
Menjelang sore di perpustakaan kota..
Zee belum juga muncul padahal Vanya sudah selesai membaca dua buku, di tangannya saat ini adalah buku ketiga yang dia pelajari.
Lapar..
Ya.. saat ini Vanya juga tengah menahan rasa lapar yang melanda sejak beberapa waktu yang lalu. Dirinya melewatkan jam makan siang dan sekarang hari mulai sore.
Vanya celingukan menoleh berulang kali ke arah pintu siapa tahu Zee yang muncul. Sayangnya nihil , lagi lagi Vanya menghembuskan nafasnya pelan dan panjang.
Aku lapar dan haus, tapi Zee tidak mengijinkan aku keluar dari perpustakaan tanpa dirinya. Aaa aku butuh minum dan makan !!! batin Vanya yang sudah mulai kurang fokus pada buku di hadapannya.
Sudah banyak sketsa desain yang Vanya lihat dan pelajari , rencananya Vanya akan menuangkan gabungan antara ide di otaknya dengan apa yang dia pelajari hari ini.
Buku ketiga sudah selesai Vanya pelajari, kini dirinya benar benar jenuh dan hanya bisa memainkan jemarinya diatas meja, mengetuk ngetuk jemari yang tak berkuku panjang sambil menatap ke arah pintu berharap Zee segera datang menjemput nya.
Pukul lima sore hari perpustakaan sudah akan tutup, satu per satu pengunjung mulai meninggalkan gedung kecuali Vanya yang merasa ragu untuk melangkah kan kakinya karena tidak tahu setelah diluar gedung perpustakaan dia harus kemana.
Bersamaan dengan petugas perpustakaan yang hendak menegur Vanya karena masih tetap tidak beranjak dari duduknya, pada saat yang sama juga Zee muncul dan tergesa menghampiri,
"Maaf aku terlambat Vanya , maaf ya.." Zee menghampiri dan meraih pergelangan tangan Vanya untuk pergi setelah sebelumnya menyapa petugas perpustakaan dan minta maaf karena sudah merepotkan.
Vanya pasrah saja saat Zee menggandeng tangannya seperti seorang kakak yang ngajak adiknya pulang main.
Sampai di tempat Zee memarkir motor nya , Zee membantu Vanya memakai helm dan setelah memastikan Vanya siap ,
"Kamu pasti lapar kan, kita akan pergi makan dulu setelah itu pulang, oke ?" ucap Zee yang tanpa persetujuan Vanya sudah siap melajukan motor nya.
"Aku hampir pingsan Zee.." ucap Vanya lirih saat sudah berada di posisi boncengan belakang.
Vanya menyandarkan kepalanya di punggung Zee sambil kedua tangan berpegangan pada jaket Zee.
Zee merasa sedikit bersalah karena sudah membiarkan Vanya menunggu dirinya, Maaf Vanya kamu setia menungguku yang padahal tidak mengerjakan tugas kampus melainkan kencan dengan pacarku..
Sebagai ungkapan rasa bersalahnya Zee mengajak Vanya makan di sebuah restoran yang cukup terkenal .
"Makanan hangat yang akan mengenyangkan tanpa harus melihat tag harga Vanya, pilih saja jangan pikirkan soal harga." ucap Zee menahan gemas lantaran Vanya tampak memilah menu dan harga.
"Hhmm baiklah Zee.." akhirnya Vanya memutuskan untuk memesan beberapa menu dan minuman hangat.
Mereka berdua menikmati makanan dengan tenang, Zee melihat bagaimana cara makan Vanya yang lahap tidak seperti biasanya.
"Makan dengan pelan Vanya , kalau kurang nanti bisa nambah, jangan sungkan." Zee tersenyum simpul dan melanjutkan makannya.
Vanya yang memang sangat lapar tidak merasa ragu saat harus menghabiskan semua menu yang dia pesan.
Makan malam selesai , sekarang motor yang di kendarai Zee dan Vanya melaju kembali pulang ke arah Mansion.
Perjalanan di malam hari dengan cuaca dingin , Zee tetap membiarkan Vanya membonceng sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman ditubuhnya.
Tiba di Mansion saat sudah lewat waktu makan malam , Zee dan Vanya jalan beriringan masuk ke dalam mansion melewati ruang keluarga hendak langsung menuju ke kamar mereka di lantai dua .
"Zee, Vanya kalian sudah pulang nak ?" tanya mommy Lucy dari ruang keluarga.
"Sudah mom, aku dan Vanya juga sudah makan diluar jadi kami akan langsung tidur di kamar, bye mom.." jawab Zee dari anak tangga.
Saat Vanya dan Zee akan kembali melangkahkan kaki tiba tiba,
Daddy Devan muncul dan meminta Zee untuk menemui beliau di ruang kerja.
"Ada hal penting yang harus daddy bicarakan dengan kamu Zee ,daddy tunggu di ruang kerja ." tutur daddy Devan singkat dengan ekspresi datar.
Zee mengangguk lalu kembali melanjutkan naik ke lantai dua dan mengantar Vanya sampai di depan kamar.
"Ini ada hadiah untukmu, aku harap kamu suka. Hmm setelah ini langsung bersihkan badan dan tidur oke ?" Zee mengulurkan sebuah kotak yang sedari tadi dia simpan di balik jaketnya.
"Hmm .. thanks Zee ini tidak perlu tapi, aku akan buka di kamar." ucap Vanya sambil tersenyum manis saat Zee mengusap pucuk kepalanya sekilas dengan lembut.
Setelah Vanya masuk ke dalam kamarnya, seketika senyum Zee memudar saat ini sang Daddy pasti akan menghakimi dirinya lagi Hmm..