ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 15 Mengunjungi makam untuk terakhir kali



"SARAPAN SIAP !!" suara teriakan Vanya dari luar kamar memnuat Zeevan gegas bangkit dari rebahannya kemudian melangkahkan kaki keluar ke sumber suara.


"Apa ini? " Zeevan terheran melihat nasi putih hangat dengan lauk di hadapannya.


Saat ini Zevan dan Vanya duduk di ruang makan.


"Telur dadar, sudah cepat makan ! aku gak mau sampai mommy Lucy menegurku karena tidak memberimu makan. " ucap Vanya cuek sambil meikmati sarapannya.


Mau tak mau Zeevan pun melakukan hal yang sama seperi Vanya hingga tak terasa kurang dari sepuluh menit porsi nasi hangat lauk telur dadar ala Vanya habis.


Setelah mencuci peralatan makan, Vanya bersiap hendak pergi ke makam mendiang bapak dan ibu.


Zeevan yang melihat Vanya hendak melangkahkan kaki keluar dari rumah pun penasaran dan bertanya.


"Mau kemana Vanya ? " tanya Zeevan yang baru saja meletakkan ponselnya di meja.


"Bukan urusanmu. " Vanya hampir saja selangkah melewati pintu rumah saat Zeevan tiba tiba mencekal lengan tangan Vanya dan,


"Aku bertanya baik baik maka kamu juga harus menjawab dengan baik. Apa kamu pikir sikapmu ini layak dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya heum ! " nada suara Zeevan terdengar tegas dengan sorot mata serius yang membuat Vanya menghela nafas singkat sebelum menjawab.


"Aku ingin pergi ke makam bapak dan ibu untuk yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan Bali. " Vanya menarik pelan tangan yang di cekal Zeevan.


Dan Zeevan melepaskan begitu saja dengan raut muka yang tampak masih serius.


"Biar aku antar, sekalian aku mau bersihkan badan .Tunggu disini aku akan ambil kunci mobil dulu. " gegas Zeevan mencari kunci mobil yang dia simpan di dalam tas bersama barang barang pribadi lainnya.


Vanya yang entah kenapa mengangguk menurut saat Zeevan tadi menatapnya dengan serius.


Kurang dari satu menit kedua muda dan mudi itu berjalan beriringan menuju ke arah rumah pak Lurah, tempat mobil dititipkan.


Dalam perjalanan, sebelum ke makam Zeevan terlebih dahulu harus membersihkan diri hingga dengan inisiatif membelokkan mobil ke salah satu hotel yang pertama kali di lewati.


"Kok ke hotel, mau ngapain ??" Vanya yang sewot bertanya pada Zeevan yang justru diam dengan sedikit ekspresi.


"Kita akan ke makam tentu tidak mungkin aku memakai pakaian seperti ini kan ?" Zeevan mengambil sebuah tas kecil di kursi belakang lalu bersama dengan Vanya melangkah masuk ke gedung hotel dan memesan satu kamar.


Zeevan saat ini hanya mengenakan kaos putih polos dengan celana pendek, masih sama dengan yang dia pakai untuk tidur semalam. Sejak kemarin Zeevan memang tidak sempat mandi dirumah karena airnya kotor.


Mereka memesan kamar sebagai pasangan suami istri namun petugas loby hotel tampak tidak percaya hingga membuat mereka harus menunjukkan buku nikah.


Astaga ada ada saja sih mau mandi aja. batin Zeevan yang saat ini masuk ke dalam lift dengan Vanya di sampingnya ,


"Harusnya aku nunggu di loby aja, ngapain harus ikut masuk ke kamar. " Vanya mendengus kesal tanpa menatap Zeevan yang diam saja.


"Kalau sendirian di luar sana pasti kamu kabur Vanya, akan merepotkan kalau aku harus muter muter nyariin kamu, Bali kan luas dan mana aku tahu kamu kalau kabur kemana. " Zeevan hanya asal ucap sebenarnya karena tadi mommy Lucy mengirim pesan supaya Zeevan senantiasa bersama di samping Vanya.


Mommy Lucy berpesan agar Zeevan benar benar memperhatikan Vanya jangan sampai lengah dari pengawasan.


Tingg..


"Mau mandi saja harus buang buang uang banyak, dasar boros. " ucap Vanya yang langsung memilih duduk di sofa lalu menyalakan televisi.


Sedangkan Zeevan langsung masuk ke kamar mandi dan melakukan rutinitas mandi seperti yang biasa dia lakukan.


Menit berganti jam, tepat satu jam kemudian Zeevan keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang jauh lebih segar dan wangi.


"Aku sudah selesai, ayok. " ajak Zeevan saat melihat Vanya yang sepertinya manyun karena terlalu lama menunggui dirinya.


"Aku pikir kamu mati, mandi kok lama sekali dasar kang boros. " ucap Vanya tanpa menoleh ke sumber suara kemudian bangkit dari sofa yang dia duduki dengan sedikit menghentakkan kaki.


Sejurus kemudian saat Vanya menoleh menatap sosok Zeevan yang menurutnya terlihat sangat tampan, segar dan bersinar juga wangi.


Terkagum sedetik lalu detik berikutnya seakan tersadar jika dirinya telah berdosa karena mengagumi pria pembunuh orang tuanya.


"Haish apa gadis kecil ini baru saja terkagum melihat diriku ini heumm ?" Zeevan sedikit menggoda dengan menoel dagu Vanya lalu gegas melangkah duluan keluar dari kamar.


Pasangan yang sangat kontras dari segi fisik, Zeevan yang gagah, tinggi, tampan glowing bak pangeran.


Sedangkan Vanya yang berkulit eksotis sawo kecokelatan, tubuh pendek hanya sebatas ketiak Zeevan , dan tentu saja Vanya masih sangat jauh dari kata glowing bak upik labu.


Beberapa pegawai hotel dan pengunjung yang melihat pasangan itu pasti tidak akan percaya jika mereka adalah pasangan suami istri.


Lebih tepatnya justru Vanya tampak seperti cabe cabean yang dibayar untuk melayani turis asing berkantong tebal.


Atau ada lagi yang membatin jika Vanya adalah pembantu dan Zeevan adalah majikan.


Perbedaan Zeevan dan Vanya yang sangat kontras benar benar membuat hampir setiap orang yang melihat pada berspekulasi tentang hal hal yang tidak tidak.


Baik Zeevan maupun Vanya yang sadar jika menjadi pusat perhatian beberapa orang sama sama memasang ekspresi datar seakan tidak peduli cibiran orang.


Zeevan melihat Vanya yang ternyata bisa sesantai itu menghadapi sudut pandang orang orang asing yang merendahkan dirinya.


Reaksi yang cukup keren. batin Zeevan dengan sedikit menyunggingkan senyum tipis di bibirnya .


Vanya memang adalah tipikal gadis yang tidak peduli omongan orang lain yang hanya bertujuan mencibir dirinya ataupun keluarganya.


Sudah hal yang biasa bagi keluarga miskin seperti Vanya mendapatkan pandangan sebelah mata dari orang orang yang bahkan tidak mereka kenal.


Tatapan orang orang di gedung hotel itu semakin tampak menjadi jadi, hingga Zeevan memberanikan diri berkata,


"Jangan menatap kami seperti itu, dari cara pandang kalian seolah kami ini adalah penjahat. Tolong jangan berpikir yang tidak tidak, kami adalah pasangan suami istri. Lihatkan ?" ucap Zeevan terdengar lantang dan tegas sembari meraih telapak tangan Vanya dan mengangkat ke atas menunjukkan cincin pernikahan yang melingkat di jari manis satu sama lain.


Hal yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dilakukan tapi Zeevan merasa harus melakukan itu supaya Vanya bisa lebih berani mengangkat wajahnya dengan rasa lebih percaya diri.


Kamu adalah istri seorang Zeevan Sanders, tidak ada yang boleh memandang rendah dirimu.