ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 11 Pernikahan ZeeVanya



"Apa Vanya ingin mengantar ke pemakaman ? " tanya mommy Lucy lembut.


"No tante, Vanya gak akan sanggup hiks.. " Vanya memilih untuk tetap berada di kamarnya.


Akhirnya prosesi pemakaman dilakukan oleh tim penanganan jenasah pihak rumah sakit. Jenasah bapak Beni di kebumikan disamping makam sang istri, ibu Rahma.


Hari itu duka semakin kelam menyelimuti Vanya yang tetap berada di dalam kamar rawat inapnya. Pikiran Vanya terbayang semua kenangan masa lalu bersama bapak dan ibu.


Kehidupan kecil yang bahagia kini sirna sudah berganti kehampaan dan kesendirian.


Sepanjang hari Vanya hanya melamun menatap hampa keluar jendela, tatapan Vanya kosong entah bagaimana dengan isi pikirannya .


Mommy Lucy menatap sendu kearah Vanya yang tampak melamun sambil duduk diatas ranjang. Mommy Lucy baru saja kembali dari sebuah tempat, beliau membawakan makanan sehat untuk Vanya.


"Setidaknya meskipun kamu ingin larut dalam kenangan orang tuamu, harus makan ya nak. Tidak apa jika kamu ingin menikmati kedukaan ini tapi ingat, Hidup terus berjalan dan kamu pasti tidak ingin membuat bapak dan ibu kamu sedih kan ? Makan ya.. " mommy Lucy menyuapi Vanya dengan telaten.


Seporsi bubur sayur tandas begitu saja, entah kenapa ucapan mommy Lucy bisa terdengar menenangkan bagi Vanya dan Vanya sendiri merasa lebih nyaman bersama mommy Lucy.


"Tante.. ini tentang surat wasiat yang ditulis bapak Vanya. Hhmmm~ apa tante sungguh sungguh ingin merawat Vanya ? apa tante yakin dengan keputusan tante ?" tanya Vanya tiba tiba yang kemudian disambut dengan senyum keibuan mommy Lucy.


"Of course Vanya. Mommy sudah langsung jatuh hati saat pertama kali melihat kamu. Mommy ingin kamu jadi putri mommy, kamu mau kan ?" lagi, mommy Lucy berucap lembut membuat emosi dan mental Vanya lebih stabil.


"Tapi tante, Vanya ini jelek tante pasti malu kalau Vanya jadi anak tante. " ujar Vanya insecure.


Bagaimana Vanya tidak insecure jika kulitnya saja sawo matang kecoklatan, tubuh pendek, gak glowing, rambut Vanya hitam tapi ikal.


Hanya saja Vanya memiliki sepasang mata yang cantik. Bola mata lentik membuat siapapun merasa teduh saat menatapnya.


"Mulai sekarang jangan panggil tante tapi Mommy. Kamu akan jadi putri kesayangan mommy mengerti ? " mommy Lucy tersenyum teduh.


"Mo.. mommy.. Hhmm satu lagi ini soal pernikahan. Apakah boleh jika Vanya tidak menikah dengan Zee ? Vanya masih ingin sekolah mom, cita cita dan impian Vanya belum terwujud. " Vanya menatap mommy Lucy.


"Mommy mengerti nak, tapi pernikahan itu sendiri adalah keinginan mendiang orang tua kamu, apa kamu tidak ingin memenuhi keinginan terakhir beliau heum ?" mommy Lucy mengusap lembut pucuk kepala Vanya sambil menyodorkan segelas air putih dan beberapa butir obat dan suplemen.


"Tapi mom.. " lagi lagi Vanya menatap penuh keraguan.


"Percaya sama mommy, meski kalian nanti sudah menikah Mommy tidak akan memaksa kalian untuk melakukan hubungan suami istri. Suatu saat pasti kalian akan mengerti dengan sendirinya . Cinta memang tidak bisa dipaksakan tapi bisa tumbuh kalau terbiasa .Dengan kamu menerima Zeevan sebagai suami artinya kamu membantu putra mommy bertanggung jawab atas kesalahan yang dia lakukan. Minum dulu Vanya.. " Mommy Lucy memastikan Vanya meminum semua butiran kapsul yang diberikan.


"Kalau begitu mom, Meskipun kami menikah tapi Vanya gak mau melayani Zee sebagai suami. Vanya akan mengurus diri Vanya sendiri begitu juga Zee. Pernikahan kami hanya diatas kertas. Mommy gak marah ?" Vanya mengulurkan kembali gelas kosong setelah meminum semua kapsul obat dan suplemen.


"Jika itu mau kamu nak, tidak apa. " Mommy Lucy selalu meyakinkan Vanya jika semua akan baik baik saja. Tidak akan ada satu pihakpun baik Vanya mauoun Zee yang harus dipaksa karena Mommy Lucy memiliki keyakinannya tersendiri terhadap Zee dan Vanya seiring berjalannya waktu.


Kemudian kabar Vanya bersedia menikah dengan Zee segera tersampaikan pada tuan Devan dan asisten Clark yang kemudian mempersiapkan segala sesuatunya hari itu juga.


Persiapan pernikahan sederhana hanya disaksikan pihak keluarga Sanders dan petugas catatan sipil dan itupun diselenggarakan di salah satu ruangan rumah sakit yang sudah mereka sewa secara khusus sebelumnya karena kondisi Vanya yang masih lemah.


Pengucapan ikrar janji pernikahan lancar dilakukan oleh Zeevan Sanders yang kini resmi berstatus sebagai suami dan Vanya yang menyandang status seorang istri.


Singkat..


Pernikahan yang dilakukan bukanlah konsep penikahan yang diidamkan Vanya maupun Zeevan.


Satu ruangan besar yang berisi keluarga Sanders, Tampak Tuan Devan dan mommy Lucy duduk disebuah sofa panjang, Zeevan duduk di salah satu sofa singel dan Vanya yang memilih duduk di sofa lain berjauhan dengan Zee.


Vanya hanya menunduk tanpa kata sementara yang lainnya saling mengobrol ringan.


Keesokan harinya..


Setelah dokter memastikan kondisi Vanya stabil dan siap untuk pulang, maka rombongan keluarga Sanders mulai bersiap packing.


Namun sebelum nya Daddy Devan menyampaikan kepada Zee dan Vanya jika mereka akan terlebih dahulu pulang ke negara asal.


Sedangkan putra dan putri pasangan suami istri tersebut harus sedikit menunggu lebih lama karena paspor dan kartu identitas Vanya yang baru masih dalam proses pembuatan.


Saat Daddy Devan menawarkan untuk kedua putra dan putrinya tinggal di resort sontak Vanya menolak.


"Tidak mau, Vanya tidak mau tinggal di tempat lain. Vanya mau pulang ke rumah saja. " ucap Vanya pelan tapi tegas.


"Tapi Vanya, apa kamu yakin ?" Daddy Devan bertanya kebapakan dengan sorot mata tajam seperti biasanya.


"Zee gak mau tinggal di rumah Vanya Dad, Zee mau tinggal di resort sembari menunggu jadwal penerbangan, titik. " Zee protes secara tegas namun tampaknya nasib sedang tidak berpihak pada Zeevan Sanders.


Demi menenangkan kondisi mental Vanya maka mereka sepakat menuruti apa yang menjadi keinginan Vanya saat ini.


Dua mobil melaju kearah berlawanan saat keluar dari pelataran Rumah Sakit kutha.


Satu mobil mewah ditumpangi Daddy Devan, Mommy Lucy dan disupiri langsung oleh Asisten Clark bertolak langsung menuju bandara I Gusti Ngurah Rai tempat dimana pesawat pribadi mereka mendapatkan jadwal tinggal landas satu jam dari Sekarang.


Sedangkan satu mobil mewah lainnya berisi penumpang sepasang suami istri yang baru saja sah beberapa jam yang lalu, kini melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah kayu bercat biru milik Vanya.


Zee yang mengemudi tampak fokus memperhatikan arah GPS pada layar monitor di samping kemudi, sedangkan Vanya tampak lebih memilih membuang pandangan kearah luar jendela mobil.


Hening..


Tidak ada salah satu pun dari mereka mencoba mencairkan suasana.


Setengah jam berlalu dan mobil mereka belum juga tiba di lokasi rumah Vanya.


"Hei, Tunjukkan jalan kerumahmu !" ucap Zeevan tegas.


Saat ini titik pada map tampak berputar putar kembali ke rute yang sama. Zee benar benar kebingungan.


Vanya masih hanya diam, malas sekali merespon pertanyaan pria bule suaminya itu.


"Astaga, Vanya !! tunjukkan arah yang benar atau aku putar arah dan balik ke resort aja !!" Zee sedikit membentak membuat Vanya menoleh cuek.


"Didepan setelah lampu lalu lintas belok kiri. " jawab Vanya singkat lalu membuang muka lagi.


Zee mendengus kesal tapi menuruti arah petunjuk sesuai gerakan tangan Vanya.


Benar benar awal pernikahan yang bikin senewen..