ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 42 Maaf..



Sinar matahari menyingsing menyinari bumi kota Paris , siluet sinar hangat masuk menyusup melalui jendela kamar apartemen tempat dimana dua insan masih berada di atas ranjang dengan tubuh polos hanya berbalut selimut.


Vanya masih terlelap membelakangi Zee dengan selimut yang menutup sampai batas leher. Zee sudah terbangun dari tadi namun dirinya juga masih enggan beranjak dari ranjang kamarnya.


Zee menyangga kepala dengan tangan menghadap menatap Tubuh Vanya dari belakang, tampak nafas yang teratur menandakan istri kecilnya masih larut dalam dunia mimpi.


Zee hanya menatap, pandangan yang seolah merasa bersalah tapi juga senang bersamaan.


Sebuah rasa yang membingungkan. Sudah jelas aku tidak ada rasa cinta ke Vanya tapi kenapa aku justru memilih melakukan percintaan pertamaku dengannya ? kenapa saat bersama Sabrina aku justru tidak merasa mau ? Apa ada yang salah dengan isi otak dan hatiku ?? Zee masih tetap menatap punggung gadis mungil yang sudah tidak perawan sejak beberapa jam yang lalu..


"Vanya.. bangunlah kita harus ke kampus kan hari ini." Zee mengusap pucuk kepala Vanya dengan lembut kemudian terlebih dahulu Zee turun dari ranjang .


Dengan langkah agak cepat Zee dengan tubuh sepolos bayi segera masuk ke dalam kamar mandi,


Zee menyelesaikan mandinya lebih cepat, lima belas menit kemudian sesi mandi pagi Zee selesai dan keluar dari kamar mandi masih hanya mengenakan handuk sampai batas pinggang.


Saat kaki Zee melangkah keluar , pada saat yang bersamaan juga terlihat Vanya sesekali meringis seperti sedang menahan rasa sakit dan perih.


Terlihat dari bagaimana cara Vanya berjalan dapat dipastikan Vanya benar benar kesakitan saat percintaan paksa semalam.


Vanya berjalan pelan dengan tangan merambat bertumpu pada tembok hendak keluar dari kamar Zee.


Melihat hal itu tentu saja Zee tidak bisa tinggal diam atau cuek karena biar bagaimana pun itu karena kesalahan nya .


Syuuuttt~ tubuh Vanya terasa seperti terbang saat dua tangan Zee menopang bobot tubuhnya dan mendekap menempel di dada Zee yang terekspose.


"Zee.." ucap Vanya lirih pelan sekali tanpa menatap lawan bicara nya.


"Tidak apa, aku akan bantu kamu membersihkan badan." Zee dengan hati hati membawa Vanya kembali ke kamar sebelah milik Vanya.


Begitu masuk ke dalam kamar, Zee langsung membawa Vanya masuk ke dalam kamar mandi lalu dengan pelan menurunkan Vanya dari gendongannya.


"Disini dulu biar aku siapkan air hangatnya." ucap Zee pelan setelah Vanya berdiri didekat wastafel.


Zee mengisi bathtub penuh dengan air hangat, sembari menunggu air hangat memenuhi bathub Zee mengambil sebuah handuk kecil untuk membersihkan bagian tubuh Vanya yang masih terdapat darah kering.


Awalnya Vanya menolak namun karena Zee memaksa Vanya lebih memilih diam . Vanya malas beradu argument dengan Zee terlebih lagi saat ini Vanya lebih merasakan nyeri pada tubuh bagian bawah.


Terasa nyaman saat Zee membersihkan area pangkal paha dengan handuk kecil yang direndam air hangat,meski begitu tetap saja Vanya merasa risih karena posisi Zee yang tengah berjongkok dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dan menghadap persis di bagian V Vanya.


"Tenanglah Vanya , aku gak mungkin melakukan itu lagi padamu . Yang semalam itu karena.." Zee mendongak menatap Vanya yang masih memalingkan muka kemudian melanjutkan kalimatnya,


"Semalam ada yang sengaja menjebak ku dan aku tidak bisa menahan diri saat kamu memanggil namaku di kamar. Maaf Vanya..' nada bicara Zee terdengar menyesal meski dalam hati Zee merasakan hal yang sebaliknya.