalanya mengamati sekitar dalam ruangan.


"ZEE KAMU DI DALAM ??" tanya Vanya dengan suara keras.


Tidak ada jawaban namun Vanya mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi.


"Zee, kamu di kamar mandi ya ?" Vanya saat ini berdiri didekat pintu kamar mandi.


"Ahh iya aku didalam, kenapa !" ucap Zee yang sedang menyalakan keran air dingin.


"Oh yasudah , kamu tidak menjawab saat aku panggil makanya aku memastikan. Hhmm baiklah aku akan keluar." Vanya baru saja membalik badan hendak melangkah menjauh dari kamar mandi di kamar Zee saat tiba tiba..


GREBB...


"Zee apa apaan ini.." protes Vanya sambil berusaha mengurai dekapan.


"Vanya.. help me..." lirih Zee berucap tepat pada daun telinga Vanya dan itu membuat hati keduanya berdesir.


Tubuh Vanya mematung saat Zee mendusel dari belakang, dengan tangan basahnya Zee menyibak rambut panjang Vanya ke samping lalu menenggelamkan wajahnya tepat di tengkuk leher Vanya dan hal itu membuat Vanya memaku bingung harus merespon bagaimana.


"Zee, a.. apa yang kamu lakukan ahh !" Vanya meloloskan satu de sa han saat Zee menjilat dan menyesap lehernya.


"Aku butuh bantuan, tubuhku membutuhkan bantuan help me.." lirih pelan Zee mengucap di sela aktifitas mesum nya pada Vanya.


"Ta.. tapi Zee, i.. ini tidak benar hentikan.." Vanya memberontak kecil namun tidak berhasil melepaskan diri karena Zee mendekap tubuhnya erat sekali dari belakang.


"Vanya... i want you.." Zee mengucapkan hal yang membuat Vanya merinding.


"Tapi kan... ahh Zee !" Vanya ingin protes lantaran dirinya belum siap jika harus bersetubuh dengan Zee.


Zee meremas dua gundukan kencang Vanya dan itu membuat Vanya men de sah lirih, kemudian Zee membalik tubuh Vanya hingga keduanya kini berhadapan.


Tatapan mata Zee benar benar sayu dan berkabut gairah, hal itu membuat Vanya ketakutan tapi tidak kuat jika harus melawan.


Hhmmpphh...


Hhmmpphh..


Zee meraup rakus bibir Vanya secara paksa, ya karena saat ini Zee sudah benar benar kehilangan kendali meskipun sudah mengguyur dengan air dingin tapi hasrat untuk bercinta itu tidak juga reda.


Batang kejantanan Zee semakin berkedut menegang dan menginginkan sebuah penyatuan.


Tubuh Zee yang basah membawa tubuh Vanya yang mungil ke atas ranjang, dalam dekapan Zee yang kuat Vanya kalah tenaga dan gagal mempertahankan diri saat setengah tubuh Zee menindih dirinya.


"Awsshh aahh Zee..." Vanya menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan saat merasakan Sentuhan Zee yang semakin kebawah.


Lalu..