
Beberapa hari kemudian..
Sudah tiga hari ini Vanya menginap di kamar V V I P rumah sakit ditemani Zee sang suami dan ini adalah hari terakhir karena Vanya sudah diijinkan untuk pulang.
"Hari ini kita sudah boleh pulang, kamu akan merasa lebih baik saat kita tiba di apartemen." ucap Zee pada Vanya yang baru saja selesai menghabiskan sarapan lalu meminum suplemen untuk memulihkan kondisi tubuhnya .
"Rumah sakit membuat aku selalu teringat mendiang bapak sama ibu Zee. Aku lebih suka di apartemen kita saja," ucap Vanya yang kini tengah mengenakan mantelnya.
Siang hari Merry juga tampak datang menjenguk Vanya, sengaja Merry menunggui sampai menjelang sore hari karena berniat untuk mengantarkan Vanya dan Zee pulang.
Menjelang malam hari setelah persiapan kepulangan selesai, Zee membantu Vanya dengan menggandeng tangannya dan berjalan hati hati untuk memasuki Lift diikuti oleh Merry menuju lantai satu.
Saat tiba di loby, Merry meminta Zee dan Vanya menunggu sebentar sembari dirinya mengambil mobil di parkiran.
Beberapa menit kemudian tampak Merry kembali ke depan pelataran gedung rumah sakit membawa mobil mewahnya yang akan digunakan untuk mengantar Vanya dan Zee kembali ke apartemen.
Ketiganya berada di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Paris yang tampak sejuk usai hujan yang mengguyur semalaman.
Perjalanan dari rumah sakit menuju apartemen tidak membutuhkan waktu lama, kurang dari empat puluh menit mobil yang dikemudikan Merry sudah tiba di gedung apartemen tempat tinggal Zee dan Vanya.
Setelah mengantar kedua sahabat nya hingga masuk ke dalam apartemen, Merry segera pamit karena ada urusan lain yang harus dia kerjakan.
"Barusan tim desain menelpon, ada urusan penting yang harus aku atasi. Ehmm, nanti aku telpon ya Vanya, kita akan bahas lanjutan acara pagelaran fashion show minggu depan." ucap Merry yang berpamitan sambil memeluk Vanya.
"Terima kasih sudah membantu aku menyiapkan desain , semoga aku bisa menyelesaikan gaun sebelum hari pertunjukan. Hati hati ya pulangnya." kata Vanya yang mengurai pelukan lalu mengantar Merry sampai pintu apartemen.
Sedangkan Zee, sejak beberapa menit yang lalu tampak serius menerima panggilan telpon dari seseorang.
Raut wajah Zee tampak tegang , rahangnya mengeras seperti sedang menahan marah sampai tidak tahu jika saat ini Merry sudah pergi dan Vanya berkutat di dapur menyiapkan susu hangat.
"Ada apa Zee ? apa terjadi sesuatu ? kenapa wajahmu tampak tegang begitu ?" tanya Vanya usai meletakkan dua gelas susu hangat yang dicampur madu.
"Hanya persoalan bisnis, aku baik baik saja kok. Tidak terjadi hal serius yang harus kamu khawatir kan. Justru aku yang harusnya khawatir sama kamu kan ?" ucap Zee sambil tersenyum lalu duduk tepat di samping Vanya.
Vanya mengambil dua gelas susu hangat yang ada di meja. Satu diberikan untuk Zee dan satu gelas lagi untuk dirinya.
"Minum dan habiskan setelah ini kita tidur, bukankah besok kita akan pergi ke acara Paris Fashion Week ?" kata Vanya sesaat sebelum menenggak habis susu di tangan kanannya.
"Ini bahkan masih pukul delapan malam Vanya, terlalu awal untuk tidur sementara kita bisa melakukan aktivitas lain sebelum tidur kan ?" ucap Zee menoleh ke arah Vanya sambil memiringkan kepala dengan senyum menghiasi.
"Aktivitas seperti apa heum ?" ucap Vanya dengan senyum tersipu.
Alih alih mengiyakan ajakan sang suami , Vanya justru menghindari dengan melangkah kabur secepat mungkin masuk ke dalam kamarnya.
Bayangan percintaan panas diatas sofa yang selalu mereka jadikan tempat untuk memadu kenikmatan membuat Vanya memilih kabur.
Sofa itu selalu jadi tempat kami bercinta dan kali ini aku gak akan bercinta, apalagi diatas sofa hahahaa.. Vanya terkekeh sendiri usai menutup pintu kamarnya dan sengaja membiarkan Zee mengetuk dari luar.
"Astaga Vanya kenapa kamu malah mumpet sih , awas ya kalau sampai aku menemukan kamu !!" ucap Zee terdengar keras dari luar.
Vanya sendiri memilih untuk tidak menjawab dan gegas berlari masuk ke dalam walk in closet. Seandainya Zee berhasil masuk belum berarti bisa menemukan dirinya.
Aku akan sembunyi disini saja, siapa tahu Zee punya kunci cadangan lalu berhasil masuk ke dalam kamar. Tidak semudah itu menemukan aku xixixii.. Vanya membatin cekikikan saat dirinya masuk ke dalam sebuah lemari berisi pakaian yang digantung.
Benar saja , Zee berhasil membuka pintu kamar Vanya menggunakan kunci cadangan. Sayangnya Zee benar benar tidak menemukan Vanya di manapun.
Berkali kali Zee memanggil tapi Vanya tidak merespon, Zee memeriksa setiap sudut tempat yang mungkin dipakai Vanya untuk sembunyi.
"Aku gak akan lepasin kamu semalaman kalau sampai ketemu, Vanya !!" Zee mulai lelah mencari dan memilih untuk berbaring diatas ranjang milik Vanya.
Sementara Vanya yang sembunyi di dalam lemari perlahan mulai merasa gerah dan berkeringat.
Kenapa tiba tiba rasanya sesak sekali di dalam sini ya.. Batin Vanya.
Vanya memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya karena terlalu gerah dan lama lama pengap.
Dengan langkah pelan Vanya membuka ruang walk ini closet dan melihat Zee yang berbaring tertidur diatas ranjangnya.
Karena mengira Zee sudah lelap dalam alam mimpi, Vanya segera membersihkan tubuh dan berganti pakaian tidur lalu memposisikan diri berbaring di sisi lain ranjang.
"Kamu keluar juga akhirnya, capek kan sembunyi ?" tanya Zee yang tiba tiba memiringkan tubuhnya sambil menyangga kepala dan tersenyum menatap ke arah Vanya yang salah tingkah.
"Loh, kami belum tidur Zee ? apa kamu mau balik ke kamarmu atau mau tidur disini ? Boleh aja sih kalau mau tidur di kamarku tapi, cuma tidur dan gak ada aktivitas plus plus, oke ?" ucap Vanya mengiba dalam membujuk ramah bernada canda.
"Kalau kamu mau, maka aku bakal bikin kamu gak tidur semalaman tapi karena kamu gak mau ya udah gak apa tapi, sini deh.." Zee menarik tubuh mungil Vanya ke dalam dekapan.
Posisi Zee memeluk tubuh Vanya sambil kedua mata saling menatap dan tiba tiba Zee membisikkan sesuatu di dekat daun telinga yang membuat tubuh Vanya merinding.
Beberapa waktu kemudian,