
Pesawat mulai terbang rendah di atas langit negara Prancis , Zee dan Vanya serta uncle Clark sudah bangun dari tadi dan kini sembari pesawat pribadi mengelilingi langit Prancis untuk landing, Zee dan Vanya duduk menghadap jendela dan melihat keindahan diluar sana.
"Mana menara Eiffel, tidak terlihat dari atas sini..." gumam Vanya lirih.
"Menara Eiffel ada di paris, kita bisa melihat itu setiap berangkat dan sepulang kuliah." ujar Zee ramah.
"Hmm berapa lama lagi kita sampai Zee ?" tanya Vanya dengan masih menatap keluar jendela.
"sebentar lagi pesawat akan landing di bandara, lalu kita akan ganti perjalanan pakai mobil menuju mansion orang tuaku dulu. " perkataan Zee membuat Vanya keheranan.
Dalam pikiran Vanya membayangkan jika naik pesawat pribadi itu sama saja dengan naik mobil yang bisa langsung mendarat di depan rumah.
Hahahaha pemikiran yang terlalu naif..
Pesawat sedikit mengalami turbulensi saat memasuki kawasan bandara sehingga semua yang ada di dalam pesawat duduk dengan tenang dengan sabuk pengaman yang kencang.
Turbulensi atau guncangan di udara hanya sekitar satu menit, setelah itu pilot membawa pesawat pribadi milik keluarga Sanders berhenti di dekat landasan khusus.
Asisten Clark adalah yang terakhir turun dari pesawat karena dia harus memastikan tidak ada barang bawaan yang terlupa.
Kelebihan lain kenapa mereka memilih pesawat pribadi adalah supaya tidak mengantri lama untuk pengambilan barang .
Zee dan Vanya masing masing hanya membawa satu tas ransel berisi benda benda pribadi penting mereka.
Barang barang lainnya akan diurus oleh petugas yang diawasi asisten Clark.
Aroma udara negara Prancis memang berbeda jika dibandingkan di Bali. Saat ini masih masuk musim dingin jadi suhu udara pun rendah.
Zee mengajak Vanya untuk membeli minuman hangat sembari menunggu asisten Clark menyiapkan mobil.
Dua gelas coklat panas untuk masing masing mereka nikmati sambil duduk di sebuah kafe di dalam bandara.
"Memikirkan sesuatu Vanya ? dari tadi kamu hanya diam." tanya Zee sambil mengaduk aduk coklat panas miliknya.
"Hmm itu Zee apa kira kira aku bisa bertahan dengan cuaca dingin ini ya ? aku kan gak punya baju hangat." sebuah kalimat yang sebenarnya tidak terlalu penting meluncur dari mulut Vanya.
Hal itu membuat Zee terkekeh menahan tawa , "Tentu saja kamu punya baju hangat Vanya. Sudah aku bilang kan jika semua yang kamu butuhkan sudah disediakan tanpa kecuali."di
Hampir setengah jam mereka berdua menunggu hingga akhirnya Asisten Clark menelpon Zee mengatakan jika mobil sudah siap.
Zee dan Vanya segera pergi dari kafe untuk menghampiri asisten Clark di loby.
Sebuah mobil mewah mirip dengan yang di kendarai Zee di Bali , berwarna hitam legam dan sepertinya juga keluaran terbaru.
Mobil berisi Zee dan Vanya yang duduk di belakang dan asisten Clark menjadi supir didepan. Cukup jauh perjalanan yang ditempuh karena lokasi mansion keluarga Sanders yang berada di wilayah yang jauh dari perkotaan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menghabiskan hampir dua jam perjalanan.
Vanya terkagum oleh situasi yang dia lihat lewat kaca jendela mobil terlebih lagi saat mobil memasuki kawasan Mansion yang menurut Vanya mirip istana .
Setelah memasuki kawasan mirip hutan tersebut mobil mulai masuk gerbang utama yang terbilang sangat mewah.
Dinding pagar setinggi lebih dari dua meter tampak mengelilingi mansion utama, belum lagi dengan pintu gerbang yang otomatis terbuka saat sensor otomatis mengidentifikasi mobil dan penumpang di dalamnya.
Sensor otomatis akan memindai struktur keseluruhan dan disinkronkan dengan yang ada pada layar monitor bagian keamanan.
Jika tidak sesuai dengan data yang ada di monitor pengawas maka pintu gerbang utama tidak akan terbuka dan siapapun itu tidak akan bisa masuk ke dalam.
Setelah melewati pintu gerbang utama yang membuka dan menutup secara otomatis kembali mobil melaju sekitar satu menit untuk tiba di pelataran depan mansion
"Kita sudah sampai tuan muda , nona muda.." ucap asisten clark yang kemudian turun untuk membukakan pintu.
Begitu Zee dan Vanya turun dari mobil tampak beberapa pelayan berjejer di teras menyambut kedatangan majikan mereka.
Vanya terhenyak sesaat saat netranya memandang taman depan mansion yang sangat luas, bahkan menurut Vanya lebih luas dari kampung nelayan di Bali
Bagian taman depan saja seluas ini , lalu bagaimana dengan bagian lainnya Hmm aku benar benar seperti berada di istana ... batin Vanya terkagum.
Semua pelayan menyambut kedatangan tuan muda dan istrinya , mereka menundukkan kepala dengan hormat , sama sekali tidak ada yang di perbolehkan melirik apalagi bertatapan dengan majikan mereka.
Akan ada hukuman bagi setiap pelayan yang melanggar aturan , tidak boleh menatap majikan lebih dari dua detik atau kepala pelayan akan memberikan hukuman secara langsung.
"Selamat datang kembali tuan dan nona muda.." ucap salah seorang wanita berpakaian pelayan berusia setengah abad dengan sikap keibuan.
Nancy adalah seorang kepala pelayan di mansion Sanders . Dan sudah menjadi bagian dari mansion Sanders sejak Zee masih kecil.
"Nancy, tolong antar tuan muda Zee dan nona muda Vanya menemui tuan Devan dan Nyonya Lucy di ruangan keluarga." ucap asisten Clark memerintahkan Nancy.
"Baik tuan, mari saya antar.."Nancy berjalan duluan didepan Zee dan Vanya .
Para pelayan lainnya masih tetap berdiri ditempat dengan kepala menunduk hormat tidak berani mereka mengangkat kepala sebelum para majikan pergi.
Begitu Nancy membuka pintu Mansion, lagi lagi Vanya dibuat terkagum dengan desain interiornya yang ternyata sangat modern , padahal dari luar tadi mansion ini terlihat sangat klasik namun ternyata di dalamnya banyak benda benda canggih seperti robot berbentuk bundar yang kesana kemari seperti sedang menyapu membersihkan lantai.
Belum lagi robot lain yang berbentuk seperti kapsul sedang membersihkan debu pada tirai jendela .
"Tuan, nyonya.. tuan muda dan nona muda sudah tiba.." ucap Nancy sopan penuh hormat pada tuan dan nyonya Sanders.
"Bawa mereka masuk Nancy.." ucap mommy Lucy yang tidak sabar .
Begitu Nancy mempersilakan tuan muda dan nona muda masuk ke dalam ruangan sontak Mommy Lucy menghambur ke arah dua putra dan putrinya itu , mereka bertiga berpelukan erat dan tidak lupa mommy Lucy mencium pucuk kepala Zee dan Vanya satu per satu.
"Mommy kangen banget sama kalian , ayo duduk dan sapa daddy kalian." mommy Lucy menggandeng tangan Zee disebelah kiri dan tangan Vanya di sebelah kanan.
Membawa keduanya berhadapan dengan sang daddy yang tampak menyunggingkan senyum khas berwibawa lalu satu persatu Zee maupun Vanya meraih punggung tangan daddy Devan dan menciumnya bergantian.