
"Dimana Vanya.. " lirih mommy Lucy bertanya setelah sadar dari pingsannya.
"Dia ada disi~ ni" tuan Dev menunjuk tempat dimana tadi Vanya berada dan kini kosong.
"~Eh kemana gadis itu. " tuan Dev heran lantaran tidak melihat saat Vanya tadi diam diam keluar dari ruangan.
"Bawa Vanya kemari suamiku, jangan biarkan dia sendirian kasihan.. " mommy Lucy menatap sang suami sambil berkaca kaca.
"Hhmm biar aku suruh orang untuk mencarinya, mungkin Vanya hanya kembali ke kamar inapnya. Istirahatlah dulu sayang kondisi tubuhmu lemah. " tuan Dev meminta sang istri agar tetap berbaring di atas ranjang.
Sedangkan Zee, yang sedari tadi berdiri di dekat ranjang merasa kesal, lagi lagi sang mommy lebih khawatir pada gadis miskin itu ketimbang dirinya yang juga tengah terluka.
"Mom.. apa mommy tidak khawatir padaku ? lihatlah perbuatan Vanya mom, dia melukai aku putra kesayangan mommy.. " tiba tiba saja Zee ikut mendusel berbaring disisi sang ibu.
"Zee, kamu anak laki laki yang kuat mommy tahu itu. Sudah seharusnya kamu tidak melawan calon istrimu, ingatkan jangan pernah menyakiti wanita. " mommy Lucy mengusap Zee dengan lembut pancaran kasih sayang sangat terasa.
Mommy Lucy memang sebaik itu, dia jarang marah apalagi emosi. Keseharian mommy Lucy juga selaku kalem dan elegan, selalu bersikap keibuan penuh kasih dan sayang.
"Aku tahu itu mom, kalau saja Vanya itu laki laki pasti kami sudah adu jotos dan aku yang menang. " jawab Zee ringan.
"Mommy tahu itu nak, bukankah mommy mendidikmu dengan sangat penuh kasih sayang supaya kelak kamu juga bisa memperlakukan orang lain sama baiknya. Bersabarlah nak, mommy yakin Vanya adalah gadis yang baik, dia sangat manis dan pintar. " tutur mommy Lucy sambil mengusap Zee yang semakin nyaman sampai ngantuk.
"Hhmm.. mommy memang yang terbaik, love you mom.. " Zee mencium pipi sang mommy sekilas lalu kembali memejamkan mata dan tertidur dalam dekapan nyaman mommy Lucy.
Membiarkan istri dan putra semata wayangnya beristirahat, tuan Dev mengajak Asisten Clark bicara di luar kamar.
"Cari gadis itu Clark, bawa dia kemari. Aku yakin setelah kejadian tadi dia tidak mungkin kembali kd kamarnya, tapi coba kamu pastikan dulu. Jika benar Vanya kabur maka kamu harus temukan dia sesegera mungkin, seperti kata istriku Vanya tidak boleh ditinggal sendiri kondisi mentalnya masih rapuh." ucap tuan Devan serius.
"Saya mengerti tuan Dev, sebelum kemari saya sudah menyelidiki segala informasi tentang Keluarga pak Beni, termasuk lokasi tempat tinggal mereka. Saya akan coba susuri setiap lokasi yang memungkinkan gadis itu pergi. " Asisten Clark yakin Vanya pasti kembali ke rumahnya karena tidak mungkin jika Vanya ke makam sang ibu malam malam begini.
Selanjutnya uan Dev meminta tolong pada asisten Clark untuk mencari keberadaan Vanya. Asisten Clark yang paham segera pergi mencari Vanya.
Pertama Asisten Clark mencari di kamar inap Vanya namun nihil. Gadis itu tidak ada di kamar, dia beneran kabur.
Merasa jika Vanya pasti kabur dari rumah sakit, segera Asisten Clark meminta bantuan keamanan untuk memeriksa rekaman cctv dan benar saja.
Berkat pengaruh kekayaan dan kekuasaan atas nama keluarga Sanders, kurang dari sepuluh menit Asisten Clark berhasil mendapatkan apa yang dia cari.
Asisten Clark memgamati arah larinya calon istri ruan muda usai berhasil keluar dari rumah sakit.
Dengan menggunakan mobil Asisten Clark memyusuri jalanan tempat Vanya melarikan diri.
Sementara itu..
Hari sudah berganti malam, Vanya akhirnya tiba di rumah kecilnya yang entah kenapa sangat dia rindukan.
Sebuah sepeda pemberian bapak dan ibu di hari ulang tahunnya yang ke 18.
Senyum tipis terukir di wajah Vanya yang mendekat dan mengusap sepeda tersebut, seolah kembali membayangkan kenangan indah yang mengingatkan pada sosok kedua orang tuanya.
Ingat sekali bagaimana susahnya bapak dan ibu Vanya mengumpulkan uang demi membelikan sepeda bekas yang kelak akan Vanya gunakan sebagai sarana transportasi mencari kerja.
Vanya menggelang pelan kemudian beralih masuk ke dalam kamar bapak dan ibu yang bersebelahan dengan kamarnya.
Sengaja memang Vanya masuk kedalam kamar Bapak dan Ibu karena di dalam kamar itu Vanya ingin bisa merasakan atmosfer aroma sosok Bapak dan Ibu.
Ibu yang sudah tiada namun aroma khas beliau masih bisa terasa di dalam kamar. Vanya berjalan meraih pakaian yang terakhir di pakai oleh ibu sebelum mengajak dirinya pergi.
Hiks.. satu air mata menetes kala Vanya memeluk daster ibu Rahma yang tergantung dibalik pintu.
Vanya meraih melepaskan daster dari gantungan lalu membawa ke atas ranjang , Vanya berbaring sambil mendekap erat Daster yang masih beraroma tubuh Ibu.
Ibuk... hiks..
Terisak Vanya meneteskan air mata di sisi ranjang yang biasa ibu tidur disitu, bantal yang sama aromanya dengan daster yang di dekap Vanya.
Vanya lelah ibu.. Vanya ingin bertemu ibu... hiks..
Vanya menangis sesegukan menumpakan beban yang dia rasakan, bayangan orang orang jahat itu membuat Vanya merasakan kebencian.
Meski ada tante baik hati yang selalu menguatkan Vanya sejak awal bertemu namun tetap saja, siapa sangka tante baik hati itu adalah ibu dari pria pembunuh.
Membayangkan sosok Zeevan Sanders yang pada kesan pertama memang sungguh terlihat tampan dan anak ibu banget, seketika Vanya merutuki dirinya sendiri yang sempat mengagumi ketampanan pria pembunuh itu.
Sampai kiamat pun aku gak akan sudi menikah sama kamu !! meskipun kamu berlutut meminta maaf aku juga gak bakalan maafin kamu !!! Kalau sampai kita bertemu lagi aku bersumpah akan bunuh kamu ZEEVAN SANDERS !!!! gejolak emosi Vanya menggebu dalam diam dan tangisnya.
Setelah itu Vanya mencoba untuk memejamkan matanya yang tidak bisa ditutupi sangat lelah usai berjalan kaki sejauh tiga kilometer dalam kondisi perut kosong pula.
Vanya lapar bu.. Vanya kangen masakan ibu. Meskipun hanya nasi dicampur bawang dan garam asalkan itu buatan ibu pasti rasaya paling nikmat sedunia. Bu.. apa ibu tahu dirumah sakit makananya mewah tapi gak enak. Makanan paling enak bagi Vanya hanya masakan Ibu.. gumam pelan Vanya yang perlahan mulai terlelap dalam tidurnya.
Bagi Vanya saat ini, dirinya tidak ingin melakukan apapun. Hanya ingin merebahkan diri dalam dekapan Ibu..
Sedangkan di tempat lain,
Saat ini mobil Asisten Clark mulai memasuki kawasan pesisir pantai yang gelap dan sepi.
Sebelumnya ketika dirinya mengumpulkan informasi tentang keluarga Vanya, Asisten Clark juga mendapatkan alamat rumah Vanya dan menyusuri peta gps sesuai petunjuk.
Sayangnya, Asisten Clark tidak menyangka jika tempat tinggal Vanya benar benar di wilayah pinggiran kota, bahkan lebih dekat ke wilayah pantai yang sulit dilewati mobil.