
Lain yang dialami Zee lain pula yang dialami Vanya.
Saat ini Vanya baru saja menyelesaikan kelas pertama nya , tepat pada waktu yang menunjuk pada pukul sepuluh.
Dosen pembimbing meninggalkan ruangan dan semua murid tampak membereskan peralatan mereka lalu bersiap untuk mata kuliah lainnya yang akan dimulai tiga puluh menit lagi.
Di sela waktu menunggu dosen lain masuk ke dalam kelas,Vanya iseng memainkan ponselnya dan berselancar di dunia sosial media.
Sebuah aplikasi dimana Vanya bisa menscroll dengan bebas konten konten terkait fashion. Teman teman yang lain sibuk dengan urusan masing masing dan jujur saja sampai hari ini Vanya masih lebih sering sendirian tanpa ada teman yang menemani.
Ada banyak referensi tapi Vanya masih saja belum bisa menuangkan ide di dalam otaknya agar menjadi sketsa desain yang diinginkan.
Realita yang masih jauh dari ekspektasi.
Memasuki jam mata kuliah kedua ternyata dosen berhalangan hadir, seorang asisten dosen masuk ke dalam kelas dan memberikan tugas yang dari dosen untuk para murid.
Tugas baru yang harus di kumpulkan hari ini juga, yaitu membuat makalah berupa tulisan berjumlah dua ribu kata yang berisi tentang artikel menarik seputar Paris fashion week .
Paris fashion week adalah pagelaran busana oleh seluruh pecinta fashion yang dikoordinir secara profesional oleh pihak pemerintah setempat hingga menjadikan Paris fashion week menjadi ikon trending fashion yang tidak hanya di dalam tapi sampai merambah ke mancanegara.
Dalam pagelaran mingguan yang diadakan di ruang terbuka sekitaran menara Eiffel selalu diikuti banyak desainer pecinta fashion mulai dari kelas pemula sampai ekspert dan setiap kali acara berlangsung akan selalu ada satu desainer terkenal yang turun tangan sebagai bintang tamu di acara Paris fashion week dengan beberapa model profesional juga bahkan sampai pernah mengundang artis atau tokoh terkenal dari mancanegara untuk turut meramaikan pagelaran iconic di kota Paris tersebut.
Dua ribu kata adalah kata yang singkat dan bisa diselesaikan kurang dari satu jam jika menggunakan laptop atau gadget, tapi dosen menginginkan makalah dengan tulisan tangan yang rapi. Naskah yang jika ditulis manual kira kira akan membutuhkan sepuluh lembar kertas seukuran folio bolak balik.
Kelas Vanya sangat kondusif, tidak ada murid yang mendominasi kelas, tidak ada murid yang suka main bully, semua lebih fokus ke individu masing masing benar benar belajar dan mengejar nilai terbaik .
Vanya tidak punya teman karena mereka semua terlalu fokus pada diri masing masing , hanya sesekali mungkin saling mengobrol ringan bertukar kabar atau hanya sekedar menyapa.
Vanya menyelesaikan tugas makalah tepat lima menit sebelum bel berbunyi.
Satu persatu murid membereskan meja mereka lalu maju ke depan mengumpulkan kertas makalah di atas meja dosen lalu keluar langsung menuju ke kantin.
Saat jam makan siang berlangsung seperti biasa Vanya tidak mendapatkan barisan depan dan seperti biasa juga murid dari kelas lain selalu memotong antrian hingga Vanya hanya bisa mendengus kesal.
Seharusnya aku bawa bekal saja. Aarhhh kenapa aku lupa tadi mau bawa... batin Vanya kesal sendiri.
Merry yang sedang menikmati makan siang di salah satu bangku dalam salah satu sudut ruangan melihat Vanya yang lagi lagi kesulitan dalam antrian.
"Vanya !!!" dengan suara lantang nan bulat Merry berseru sambil melambaikan tangan menatap ke arah Vanya.
Tentu saja hal yang dilakukan Merry sontak membuat banyak orang yang menoleh , tapi Merry cuek saja saat ini dia menghampiri hendak mengajak Vanya duduk bersamanya.
Merry bukanlah murid sembarangan, dia murid senior yang memiliki banyak fans dan sangat populer dikalangan murid seangkatannya.
Dibandingkan jika dikerumuni Anggota geng kesana kemari Merry lebih memilih untuk kemana mana sendiri.
"Merry, hai.." ucap Vanya ramah saat Merry melangkah mendekat ke arahnya.
"Ayo makan siang bareng aku, " ajak Merry yang menggandeng lengan Vanya begitu saja sampai hampir semua orang menatap heran.
Siapa gadis itu kenapa bisa akrab dengan Merry ?
Bukankah itu Vanya si cupu dari angkatan kelas Junior ?
Heii ini tidak adil !!kenapa Merry lebih suka berteman dengan gadis berpenampilan kuno itu dibandingkan denganku ??
Suara bisik bisik sudah biasa bagi Merry tapi tidak bagi Vanya yang kini malah merasa risih.
"Kenapa semua orang melihat kearah kita Mer ? apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui ?" tanya Vanya pelan.
"Abaikan saja Vanya , jangan terlalu memusingkan hal hal yang kurang penting." Merry dan Vanya duduk bersebelahan.
Saat Merry mengangkat tangan memberi kode pada salah satu petugas kantin, tak berapa lama petugas kantin tampak menghampiri meja Merry dan Vanya sambil membawakan satu nampan berisi menu makan siang lengkap dengan desert tambahan.
"Silakan nona Merry.." ucap petugas kantin saat meletakkan satu nampan diatas meja.
"Thanks ya." ucap Merry ramah.
Kemudian Merry menggeser nampan tersebut sampai berpindah ke depan Vanya sambil berkata "Habiskan makan siangmu Vanya."
"Ini sungguh merepotkan kamu Merry , aku jadi merasa gak enak karena gak antri dulu buat makan siang." Vanya tersenyum canggung.
"Jangan sungkan Vanya, kan kita teman." kata Merry sambil tersenyum ramah.
Merry menunggui sampai Vanya menghabiskan seluruh menu yang ada di hadapannya. Kurang dari lima belas menit Vanya sudah berhasil menghabiskan semua menu makan siang hari ini.
Setelah itu Merry mengajak Vanya pergi dari kantin, mereka melangkahkan kaki menuju ke sebuah tempat dimana tidak banyak murid yang lewat.
Sebuah bangunan kecil seukuran kamar kost yang berada di belakang gedung perpustakaan, bangunan kecil yang tampak biasa saja saat dilihat dari luar.
"Kamu bawa aku kemana Mer ? " tanya Vanya lirih.
Astaga kenapa dia membawaku ke tempat seperti ini sih..