ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 33 Tidak ingin kamu menyesal



Saat ini Zee sudah berada di dalam ruang kerja sang Daddy.


"Duduk Zee, kita harus bicara." ucap tegas Daddy Devan setelah Zee duduk di kursi didepannya.


"Apa lagi yang harus kita 'bicarakan' dad." Zee menekankan kata bicarakan, karena sudah terlalu sering mereka membicarakan hal yang sama dan itu membuat Zee hafal betul jika saat ini sang daddy pasti ingin mengomeli dirinya lagi karena pergi dengan sang pacar.


"Daddy tidak suka kamu memperlakukan Vanya seperti itu. Biar bagaimanapun kalian sudah menikah Harusnya kamu bisa membatasi diri terlebih pada wanita lain. Daddy sudah sering bilang kan ..." belum selesai daddy Devan bicara Zee sudah menyeletuk,


"Daddy sudah terlalu sering bilang dan Zee sudah bosan dad !" Zee memalingkan wajahnya kesal.


Feeling Zee mengatakan jika Daddy Devan pasti diam diam mengutus orang untuk mengawasi gerak geriknya siang tadi .


"Jauhi Sabrina. Sampai kapan pun Daddy tidak akan pernah menerima wanita ja lang itu sebagai kekasihmu. Dan rencana untuk melamar wanita ja lang itu saat upacara wisuda sebaiknya kamu kubur dalam dalam."Daddy Devan menatap tajam ke arah sang putra dan kini keduanya saling menatap tajam dengan kekesalan masing masing.


Plug !


"Lihat itu, lalu pikirkan baik baik jangan sampai kamu menyesal telah memilih orang yang salah untuk dicintai." Daddy Devan melempar sebuah flash disk ke arah Zee dan Zee dengan mudah menangkapnya.


"Daddy terlalu banyak mengurusi urusan pribadiku, aku tidak suka." Zee meremah kuat flash disk dalam genggaman tangannya lalu pergi dari ruang kerja Daddy Devan begitu saja.


Brakk !!! Zee membanting pintu ruang kerja sang Daddy.


Daddy Devan hanya menatap datar dengan gumam dalam hati , "Daddy hanya tidak ingin kamu menyesal anakku."


Di lantai dua..


Zee memainkan flash disk di tangan kirinya ,otak Zee menimang nimang apakah dirinya harus melihat isi dari benda kecil itu atau..


Sesaat kemudian..


Zee beranjak dari kasurnya dan masuk ke kamar mandi usai menyimpan flash disk ke dalam laci , dirinya merasa belum siap seandainya benar Daddy telah menemukan bukti bukti negatif tentang Sabrina sang pacar.


Air shower menyala hangat membasahi tubuh Zee yang tampak berdiri sambil memejamkan mata seolah sedang berada di tengah air hujan, Zee sedang meresapi setiap emosi yang membuatnya sangat kesal tadi.


Saat Zee sedang memikirkan rencana masa depannya dengan Sabrina , sekelebat gambaran Vanya yang menangis kehilangan mengalihkan pikiran Zee hingga membuka mata tersadar.


Entah apakah yang dia lakukan itu benar atau salah, tapi orang tua nya sendiri yang membuat kesepakatan waktu itu. Jika menikah hanyalah sebagai wujud tanggung jawab keluarga Sanders pada Vanya yang yatim piatu.


Zee mengira jika pernikahan mereka memang hanya sebatas kesepakatan diatas kertas, Bukan kah mereka sendiri yang bilang, tidak akan memaksa kami harus hidup seperti suami istri ?? bukan kah mereka sendiri yang bilang agar menganggap Vanya seperti adik ?? Lalu kenapa mereka juga menambah beban tanggung jawab yang sejak awal tidak aku inginkan !!! aarrgghhh...


Zee benar benar tidak berada di mood yang baik, setelah menikah justru orang' tuanya semakin mengekang kebebasan nya bahkan sampai membayar orang untuk mengawasi setiap gerak geriknya.


Beda Zee beda pula Vanya,


Vanya saat ini sedang sibuk memainkan ponsel baru pemberian Zee, semua sudah di setel Vanya hanya tinggal pakai.


Vanya melihat satu kontak yang tersimpan dan yakin jika itu adalah nomor ponsel milik Zee, dengan rasa iseng Vanya menekan tombol hijau dan..