ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 59 Jangan marahan



Sementara itu,


Zee dan Vanya tampak duduk bersebelahan. Vanya yang masih merasa tidak enak karena sudah menimbulkan skandal di kalangan murid sedangkan Zee yang justru menyandarkan kepalanya dengan santai di pundak Vanya.


"Jangan terlalu dipikirkan Vanya, semua akan baik baik saja. Mereka hanya orang kurang kerjaan yang kepo dengan kehidupan kita."ucap Zee .


"Mereka kepo dengan kehidupan kalian, bukan aku. Aku hanya kebetulan ada diantara kalian jadi wajar kalau aku merasa was was. Bagaimana jika mereka tiba tiba memusuhi aku karena menganggap aku ini perebut pacar orang ? Astaga aku bahkan baru tahu kalau kamu sudah punya pacar Zee." Vanya kesal lantaran baru tahu jika Zee sudah punya pacar.


"Apa kamu marah heum ?" tanya Zee yang masih saja memaksa mendusel di pundak Vanya.


"Pertanyaan macam apa itu Zee ? tentu saja aku marah, aku kesal karena kamu menikahi aku disaat kamu masih berhubungan dengan pacarmu, apa lagi kata yang tepat buat aku selain perebut pacar orang, minggir sana iih !!" Vanya mendorong tubuh Zee agar menjauh darinya tapi nihil,Zee masih tetap menempel di pundak Vanya.


"WHATT ?? Jadi kalian ini sudah nikah ? serius ? kenapa aku tidak tahu !!" tiba tiba Merry menyela pembicaraan Vanya dengan raut muka terkejut antusias.


Zee memutar bola matanya malas, sedangkan Vanya masih tetap mencibirkan bibirnya kesal.


"Aku malas membicarakan masa lalu tapi ya, kami ini suami istri dan Vanya bukan merebut ku dari Sabrina. Hubunganku dengan Sabrina kala itu memang sedang tidak sehat dan aku justru dinikahkan dengan Vanya. Dan sekarang seperti nya aku sudah yakin dengan apa yang menjadi pilihanku." ucap Zee tanpa menatap Merry karena pasti tahu jika bestie nya itu pasti akan terus kepo sampai dia puas dan mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Astaga, kamu jahat sekali Zee, bisa bisanya menyembunyikan rahasia ini dariku. Aku pikir kalian masih tahap pacaran ternyata, awas awas minggir!" Merry tiba tiba menyela duduk diantara Zee dan Vanya.


"Oke Vanya, ceritakan semuanya padaku." ucap Merry yang kini antusias menatap ke arah Vanya yang tampak malu canggung.


"Hhmmm sebenarnya itu.." belum selesai Vanya mengucapkan kalimat nya tiba tiba Zee menyela,


"Kalau tidak siap tidak perlu cerita Vanya ! dan kamu Merry, jangan memaksa kalau Vanya gak mau cerita. Sudahlah yang pasti sekarang kamu sudah tahu tentang hubungan kami , tapi aku harap kamu jaga rahasia ini, mengerti kan Mer ?" perkataan Zee sangat serius.


Zee mengerti betul seperti apa perasaan Vanya saat ini jika disuruh mengingat cerita masa lalu ketika mereka masih di Bali.


Memory tentang kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, pernikahan paksa sebagai wujud tanggung jawab keluarga Sanders. Dua hal yang pasti tidak ingin Vanya ingat karena terlalu banyak rasa sakit yang harus dikorbankan.


"Sebenarnya, aku tidak ingin mengingat kejadian di masa lalu Merry. Luka di dalam diri ku belum pulih sepenuhnya, masih ada rasa sakit yang belum terobati, suatu saat nanti jika hatiku sudah siap pasti aku ceritakan semuanya, tapi aku mohon untuk sekarang ini jangan membuat aku mengungkit masa lalu, " ucap Vanya dengan netra yang mulai bergetar mengembun dan hampir saja meneteskan bulir air mata lalu tiba tiba saja ,


"Sshhhttt ..sudah jangan sedih ya, Maaf kalau aku terlalu kepo tapi jangan menangis Vanya, kamu adalah temanku dan aku gak akan paksa kamu cerita, maaf ya please jangan menangis.." Merry mengusap sudut mata Vanya hingga air mata itu gagal untuk lolos membasahi pipi kemudian merengkuh tubuh mungil Vanya ke dalam pelukan.


Merry mengusap punggung Vanya sebagai ungkapan rasa empati dan minta maaf karena sudah terlalu memaksa ingin tahu kisah di masa lalu.


"Zee, sekarang sebaiknya kamu segera putuskan Sabrina. Jangan sampai semakin marak rumor yang berkembang di lingkungan kampus. Aku gak akan maafin kamu kalau sampai Vanya jadi korban sakit hati lagi. Mengerti !!" tegas Merry sambil menatap Zee dengan pandangan tajam setajam pisau yang baru diasah.


"I know. Tanpa kamu suruh juga aku pasti bakal putusin Sabrina. Awalnya memang aku ragu buat menentukan keputusan tapi saat aku tahu rahasia yang Sabrina sembunyikan dariku, aku udah ilang feeling sama dia. Dan Vanya.." Zee tiba tiba menyebut nama Vanya disertai tatapan sendu.


Vanya tidak menoleh tapi telinganya mendengarkan apa yang akan Zee sampaikan. Vanya masih mencoba menahan tangis dalam pelukan Merry.


Merry masih duduk di antara Vanya dan Zee, dan Merry tidak ada niat untuk beranjak dari posisinya saat ini.


"Aku minta maaf karena sudah merahasiakan kehidupan pribadiku selama kita menikah. Tapi aku bersumpah pertama kali melakukan hubungan badan hanya dengan kamu Vanya. Malam itu memang aku bilang aku dalam pengaruh obat dan pelakunya adalah Sabrina , ya dia ingin menjebak diriku dengan bercinta agar dia bisa mengikat aku lebih erat, aku rasa dia mulai terobsesi untuk menjadikan aku trophy. Sabrina semakin kesini dia hanya mengejar ketenaran karena jadi pacarku dan yang memanfaatkan uangku untuk kesenangan sosialita nya semata, aku sudah gak merasa kalau Sabrina tulus sama aku, dia terobsesi dan hanya ingin memanfaatkan aku."


" Aku bisa saja melakukan percintaan pertama ku dengan Sabrina jika aku mau, tapi malam itu aku seperti kehilangan gairah meski Sabrina bertelanjang di hadapanku dan bahkan dia sempat naik ke atas tubuhku tapi aku memilih untuk menahan diri dan pergi ninggalin dia karena aku gak bisa melakukan itu tanpa rasa cinta. Mungkin aku terlambat menyadari jika sebenarnya hatiku memang sudah tertaut padamu Vanya. Dan semalam itu untuk kedua kalinya kita bercinta, aku benar benar melakukan itu karena aku menginginkan kamu buka sekedar sebagai seorang istri yang wajib melayani suami, tapi karena memang ada cinta yang mulai tumbuh diantara kita. Aku gak memaksa kamu untuk merasakan perasaan yang sama tapi setidaknya kamu harus percaya sama aku. Aku pria sejati yang hanya menautkan hati pada satu istri." ucap Zee sungguh sungguh sambil menatap ke arah Vanya.


Mendengar penuturan Zee yang terdengar sungguh sungguh, Merry inisiatif menarik lengan kanan tangan Vanya yang duduk disebelah kirinya , kemudian Merry juga meraih lengan kiri Zee yang duduk di sebelah kanannya.


Merry menautkan tangan Zee dan Vanya sambil berkata, " Setiap orang memiliki cerita masa lalu yang mungkin tidak semuanya bagus dan sempurna tapi ingat ya, kalian sudah menikah artinya cinta bukan lagi hal yang utama melainkan rasa tanggung jawab agar hubungan pernikahan kalian bisa bertahan lama, cinta pasti akan tumbuh dengan sendirinya jika kalian berdua mau sama sama saling membuka hati dan menyisihkan satu ruang di hati untuk satu sama lain. "


"Pokoknya aku gak mau denger kalian pisah atau berantem cuma gara gara kisah masa lalu yang belum kelar. Sekarang Vanya juga sahabat ku sama seperti Zee yang juga akan aku lindungi sepenuh hati. "


"Ayo baikan ! gak guna marahan cuma karena masalah sepele. Soal Sabrina biar aku yang atasi, kalian cukup saling membuka hati dan menjaga satu sama lain oke !!" Merry mengeratkan tautan antara tangan Zee dan Vanya.


Mereka bertiga seakan saling mengukuhkan jika mulai saat ini dan seterusnya ketiganya akan saling menguatkan satu sama lain.