ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 22 Pesawat pribadi



Keesokan harinya dirumah kayu,


Zee dan Vanya tengah bersiap siap menuju ke bandara. Daddy Devan mengutus Asisten Clark untuk menjemput Zee dan Vanya menggunakan pesawat pribadi.


Meskipun menggunakan pesawat pribadi namun tetap harus menyesuaikan rute dan jadwal penerbangan dari pihak bandara setempat.


Bukan yang mentang mentang pesawat pribadi trus bisa seenaknya tinggal landas kapan saja. Semua tetap harus sesuai aturan agar rute penerbangan baik domestik maupun internasional tidak terganggu.


"Uncle Clark menelpon , pesawat sudah tiba di bandara I Gusti Ngurah Rai dengan aman barusan. Ayo kita berangkat sekarang. " ajak Zee kepada Vanya.


"Hhmm oke.. " ujar Vanya singkat.


Zee duluan keluar dari rumah kayu, sedangkan Vanya tampak melangkahkan kakinya sendu terlebih saat Vanya menutup pintu rumah yang bakal dikangenin banget nanti.


Ceklek.. Vanya mengunci pintu rumah lalu menghela nafas singkat kemudian menghampiri Zee.


"Tidak ada yang kelupaan kan Vanya ?" tanya Zee memastikan.


"Enggak, aku cuma bawa satu tas ini aja kok. " Vanua tersenyum getir padahal dalam hatinya masih merasa ingin sekali membawa sepedanya.


Langkah kaki Zee dan Vanya mulai menapak semakin jauh dari rumah kayu bercat biru, saat akan berbelok melewati tikungan kecil Vanya kembali menoleh ke belakang,


"Selamat tinggal rumahku... " ucap Vanya dalam hati kemudian kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit berat.


Kini Zee dan Vanya sudah berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Masih ada waktu sekitar satu jam sampai jadwal penerbangan mereka tapi Zee tetap ingin segera sampai.


Perjalanan ke bandara membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit.


Vanya terheran kenapa mobil milik Zee tidak berhenti di parkiran tapi malah masuk melewati sebuah pintu khusus yang ternyata berbeda dari pintu lainnya.


"Zee.. kamu yakin kita gak salah masuk ? setahuku orang orang yang ada di bandara itu kan lewat depan sana. " tanya Vanya yang mengira Zee melakukan kesalahan.


"Udah benar kok ini Vanya, diam dan ikuti saja aku, ayo.. " ujar Zee yang kini menghentikan mobil di dekat hangar sebuah pesawat.


Lagi lagi Vanya heran, kenapa pesawat mereka lebih kecil dari yang seharusnya ? lalu kenapa pesawat itu juga tidak berada di lluar seperti pesawat lainnya.


Vanya turun dari mobil mengikuti langkah Zee yang lebar dari belakang.


Tampak seseorang muncul dari dalam pesawat dan itu adalah asisten Clark. Asisten Clark menapakkan kaki menuruni anak tangga untuk menyambut kedatangan pasangan muda tersebut lalu mengajak keduanya masuk ke dalam pesawat.


Di dalam pesawat pun Vanya masih merasa bingung aneh sekali kenapa hanya ada mereka, lalu dimana semua orang penumpang lainnya ??


"Duduk dulu Zee, Vanya.. " ucap Asisten Clark mempersilakan keduanya duduk lalu tampak Asisten Clark meraih tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map berisi paspor milik Vanya serta berkas berkas baru lainnya.


Vanya duduk dengan pandangan nyalang celingukan . Ini memang pertama kalinya Vanya akan bepergian naik pesawat tapi seingat Vanya saat melihat di buku bentuk pesawat yang digunakan untuk penerbangan itu tidak seperti ini,


Pesawat komersil yang seharusnya muat ratusan orang, dengan beberapa pramugari yang lalu lalang membantu para penumpang. Belum lagi interior dalam pesawat yang jauh berbeda, pesawat ini lebih kecil dan interiornya lebih mewah.


Vanya Membatin dalam hati, Ini sih persis yang sering muncul di instagram artis artis terkenal yang kemana mana naik pesawat pribadi, tapi kan Zee bukan artis atau jangan jangan.. Vanya mengerjapkan mata berkali kali ke arah Zee dan Asisten Clark bergantian.


Apa mereka ini mafia ?? tapi mafia kok gak seram Hhmm apa aku tanya aja ya dari pada penasaran.. lirih batin Vanya.


"Eh i.. iya Zee " Vanya masih loading sepertinya hingga hanya menurut saja kemana Zee mengajaknya.


Zee dan Vanya melewati sebuah pintu khusus yang terhubung langsung dengan bagian registrasi bandara. Di ruangan itu Zee menunjukkan paspor mereka berdua kepada petugas.


Petugas bandara pun melakukan pemeriksaan kesesuaian data antara yang tertera di paspor dan yang muncul dilayar komputer.


Proses registrasi terbilang singkat dan cepat, karena hanya ada mereka makanya Vanya justru semakin bingung.


Selesai registrasi Zee dan Vanya berjalan kembali ke arah pesawat mereka. Kali ini Vanya memberanikan diri untuk bertanya,


"Zee.. kenapa kita tidak bercampur dengan para penumpang lainnya ? apa ada yang tidak aku ketahui ?"


Pertanyaan Vanya yang tiba tiba menghentikan langkah kaki mereka. Zee menoleh ke arah Vanya dan menjawab usai mengulas sebuah senyum,


"Karena kita akan menggunakan pesawat pribadi, milik keluargaku. Kami sudah biasa bepergian ke berbagai negara menggunakan pesawat pribadi, kami tidak pernah membaur dengan para penumpang pesawat komersil. Jangan terlalu banyak berpikir, nanti juga terbiasa. " Zee tersenyum singkat lalu kembali melangkahkan kakinya.


"Hhmm.. oke." hanya sesingkat itu respon Vanya saat mendengar jawaban Zee.


Astaga Gusti Sang Hyang Widhi.. batin Vanya yang akal miskinnya masih sulit mencerna semuanya.


Kini semua orang sudah nyaman di dalam pesawat. Sambil menunggu jadwal penerbangan yang hanya tersisa lima belas menit lagi, Zee memilih untuk meraih laptopnya dan entah apa yang dia lakukan dengan itu.


Sedangkan Vanya yang tidak tahu harus bagaimana hanya duduk bersandar pada sofa dengan netra yang terus saja memindai setiap bagian di dalam pesawat sejauh jangkauan matanya.


"Pakai sabuk pengamanmu nak Vanya, saat lepas landas pasti akan sedikit terasa goncangan. " ucap Asisten Clark ramah dari kursi sofa diseberangnya.


"Ah iya om, " Hhmmm Vanya tampak awalnya bingung bagaimana memasang sabuk pengaman di kursi pesawat tapi sejurus kemudian tampak Zee melakukan hal yang sama dan Vanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Zee.


Aaa aku merasa bodoh sekali astaga , gaya hidup kami benar benar berbeda huhuhuuu.. Vanya merutuki ketidak tahuannya atau keluguannya yang membuat dirinya malu sendiri.


Beberapa menit kemudian pesawat pribadi milik keluarga Sanders mulai bergerak tinggal landas dan meninggalkan bandara I Gusti Ngurah Rai.


Benar kata Asisten Clark mereka mengalami guncangan kecil sebelum akhirnya pesawat terbang dengan mulus.


Vanya yang sedari tadi memejamkan mata takut saat tinggal landas kini mulai membuka mata secara perlahan dan..


"Kamu sudah bisa lepas sabuk pengaman Vanya, perjalanan kita selanjutnya akan lebih mulus tanpa guncangan. " ucap Zee dengan tampang cool nya.


"Ba.. baik.. " jawab Vanya singkat.


Zee yang sedari tadi diam ternyata diam diam memperhatikan Vanya yang menurutnya masih sangat kampungan.


Gadis yang benar benar masih gadis yang polos, menggemaskan sekaligus bikin kesal. batin Zee dengan sudut bibir yang tersenyum tipis.


Sedangkan Asisten Clark sejak tadi sudah kembali sibuk dengan pekerjaanya. Laptop dan tablet canggih yang tidak pernah jauh darinya.


Hanya Vanya sendiri yang tidak melakukan apapun, Zee dan om Clark sibuk dengan dunia mereka.


Huft..