
Hari sudah sore dan Zee masih betah berada di atap gedung fakultas dengan laptop diatas pangkuan dan sesekali memeriksa ponsel apakah Vanya sudah mengirim pesan atau belum.
Belum ada pesan yang masuk, Zee memilih menunggu pesan dari Vanya sambil mengerjakan cicilan tugas untuk skripsi.
Zee harus menyiapkan berkas untuk pengajuan magang di sebuah perusahaan, rencananya Zee akan coba magang seminggu untuk menunjukkan kemampuan di dunia bisnis.
"Kenapa Vanya belum kirim pesan, ini sudah sore.." gumam Zee yang akhirnya kembali meraih ponsel usai menyelesaikan berkas yang esok hari akan dia bawa ke perusahaan.
Zee memainkan ponselnya, Mencari nomor Vanya lalu menekan tombol hijau untuk menghubungkan panggilan suara.
Ddrtttt..
Ddrrttt..
Ddrrrttt...
Ponsel Vanya terus bergetar di dalam tas, Vanya tidak mendengar karena mode silent dan saat ini Vanya masih asik memainkan laptopnya.
Panggilan berdering tapi tidak diangkat membuat Zee khawatir, segera Zee membereskan pelengkapan kampusnya dan segera menuju parkiran untuk menjemput Vanya.
Sore hari kondisi kampus memang sudah sepi, hanya tampak satu satu beberapa orang yang mungkin sedang mengerjakan tugas dari dosen dan beberapa petugas kebersihan.
Usai memarkirkan mobil di pelataran gedung F segera Zee melangkahkan kakinya menuju ke kelas Vanya.
Dan benar saja , Zee yang berjalan tergesa gesa justru melihat Vanya sedang asik dengan laptop di bangku kelasnya.
"Astaga Vanya, kenapa kamu gak angkat telpon ku ?" tanya Zee sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kelas Vanya.
"Eeh.. Ehmm Zee, maaf aku terlalu asik cari referensi buat bikin tugas dari dosen." jawab Vanya sedikit terkejut lantas dengan sigap mulai membereskan peralatan kampusnya.
"Aku bisa sendiri kok. Ayo.." Vanya menolak saat Zee hendak membantu membawakan tas nya.
Mereka berdua lalu berjalan keluar dari kelas dan menuju mobil di parkiran.
Mobil Zee melaju perlahan meninggalkan gedung kampus, membelah jalanan kearah pulang ke apartemen.
Tidak ada topik pembicaraan, Vanya hanya diam dan memilih melihat pemandangan kota di luar jendela mobil sedangkan Zee juga tampak fokus mengemudi sesekali menoleh ke arah Vanya yang masih saja irit bicara.
"Vanya.. ehmm apa masih sakit ?" tanya Zee membuka pembicaraan sambil menatap sekilas bagian bawah tubuh Vanya .
"Hhmmm" jawab Vanya singkat tanpa menoleh.
"Kita ke apotek dulu, beli salep." ucap Zee yang tanpa menunggu jawaban dari Vanya mengarahkan mobilnya ke apotek terdekat.
Vanya hanya diam, tidak menolak tidak juga mengangguk setuju.
Tiba di apotek, Vanya menunggu di mobil sementara Zee turun untuk membeli barang yang dimaksud.
Di apotek atau toko obat memang dijual bebas salep untuk mengatasi nyeri karena lecet atau luka di area sensitif. Kurang dari sepuluh menit Zee sudah kembali masuk ke dalam mobil.
"Ini, nanti di pakai sebelum tidur. Itu akan mengurangi rasa nyeri dan lecet. Sekali lagi aku minta maaf ya Vanya.." ucap Zee lembut sambil menyerahkan plastik berisi salep ajaib .
"..." Vanya menerima tanpa menjawab ucapan Zee.
Setelah memasukkan ke dalam tas, Vanya kembali lebih memilih menatap ke luar jendela, lampu kota Paris yang menyala di sepanjang jalan tampak terang kekuningan disertai salju tipis yang mulai turun membuat suasana terkesan romantis bagi sebagian orang tapi tidak bagi Vanya.