
Zeevan duduk dengan santainya di sofa panjang tempat Vanya menikmati makan malam sambil nonton televisi.
"Bukankah makanan itu sudah dingin, biar aku pesankan lagi yang hangat untukmu. " ucap Zeevan yang hendak berdiri mengambil ponsel yang dia letakkan di nakas samping sisi ranjang tempatnya tidur.
"..Eh tidak usah. Makanan ini sudah lebih dari cukup kok. Lagian kalau pesan yang baru namanya mubazir makanan. Biar aku habiskan ini saja lagipula aku juga sudah jauh lebih kenyang kok. " Vanya menahan lengan Zeevan.
"Kamu yakin Vanya ? maksudku, tidak masalah kita pesan makanan yang baru. " Zeevan menatap memastikan apakah Vanya berubah pikiran.
"Yakin, serius. " Vanya berucap meyakinkan.
Kemudian Zeevan kembali duduk di dekat Vanya dan memperhatikan saat Vanya makan dengan lahap sambil menonton tivi.
Saat Vanya sedang asik asiknya mengunyah makanan tiba tiba..
Sebuah telapak tangan menempel di permukaan kening Vanya , sontak Vanya terkejut lalu menoleh ke arah Zeevan yang tengah memeriksa suhu tubuhnya.
"Sudah tidak demam, syukurlah. " lirih Zeevan mengucap.
Jarak keduanya cukup dekat saat ini Vanya dan Zeevan sama sama saling menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.
Jarak sedekat ini membuat Vanya grogi. Jujur saja Zeevan benar benar terlihat tampan dan mempesona.
Sedangkan Zeevan yang juga menatap Vanya juga tidak berkedip, saat menyelami sorot netra Vanya yang terasa teduh meski ada bengkak akibat kebanyakan menangis saat di makam tadi siang.
Aneh.. kali ini suasana hati keduanya sama sama sedang mengagumi kelebihan satu sama lain.
Rasa benci itu seolah menepi sejenak untuk membiarkan Zeevan dan Vanya menikmati momen yang terasa, manis.
Tautan pandangan kedua nya semakin dekat, tidak ada kata yang terucap, tidak ada kebencian yang ditampilkan hanya degup jantung yang berpacu lebih kencang dari seharusnya.
Degh.. degh
deghh.. degghh..
Baik Zeevan maupun Vanya sama sama mengikis jarak satu sama lain hingga..
Cup.. satu kecupan mendarat mulus di bibir satu sama lain.
Untuk sepersekian detik keduanya saling menatap dengan bibir yang menempel sempurna.
Kemudian baik Zeevan maupun Vanya sama sama memejamkan mata dan,
Terjadilah sebuah aktifitas yang tidak bisa mereka kendalikan. Saat ini Zeevan dan Vanya sedang melarutkan diri dalam sebuah perasaan yang meluncur begitu saja lewat pertukaran salive yang terasa manis dan hangat.
Sejak beberapa saat yang lalu bibir keduanya tidak lagi saling menempel dengan netra yang awalnya saling menatap tapi kini Zeevan dan Vanya mulai menikmati diri mereka larut dalam adegan ciuman.
Entah bagaimana dengan Zeevan tapi, bagi Vanya ini adalah pengalaman pertama dirinya dekat dengan seorang pria , ehmm maksudnya suami.
Zeevan menyesap lembut bibir Vanya, membuat Vanya melakukan hal yang sama hingga keduanya saling me lu mat dan menyesap.
Ciuman balasan Vanya terasa kaku dan itu membuat Zeevan terkekeh didalam hati.
Apa ini pertama kalinya bagi Vanya ?? Hhmmm apa Vanya sungguh sepolos itu sampai diusianya yang ke 18 tahun baru ciuman itupun sama aku, suaminya... batin Zeevan yang kemudian melanjutkan aktifitasnya.
Menikmati pertukaran Saliva dengan sensasi lain, tidak berdosa memang karena mereka adalah pasangan suami istri.
Hanya saja mereka belum benar benar mengenal pribadi satu sama lain,
Mmmpphh... mmmpphh..
Vanya merasa kehabisan oksigen hingga harus menepuk bahu Zeevan agar berhenti megeksplore bibirnya.
Zeevan menangkup wajah eksotis Vanya sambil menatap intens dan berkata,
"Mulai sekarang, lupakan masa lalu... kamu harus siap untuk menjalani hari esok. Dan ingat, jangan menangis lagi heumm ?" Zeevan meminta dengan sungguh sungguh.
Bagi Zeevan, biar bagaimanapun juga Vanya adalah tanggung jawabnya sekarang. Meskipun tidak ada cinta tetapi setidaknya Zeevan harus selalu menjaga Vanya, seperti yang selalu di wanti wanti mommy Lucy.
"..." Vanya speechless, netranya berkedip beberapa kali seolah mencerna kejadian yang baru saja dia alami.
Tanpa disadari Vanya refleks meganggukkan kepala dan itu membuat Zeevan tersenyum lega lalu beranjak dari sofa setelah mencuri satu kecupan tepat di pucuk kepala Vanya.
Zeevan kembali berbaring diatas ranjang untuk melanjutkan tidurnya sedangkan Vanya...
Vanya masih mematungkan diri seolah tidak percaya dengan apa yang sudah dia lakukan dengan Zeevan.
...Ka.. kami.. kami baru saja ciuman kan ?? astaga, bagaimana aku bisa tidak menolak saat Zee melakukan itu . Vanyaaa kamu bodoh sekali sih, kenapa bukannya menolak , menghindar atau melawan justru malah membalas ciuman. huhuhuuuu ciuman pertamaku kenapa harus dengan Zee Aaaaaa !!!!...
Vanya terlambat merasakan jika dirinya telah kehilangan kesucian bibir perawannya.
Pucuk kepala Vanya masih merasakan hangatnya bibir Zeevan.
Sedangkan Zeevan yang kini sudah kembali berbaring diatas ranjang merasa senang.
Entah apa yang membuat Zeevan tadi nekad mencium Vanya istri kecilnya yang masih lugu.
Sambil memejamkan mata Zeevan mengulas senyum tipis hingga mengantarkan pada alam mimpi.
Vanya juga kembali ke atas pembaringan setelah membereskan sisa bungkus makanan dan mencuci muka serta gosok gigi di kamar mandi,
Vanya memposiiskan diri tidur di sisi lain ranjang yang berjauhan dengan Zeevan.
Saat ini waktu menunjuk pukul dini hari,
Kedua insan tersebut masih larut di alam mimpi masing masing hingga tak terasa sinar matahari terasa hangat menyusup menembus jendela hingga menerpa Zeevan dan Vanya.
Zeevan belum ingin bangun, baru saja tubuhnya menggeliat memeluk guling disisinya.
Aneh sekali kenapa gulingnya lebih kecil dari yang biasa dipeluk.. batin Zeevan yang malas membuka mata.
Vanya yang merasa tubuhnya sesak karena tertimpa sesuatu entah apa itu dibagian perutnya, mau tak mau Vanya meraih sesuatu yang terasa berat itu lalu,
Vanya melototkan kedua mata kala mengangkat sebuah lengan. Ya itu adalah lengan Zeevan yang melingkar di perut Vanya. Menurut Zeevan itu adalah guling jadi dia biasa saja.
"Zeevan !!" Vanya berucap sedikit keras berusaha membangunkan Zeevan yang justru semakin erat mengalungkan tangan diperutnya.
Sepertinya Zeevan tidak terusik dengan ocehan Vanya yang merutuki posisi mereka berdua saat ini yang..
"Zee bangun, heeii ini aku Vanya bukan gulingmu !" kembali Vanya mencoba membangunkan Zeevan sang suami tapi masih saja gagal..
Vanya mendengus kesal lantaran saat ini posisi tubuhnya miring menghadap tepat di depan wajah Zeevan yang masih terpejam dengan nafas teratur.
"Zee. .. Zeevan... " Vanya menyerah memanggil nama sang suami berkali kali hingga akhirnya.
Vanya terdiam, terdiam pasrah dirinya dianggap guling sambil menatap lekat wajah Zeevan yang..
"Aku memang tampan, kamu suka mengagumi dirku diam diam ya.. " ucap Zeevan sambil merem.
"Zee ! kalau kamu sudah bangun awas tanganmu berat ini !" Vanya menarik tangan Zeevan yang terasa berat di atas tubuhnya lalu..