
Pagi pagi sekali Zee sudah terbangun. Nyenyak sekali tidurnya semalam, Zee terbangun dalam posisi tidur memeluk Vanya dalam dekapan seperti guling.
Karena tidak ingin membangunkan Vanya yang masih tampak pulas, Zee keluar dari kamar dengan jalan yang mengendap endap.
Ceklek.. suara pintu kamar menutup.
Vanya membuka mata di balik selimut nya. Sejujurnya Vanya sendiri juga sudah bangun bahkan lebih awal dibandingkan Zee tapi Vanya tidak berani banyak bergerak karena takut memancing hal hal yang tidak diinginkan.
Akhirnya dia pergi juga. Gusti.. kenapa bisa bisanya aku tidur nyenyak sekali bersama pria itu.. gumam Vanya pelan yang kemudian beranjak dari pembaringan dan membersihkan diri di kamar mandi.
Zee baru selesai mandi dan saat ini sedang dalam sambungan telepon dengan seseorang, tampak gurat serius saat Zee mengatasi sesuatu terkait Vanya.
"Hmm pokoknya kamu harus terus awasi Vanya, jangan sampai dia kenapa napa , apapun aktivitas Vanya di kampus kabarkan padaku ,hmm oke bye." ucap singkat Zee sebelum mengakhiri panggilan suara.
Pagi ini Zee hanya mengantarkan Vanya sampai ke gedung fakultas, setelah itu dirinya akan langsung bertolak ke anak perusahaan keluarga.
"Uncle Clark sudah menyiapkan tempat untuk aku magang jadi , selama itu juga aku hanya akan ke kampus untuk mengantarkan kamu. Jika urusanku selesai lebih awal aku akan jemput kamu tapi kalau ada lembur maka, kamu pulang naik taksi berani kan ?" ucap Zee saat mobil masuk ke pelatihan parkir gedung F Paris university.
"Aku tahu , lagipula jarak kampus ke apartemen itu dekat, jalan kaki paling gak sampai tiga puluh menit." jawab Vanya singkat.
"Aku tahu tapi., jangan jalan kaki untuk pulang. Naik taksi atau transportasi online, bayar pakai ini terimalah." Zee mengulurkan sebuah kartu virtual yang bisa digunakan untuk membayar transportasi apa saja.
"Pastikan ponselmu selalu aktif dan jangan abaikan saat aku menghubungi kamu, mengerti kan Vanya ? saat ini kamu adalah tanggung jawabku jadi semua yang terjadi padamu harus sepengetahuan ku." Zee mematikan mesin mobilnya dan mengantar Vanya sampai ke depan kelas seperti sebelumnya.
Tidak ada yang tampak aneh keduanya hanya berjalan bersama dengan jarak dua meter seperti sebelum sebelumnya namun siapa sangka jika saat ini sepasang mata tengah memantau pergerakan Zee dan juga Vanya.
"Aku bukan anak kecil yang harus diantar sampai ke bangku kelas kan Zee , sampai jumpa nanti sore di rumah bye." Vanya melambaikan tangan sekali kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.
Zee benar benar menunggu sampai Vanya duduk dengan aman di bangkunya , setelah itu barulah Zee pergi.
jadi ternyata perempuan itu, dia yang sudah merebut perhatian Zee dariku. Awas saja akan aku beri pelajaran kamu bi*tch !!! Sabrina geram saat melihat langsung Zee sang pacar mengantar seorang murid junior sampai ke dalam kelas.
Sengaja Sabrina datang ke kampus lebih awal untuk membuntuti sang pacar yang katanya punya gebetan baru di gedung F.
Kebetulan sekali tadi Sabrina menunggu di sekitar area parkiran dan mengikuti dalam jarak aman.
Sabrina kesal lantaran apa yang diucapkan teman teman Zee benar adanya dan kini dia harus menyusun rencana untuk menjauhkan Zee dari wanita lain.
Aku akan pastikan kamu menyesal sudah berani menjerat Zee ku. Batin Sabriba dengan smirk jahatnya.