
Zee merasakan berbeda dalam dirinya, sesuatu yang terasa panas menjalar ke seluruh tubuh dan membuat Zee gelisah sampai berat sekali kepala.
"Zee, are you okey ? sayang ?" tanya Sabrina yang tampak khawatir lalu menepuk lengan Zee pelan namun entah kenapa membuat Zee seperti tersetrum sensitif.
"I don't know Bri, i feel so bad." Zee berkali kali menggelengkan kepalanya saat tiba tiba hasrat itu mulai menggelitik menginginkan sebuah persentuhan diatas ranjang.
Apa yang terjadi padaku, aarrsshhh.. Zee menahan rasa menyiksa dalam dirinya.
"Astaga sayang , ayo sebaiknya kamu istirahat. Aku akan pesankan kamar , just wait ok." Sabrina memastikan Zee tidak beranjak dari tempatnya duduk sementara dirinya melangkahkan kaki tergesa ke bagian resepsionis dengan senyum tipis di bibirnya.
Sedikit lagi Zee , kamu akan jadi milikku seutuhnya.. smirk kelicikan menghias wajah Sabrina.
Kurang dari lima menit Sabrina sudah kembali dari bagian resepsionis dengan membawa kunci kamar ditangannya.
"Ayo Zee.." lagi lagi ekspresi khawatir ditunjukkan Sabrina agar Zee tidak curiga jika ini semua adalah bagian dari rencananya.
Sabrina ingin membantu memapah Zee tapi di tolak . Zee sebisa mungkin menghindari sentuhan dengan orang lain karena itu hanya akan membuat dirinya semakin ON.
"Aku bisa sendiri Bri , " Zee mengangkat tangannya saat Sabrina ingin kembali menggandeng.
Karena Zee merasa pusing , mungkin dengan istirahat sejenak akan memulihkan kondisinya. Zee berjalan agak sempoyongan menuju ke sebuah lorong di bagian belakang klub yang memang di sediakan kamar khusus untuk para tamu pengunjung yang ingin bermalam bersama pasangan ataupun sendirian.
Sayangnya setibanya di dalam kamar yang Sabrina pesan, tubuh Zee semakin merasa gerah, panas gerah dan pusing. Sesuatu di bagian bawah tubuhnya seakan ingin berontak mencari kepuasan.
Sabrina tampak mengamati kondisi yang dialami Zee sang pacar dari dekat pintu, terbesit sebuah ide nakal Sabrina yang pasti akan membuat Zee tidak akan bisa menolak.
"Apa yang kamu lakukan Bri, pakai bajumu !" umpat Zee saat melihat Sabrina melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuhnya tepat di hadapan Zee.
"It's oke Zee, bukan kah sebentar lagi kita juga akan menikah, seperti yang kita impikan selama ini kan come on sayang .. touch me Zee i am yours"
"Stop Sabrina !!! Berhenti atau aku bisa berbuat kasar nanti !!" Zee memundurkan langkahnya.
Selangkah Sabrina maju, selangkah pula Zee mundur. Begitu seterusnya sampai ,
Bugh ! tubuh Zee membentur tepian ranjang dan seketika itu juga Sabrina mendorong tubuh Zee hingga jatuh terbaring di atas ranjang.
Tubuh Zee semakin terasa berat saat Sabrina dengan binal nya mulai merangkak ke atas tubuh Zee. Dengan gaya e ro tis Sabrina mengusap dada Zee dengan dua gundukan payu dara yang seksi menggelantung.
"Awsshh ahh Bri , hentikan !!" bentak Zee tapi tubuhnya tidak mampu melawan.
Saat ini Zee sedang berperang dengan akal sehatnya, Ini tidak boleh terjadi , aku tidak mau melakukan itu Aarrgghhh !!!
Baru saja Sabrina ingin melepaskan kancing kemeja yang dipakai Zee namun tiba tiba ,
Brukk !! tubuh polos Sabrina terdorong kasar sampai terjatuh di lantai.
"Awsshh sakit Zee,kamu kasar sekali padaku hiks.." Sabrina pura pura akting kesakitan namun Zee tampak tidak peduli.
"Ini gak bener Bri. sorry tapi lebih baik aku pergi." Zee berhasil mengumpulkan kesadaran nya meski tidak penuh tapi mampu membawa dirinya keluar sampai tempat parkir.
Zee mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi kebetulan jalanan lengang hingga dalam waktu kurang dari lima belas menit sudah tiba di gedung apartemen.
Zee mematikan mesin mobil usai terparkir di dalam basement gedung apartemennya, berkali kali Zee memukul kepala dengan telapak tangannya agar tetap sadar meski Zee sendiri tidak memungkiri jika batang kejantanannya semakin ON.
Sementara itu..