ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 48 Ketiduran



Setibanya di apartemen Zee dan Vanya langsung masuk ke dalam kamar masing masing. Siang tadi sudah ada pelayan khusus keluarga Sanders yang membersihkan apartemen.


Semua pakaian kotor sudah di laundry, sprei di kamar Zee yang terdapat bercak darah sisa percintaan semalam juga sudah diganti dengan yang baru. Bahan makanan didalam kulkas sudah diganti dengan yang segar , semua peralatan kotor sudah bersih di tempat semula.


Benar benar bersih tidak ada sebutir debu pun yang tersisa.


Usai mandi , Zee saat ini berada di dapur untuk melihat isi bahan makanan di dalam kulkas. Tampak berbagai macam frozen food yang praktis tinggal di panaskan ke dalam microwave.


Setelah menimang nimang menu apa yang akan mereka makan, Zee memutuskan dengan cepat mengambil daging angsa yang terbungkus aluminium foil, Zee memilih daging angsa yang dibumbui saus barbekyu, mengambil dua porsi untuk makan malam.


Sembari Zee sibuk di dapur, Vanya di dalam kamar memilih untuk merebahkan diri sesaat sambil menatap langit langit kamar nya. Pikiran Vanya menerawang entah kemana saat ini tubuhnya terasa sangat lelah sehingga secara perlahan-lahan Vanya mulai menguap ingin tidur.


Baru saja Vanya terlelap terdengar Zee mengetuk pintu kamarnya, sontak hal itu membuat Vanya lekas bangun dan melangkahkan kakinya yang terasa berat keluar dari kamar menuju dapur.


Dua piring masing masing berisi potongan daging angsa dengan sayuran dan bumbu barbekyu hangat yang disiram diatasnya membuat cacing di dalam perut Vanya mulai berontak.


"Makan dulu setelah ini baru kerjakan tugas dari dosen ." ucap Zee lembut sambil menuangkan segelas jus lemon di gelas untuk Vanya .


"Hhmm thanks." jawab singkat Vanya yang kemudian mukai menikmati makan malam bersama Zee.


Saat makan keduanya bersikap tenang dan tidak saling bicara. Makan malam selesai dalam waktu kurang dari dua puluh menit.


Selesai makan Vanya langsung masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan tugas dari dosen hari ini.


Sedangkan Zee, dia baru saja menghubungi asisten Clark agar dibantu untuk urusan magang di salah satu anak perusahaan milik Daddy Devan yang ada di Paris.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan Vanya belum selesai membuat satu pola pun.


Kenapa tiba tiba otakku buntu.. batin Vanya menghela nafasnya panjang dan kemudian memilih membawa laptopnya ke balkon.


Zee yang baru saja mengambil air minum tampak melihat Vanya di balkon luar seperti sedang mengerjakan tugas. Dengan inisiatif Zee membuatkan satu gelas susu dicampur cokelat panas untuk Vanya.


"Diluar dingin Vanya, ini susu hangat di campur cokelat untuk kamu." Zee meletakkan gelas di meja sisi tempat Vanya duduk.


"Makasih." jawab Vanya singkat Tanpa menoleh pada Zee.


Sedetik pun kemudian tidak ada lagi pembicaraan, Vanya terlalu fokus dalam membuat desain yang tadinya sudah ada di kepalanya tapi begitu akan dituangkan ke dalam sketsa tiba tiba blank.


Zee menatap sekilas ke arah layar laptop milik Vanya lalu berdehem dan berkata,


Eghem,


"Apa kamu butuh bantuan ?" tanya Zee .


"Enggak." jawab singkat Vanya.


"Aku bisa membantu kamu kalau mau, bukankah itu adalah tugas merancang pola desain sebuah gaun heum ?" tanya Zee lagi dengan lembut.


"Hhmmm..." Vanya hanya menjawab dengan gumaman singkat.


"Mommy Lucy punya kenalan seorang desainer terkenal , salah satu pemilik saham merk Ce*lin yang terkenal di Paris. Aku bisa bantu kamu buat janji bertemu dengan teman mommy Lucy tapi ada syaratnya." Zee menatap ke arah Vanya yang masih enggan beradu tatap.


"..." Vanya hanya diam tidak merespon, membuat Zee gemas sendiri.


"Aku gak marah,lepasin !" Vanya menolak membuang muka lalu kembali ke laptop di pangkuan nya.


"Gak marah tapi seharian kamu bersikap seakan akan kamu memang marah . Vanya , bukankah aku sudah minta maaf dan kamu mau maafin aku , ingat kan ? Lalu bisakah sekarang kita berinteraksi seperti biasanya ?" ucap Zee dengan sorot mata tegas namun lembut.


"Aku lagi gak mood aja ,awas !" Vanya hendak beranjak masuk ke dalam tapi Zee dengan cepat dan gesit menarik tubuh Vanya duduk kembali di pangkuannya.


"Awshh Zee !!" Vanya melotot menatap Zee yang tiba tiba saja menarik dirinya kembali duduk di pangkuan.


"Sini biar aku bantu, menurut lah pada suamimu oke !" ucap Zee tegas membuat Vanya tercekat.


Suami.. cih .


Zee membantu mengotak atik laptop Vanya, sedangkan Vanya tampak tidak nyaman saat tubuhnya berada dalam dekapan Zee yang terasa, hangat dan nyaman.


Aarrhh Gusti kenapa pria yang seharusnya aku benci justru tubuhnya terasa hangat dan nyaman begini !!! batin Vanya .


Vanya mengerjapkan mata berkali kali saat menyadari hal itu, lalu sejurus kemudian tidak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah membiarkan Zee membantu dirinya mengerjakan tugas.


Setengah jam , hampir setengah jam berlalu dan posisi mereka masih belum berubah meski Zee sudah menutup laptop dan meletakkan di atas meja.


"Bisa bisanya dia ketiduran di pangkuanku, " Zee tersenyum tipis melihat Vanya yang mendengkur halus dalam dekapannya.


Tidak ingin membangunkan, Zee membiarkan Vanya tertidur dalam dekapan lebih lama lagi. Entahlah perasaan apa yang saat ini sedang Zee rasakan tapi saat bersama Vanya hatinya merasa lebih nyaman.


Zee menatap langit malam dari balkon, dengan posisi duduk bersandar pada kursi malas dan Vanya yang tertidur nyaman di atas tubuhnya.


Tubuh Vanya yang mungil memang membuat Zee selalu gemas karena mudah sekali untuk direngkuh. Tiba tiba saja sekelebat aktifitas ranjang pertama mereka menari nari dalam kepala Zee yang saat ini merasakan tubuhnya menghangat.


Dengan lembut Zee mengusap kepala Vanya lalu,


Cup.


Satu kecupan mendarat di pucuk kepala Vanya sebelum Zee membawa istri mungilnya masuk kembali ke dalam kamar dalam gendongan ala bridal.


Dengan hati hati Zee membaringkan tubuh mungil Vanya yang tidak terusik, saat Zee ingin membenarkan letak selimut pada tubuh Vanya tiba tiba


Grebb..


Vanya merengkuh lengan tangan Zee , sepertinya Vanya sedang bermimpi atau mengigau karena berkali kali memanggil nama orang tuanya.


Bapak.. bapak.. bapak jangan pergi pak.. bapak.. jangan pergi.. seolah olah lengan Zee adalah bapak Vanya yang sudah tiada.


Merasa semakin erat Vanya menarik saat Zee ingin menarik diri akhirnya, Zee memutuskan untuk menemani Vanya sebentar lagi.


Zee bersandar pada dashboard ranjang dengan satu lengannya masih dipeluk erat oleh Vanya. Menatap hal itu membuat Zee tidak tega dan kembali merasakan sedih yang sama seperti dirasakan Vanya saat masih di Bali.


Karena tak kunjung dilepaskan, Zee sampai ikut tertidur dan entah mereka berdua sadar atau tidak tetapi tubuh keduanya saling berpelukan satu sama lain.


Vanya yang memeluk lengan Zee , dan Zee yang memeluk tubuh mungil sang istri. Tidak bisa dipungkiri keduanya sama sama merasa nyaman dalam tidurnya malam ini.