
Mobil yang di kemudikan oleh Zee kembali ke apartemen, kemudian Zee memesan sebuah taksi online untuk mengantar dirinya ke perusahaan yang akan jadi tempat magangnya beberapa hari ke depan.
Beberapa menit perjalanan Zee kini tiba di lokasi yang di maksud, dengan langkah kakinya yang lebar Zee masuk melewati loby dan menemui resepsionis untuk menanyakan ruangan HRD tempat mahasiswa magang memverifikasi data.
Seorang resepsionis wanita mengarahkan Zee untuk naik ke lantai dua dimana semua calon pegawai magang menunggu untuk di panggil masuk ke dalam ruangan kepala HRD.
Zee menunggu bersama beberapa orang lainnya, tampak dari penampilan mereka semua lebih tua dari Zee. Satu persatu para calon pegawai magang menemui kepala HRD untuk mendapatkan divisi kerja sesuai jurusan kuliah masing masing.
Dari belasan calon pegawai magang tidak semua lolos, beberapa harus menerima pil pahit penolakan dari pihak perusahaan karena data mereka tidak sesuai dengan standar penerimaan pegawai.
Setelah menunggu sekian menit kini giliran Zee yang masuk keruangan HRD. Zee bersikap sopan dan tidak gegabah, meski dirinya adalah putra dari pemilik perusahaan tetapi Zee tidak ingin ada satu pun karyawan yang mengenalinya.
Dalam wawancaranya Zee mampu melewati dan menjawab semua pertanyaan kepala HRD dengan baik dan benar, kepala HRD berusia setengah abad itu mengirim Zee ke divisi administrasi perusahaan.
Sengaja memang Zee ingin masuk ke divisi tersebut lantaran ingin melihat langsung bagaimana cara kerja para karyawan dan juga memantau data perusahaan.
Saat Zee dan seorang pria lainnya yang sama sama diterima berjalan menuju divisi tempat mereka akan magang di lantai 5.
Baru saja Zee menekan sebuah tombol di lift bersamaan dengan asisten Clark yang juga hendak masuk ke dalam lift bersama salah seorang direktur.
Asisten Clark dan Zee bertatapan sedetik kemudian keduanya bersikap seolah tidak saling kenal. Zee dan rekan barunya yang bernama Mario berdiri dibelakang dua pria dengan jabatan penting di perusahaan.
"Suatu hari aku juga ingin memiliki jabatan tinggi seperti mereka Zee." kata Mario membisik di dekat telinga Zee.
Asisten Clark melengkungkan senyum tipis tanpa membalik badan menatap Zee, mendengar penuturan Zee yang sangat diplomatis membuat dirinya ikut bangga.
Asisten Clark dan seorang pria dengan jabatan direktur keluar dari lift di lantai tiga. Kembali lift menutup menyisakan Zee dan Mario menuju ke lantai lima.
Tingg~
Pintu lift terbuka dan keduanya berjalan masuk ke sebuah ruangan untuk menemui kepala divisi jika mereka mulai bekerja sebagai pegawai magang per hari ini.
Zee mendapatkan tugas pertamanya menyusun arsip berisi data informasi semua karyawan di perusahaan. Bukan puluhan map tapi ada ratusan bahkan mungkin hampir ribuan.
Zee saat ini berada di sebuah ruangan khusus berisi jejeran rak berisi map map penting perusahaan. Zee tidak sendirian karena ada seorang pegawai senior yang membantu serta mengawasi.
"Di dalam ruangan ini terdapat kamera cctv dan sensor keamanan khusus, alat pemindai akan berbunyi jika ada yang masuk ke dalam ruangan ini dengan membawa ponsel dan sejenisnya. Hanya orang tertentu saja yang bisa memiliki akses keluar masuk ruang pusat administrasi perusahaan dan aku heran kenapa mereka mengirim pegawai magang untuk membantu aku. Jadi sebaiknya kamu jangan berpikir macam macam selain merapikan map di rak, mengerti Zee ?" ucap pegawai senior yang tampak sangat cupu dengan setelan kerja dan gaya penampilan konservatif era 80an.
"Saya akan bekerja sebaik mungkin senior, mohon bimbingannya." Zee memberi hormat pada pegawai senior yang entah usianya sudah berapa puluh tahun tapi seakan akan pegawai senior itu tidak pernah keluar dari ruangan ini.
Pegawai senior memerintahkan Zee untuk menyusun map berisi data pegawai di setiap divisi. Zee harus merapikan dan mengurutkan setiap map sesuai warna dan kode divisi yang berbeda beda.
Hari pertama Zee bekerja dan langsung tenggelam dalam tumpukan map di ruang administrasi.
Sementara itu di Paris university..