ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 21 Malam terakhir di Bali



Merasa sudah puas, Vanya segera kembali ke rumah kayu bercat biru. Dengan sepeda kesayanganya Vanya menikmati semilir angin malam yang mengiringi gowesan kakinya pada sepeda yang mengarah ke rumah.


Melewati sebuah tikungan Vanya turun dari sepeda lalu menuntun sepeda tersebut sampai memasuki pelataran rumahnya.


Tidak di sangka tidak di duga, Zee sedang berdiri diluar rumah sambil bersedekap tangan menatap ke arah Vanya yang baru saja pulang.


"Aku pulang.. " ucap Vanya pelan menyapa Zee tapi tidak menatap lawan bicaranya.


Vanya hendak melewati Zee dan memasukkan sepeda kembali ke dalam rumah saat Zee menahan langkah kakinya,


"Vanya.. ayo kita pergi cari makan. " ucapan Zee membuat Vanya menghela nafas singkat lalu kemudian mengangguk pelan tanda setuju.


"Hhmm.. aku simpan sepeda ini dulu. " Vanya kembali mendorong pelan sepedanya tapi kemudian lagi lagi Zee berucap,


"Kita beli makanan dengan naik sepeda itu, kamu. boncengin aku karena aku gak bisa naik sepeda. " penuturan Zee kembali membuat Vanya melongo dalam hati.


What???


Beberapa saat kemudian, tampak sebuah sepeda yang di gowes Vanya membawa Zee yang duduk di boncengan belakang menyusuri jalanan pesisir kampung nelayan untuk mencari makan malam.


Roda sepeda tampak berputar beradu dengan aspal jalan utama dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang cepat atau pelan. Vanya menggowes dengan sungguh sungguh , tidak dia pungkiri yang membonceng lebih berat dari bobot tubuhnya yang dibawah 50kg. Berat bobot tubuh Zee sekitar 75 kg.


Sampai juga akhirnya setelah menempuh jarak yang cukup melelahkan. Mereka tiba di sebuah area taman mirip alun alun yang berjejer banyak sekali pedagang yang menjajakan aneka hidangan aja kaki lima.


Usai memarkir sepeda, Vanya dan Zee berjalan mencari mana yang akan mereka pilih untuk makan malam.


"Mau makan apa Zee ?" tanya Vanya lirih dengan masih enggan menatap.


"Aku dengar ada sate lilit, aku penasaran itu. Sama bebek betutu itu juga terdengar lezat. " ucap Zee dengan nada bicara rendah seolah sudah melupakan semua kejadian yang membuat kesal tadi siang.


"Kalau begitu disana aja, ayo. " Vanya berjalan duluan diikuti Zee melangkah di belakangnya lalu mereka menyebrang jalan.


Sebuah kedai lesehan yang menjual menu seperti yang diinginkan Zeevan tampak ramai pengunjung konon karena kedai ini sudah populer di banyak kalangan.


"Vanya, kita pindah ke sana saja. Tempatnya tidak antri seperti disini. " Zee mengajak Vanya pindak ke kedai lain yang berjarak hanya lima meter.


Meskipun Zee mengerti, Vanya pasti ingin mengajaknya makan di tempat yang terkenal karena pasti makanannya di jamin enak.


Tetapi bagi Zee, soal makan tidak harus mengikuti tren tempat yang sedang populer, dari pada menghabiskan waktu untuk mengantri panjang kenapa tidak memilih kedai lain yang tampak sepi.


Zee sama sekali tidak mempermasalahkan dimana dia makan, dan saat ini Zee dan Vanya sedang duduk lesehan menunggu menu pesanan siap.


Tidak terlalu lama sekitar lima belas menit pesanan mereka siap.


Seorang pelayan menata semuanya di hadapan Zee dan Vanya. menu makan malam lesehan diatas tikar terasa hangat untuk dua orang di malam terakhir sebelum mereka bertolak menuju Paris.


Puas menikmati makan malam, Zee meminta Vanya untuk berjalan jalan sejenak diseputaran taman. Di malam hari suasana taman yang mirip alun alun itu tampak ramai pengunjung, selain berjalan jalan sebagian pengunjung juga mencari aneka pilihan jajan dan makanan.


Mereka sama sama masih enggan membuka suara, sampai Zee akhirnya yang buka suara duluan .


"Vanya, apa kamu masih merasa kesal karena aku melarangmu membawa sepeda ke Paris ?" tanya Zee lirih.


"Tadinya iya, makanya aku puas puasin main sepeda sebelum besok kita berangkat. " jawab Vanya singkat.


"Vanya kamu mengerti kan kenapa aku melarang kamu bawa sepeda ke Paris, disana itu.. " belum selesai Zee menuturkan kalimatnya Vanya sudah menoleh dan menatap tajam lalu berkata,


"Aku sangat mengerti. Sudah jangan bahas soal sepeda lagi." Ucapan Vanya membuat Zee menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.


"Baiklah kalau begitu pulangnya aku yang bawa sepeda, kamu duduk di boncengan belakang. " seketika kalimat yang meluncur dari mulut Zee membuat Vanya melongo bingung.


"Kamu bilang gak bisa naik sepeda kan tadi.. aaaaa dasar Zee !! rese banget sih. " Vanya yang kesal memilih mencubit Zee melampiaskan rasa kesal dikerjain.


"Awwh... maaf maaf.. hahaa ampun.. " tutur Zee tertawa terbahak tanpa menolak saat Vanya masih enggan menyudahi cubitan di lengan dan pinggangnya.


Ketika waktu menunjukkan pukul sepuluh malam hari waktu Bali, sepeda kembali membawa pasangan suami istri tapi kini Zee yang menggowes di depan dan Vanya yang membonceng di belakang.


Sepeda terasa lebih ringan saat Zee yang mengayuh dan Vanya semakin mengeratkan pegangan tangannya di pinggang Zee sambil menikmati angin yang menerpa tubuh keduanya.


Zee mengayuh sepeda dengan tidak terlalu cepat, jujur saja kondisi jalanan saat malam seperti ini tidak terlalu terang seperti jalanan perkotaan besar meskipun banyak lampu hias yang berjejer disepanjang jalan utama.


Sesekali sepeda yang ditumpangi Zee dan Vanya berpas pasan dengan pengguna jalan lain yang ternyata cukup tertarik dengan mereka.


Seorang pria bule rela mengayuh sepeda memboncengkan seorang wanita lokal, persis seperti pasangan kekasih..


Namun ada juga pengguna jalan lain yang lagi lagi meremehkan pasangan tersebut karena menanggap terlalu mustahil seorang pria bule super tampan memiliki kekasih wanita lokal yang sama sekali tidak glowing.


Hubungan mereka pasti semacam pacar sewaan. atau cabe cabean yang rela naik ke atas ranjang demi uang. Kurang lebih begitu isi otak mereka.


Sepertinya tradisi membicarakan orang lain yang kita sendiri belum tentu paham apa yang sebenarnya terjadi masih menjadi kebiasaan masyarakat lokal yang kurang upgrade pergaulannya.


Namun bagi Zee dan Vanya malam ini adalah malam yang sungguh berkesan, lantaran Vanya bisa menikmati berkeliling dengan sepeda pemberian mendiang bapak dan ibu.


Bagi Zee sendiri semua ini dia lakukan untuk membesarkan hati Vanya agar tidak merasa terbebani saat meninggalkan Bali dan ketika ikut ke Paris untuk melanjutkan kuliah mereka tidak saling menyalahkan satu sama lain.


Tiba Dirumah Zee memasukkan sepeda ke dalam ruang tamu, meletakkan ketempat awal dimana sepeda itu menjadi satu dengan barang barang tak terpakai lainnya .


"Zee, Hhmmm kalau kamu mau tidur di kamarku boleh. Aku akan tidur di kamar bapak sama ibu tapi tolong jangan sentuh apapun, mengerti ?" ucap Vanya yang sudah merasa terlalu lelah dan mengantuk hingga ingin buru buru istirahat tidur.


"Baiklah jika kamu mengijinkan maka malam ini aku akan tidur lagi di kamarmu. Good night Vanya. " ucap Zee lirih saat Vanya melambaikan tangan berkata "Ya, selamat tidur Zee.. "


Tak berselang lama setelah Vanya masuk ke dalam kamar, Zee juga melakukan hal yang sama.