ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 6 Kertas Wasiat



Saat semua orang masih berada di area pemakaman, Asisten Clark yang sudah tiba di Bali sejak pagi pagi sekali langsung meluncur stand by ke rumah sakit.


Perjalanan menggunakan pesawat pribadi milik perusahaan Tuan Devan Sanders selama lebih dari enam jam tidak mengurangi keprofesionalan Asisten Clark meski harus menahan rasa jetlag.


Sebuah ruangan khusus disiapkan, sesuai permintaan keluarga Sanders. Tuan Devan membayar lebih untuk fasilitas V V I P di Rumah sakit Kutha. Ruangan yang akan digunakan untuk menyelesaikan urusan antara keluarga Sanders dengan Bapak Beni.


Asisten Clark saat ini tengah menyerahkan selembar kertas berisi wasiat seperti yang dutarakan Pak Beni kepada Tuan Dev,


"Semua tertulis seperti yang anda katakan tuan, tidak ada yang dikurangi apalagi di lebih lebihkan. " ucap asisten Clark kepada Tuan Dev yang memang tidak ikut mendampingi istri dan putranya ke pemakaman.


"Hhmm.. tepat seperti yang seharusnya, Good Job Clark. " Tuan Devan segera membubuhkan tanda tangan lalu meminta tolong pada dokter khusus yang merawat Pak Beni yaitu Dokter Made agar membawa kertas wasiat untuk ditunjukkan pada pasien dan tidak lupa meminta tanda tangan Pak Beni.


"Pastikan Pak Beni membaca semuanya dengan detail, aku tidak mau dikira sekedar mempermainkan kesepakatan atau mencuri kesempatan. Aku percaya padamu dok pergilah. " ucap Tuan Dev kepada dokter Made


"Baik, saya akan segera bawa kertas ini keruangan tempat pasien, permisi tuan.. " dokter Made undur diri dari ruangan khusus tersebut.


Kini hanya tinggal Tuan Devan dan Asisten Clark di dalam ruangan. Mereka lanjut membicarakan hal hal menyangkut pekerjaan.


Asisten Clark tidak pernah banyak bertanya pada setiap keputusan tuan Dev namun kali ini sungguh ingin sekali dia bertanya, sekilas Asisten Clark melirik sang tuan yang tengah fokus memeriksa laporan perusahaan di laptop.


Eghem..


"Tuan, maafkan atas kelancangan saya bertanya tentang hal ini tapi, apakah anda yakin dengan keputusan ini tuan ? apakah tuan muda setuju jika dirinya harus menikahi gadis itu ? . " tanya Asisten Clark sopan penasaran.


"Keluarga Pak Beni murni hanyalah golongan manusia kasta rendah, tapi aku merasa jika putrinya Vanya memang memiliki potensi. Anggap saja pernikahan hanyalah sarana karena istriku menginginkan gadis lugu itu menjadi putri angkat kami. Tidak masalah jika tidak ada cinta diantara Zee maupun Vanya, semua bisa berubah seiring berjalannya waktu tapi yang pasti keinginan istriku harus terpenuhi. " ucap Tuan Dev lugas lalu kembali ke mode fokus membahas urusan pekerjaan.


Sebelumnya memang sengaja Tuan Devan memeriksa latar belakang keluarga Pak Beni, terutama Vanya, gadis yang akan dinikahkan dengan putra semata wayangnya Zeevan Sanders.


Tuan Devan cukup tertarik akan prestasi akademik Vanya selama bersekolah dari SD sampai SMA dimana Vanya selalu berhasil masuk dalam ranking tiga besar disekolah, beberapa piagam penghargaan atas pastisipasi keikutsertaan Vanya dalam berbagai lomba. Dan satu hal yang menarik lagi, Vanya mempunyai cita cita menjadi seorang Desainer terkenal, hal itu diketahui dari setiap data yang dikumpulkan sejak Vanya SMP hingga SMA.


Tuan Devan berani menerima karena dia tidak menemukan hal hal cacat dari keluarga Pak Beni kecuali fakta bahwa mereka memang miskin dari kasta rendah .


Kurang dari setengah jam dokter Made sudah kembali ke dalam ruangan menemui Tuan Dev dan asistennya.


"Pasien Beni sudah membaca dan beliau percaya pada anda tuan Devan, namun karena tangan pasien Beni tidak mampu memegang ballpoint maka terpaksa hanya membubuhkan cap jempol. Silakan.. " dokter Beni menyerahkan kertas berisi wasiat kembali pada Asisten Clark.


Asisten Clark kembali memeriksa dan memastikan hingga, "Dengan adanya surat wasiat ini maka baik tuan muda maupun putri pasien tidak akan bisa menolak, mereka akan berpikir ribuan kali jika ingin menolak kesepakatan antar ayah mereka. "


Asisten Clark menyimpan baik baik kertas wasiat tersebut saat mendengar tuan Dev angkat bicara, "Sementara menunggu mereka kembali dari pemakaman, siapkan segala sesuatunya Clark. Lebih cepat lebih baik karena kami tidak bisa berlama lama tinggal di sini. "


Menjelang siang hari saat matahari mulai bertengger tepat diatas kepala, Mobil yang membawa Vanya dan Mommy Lucy tiba di rumah sakit sedangkan mobil dengan tuan muda Zee di dalam nya masih tertinggal di belakang. "


Mommy Lucy hendak mengajak Vanya kembali ke kamarnya dan saat melewati loby, "Apakah aku boleh menjenguk bapak tante ?" tanya Vanya sopan.


"Kita baru pulang dari pemakaman nak, sebaiknya kita bersihkan diri dulu baru kita Jenguk bapak kamu oke? " Mommy Lucy dengan ramah mengajak Vanya kembali ke kamarnya.


"Oke tante, " jawab Vanya singkat mengikuti langkah tante baik hati


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian bersih yang disediakan pihak rumah sakit Vanya dan Mommy Lucy menemui dokter Made agar mendampingi mereka menemui pasien Beni.


Kini Vanya, Mommy Lucy dan dokter Made sudah berada di dalam ruangan steril tempat Pak Beni masih terbaring lemah dengan peralatan medis yang masih menempel ditubuh.


"Bapak... " ucap Vanya lirih didekat daun telinga sang ayah.


Meski sang ayah masih terpejam tapi Vanya yakin beliau bisa mendengar suaranya.


"Pak.. Bapak harus sembuh ya pak, Vanya cuma punya bapak dan Vanya janji kita berdua akan berjuang hidup bersama setelah pulang dari rumah sakit, pak.. bapak dengar kan suara Vanya... " Sendu terasa saat Bapak Beni hanya merespon lewat tatapan lemah tanpa mampu berucap.


Efek obat yang diberikan memang membuat Bapak Beni tampak lemah tak berdaya, "Pasien harus banyak istirahat nak, beliau tidak bisa berlama lama menerima tamu. Kondisinya masih terlalu lemah.. " ucap dokter Made yang menepuk pundak Vanya pelan.


"Hiks.. penyakit apa yang sebenarnya di jangkit bapak saya dok ?" tanya Vanya sambil terisak pelan.


"Pasien memiliki penyakit Jantung dan diabetes, itu sebabnya pasien harus di rawat diruangan steril karena luka bekas operasi tidak bisa kering dengan mudah. " kata dokter Made mengatakan yang sebenarnya.


Penyakit bawaan pasien Beni baru diketahui setelah proses penanganan selesai, di dalam ruang operasi kala itu para tim medis kesulitan menutup luka bekas operasi yang terus basah. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut para tim medis terkejut lantaran pasien memiliki dua penyakit bawaan yang berbahaya bagi keselamatannya setelah keluar dari ruang operasi yaitu Penyakit jantung dan Diabetes.


Maka dari itu tim dokter memindahkan pasien Beni keruangan steril untuk perawatan intensif.


Hanya sepuluh menit Vanya menjenguk sang ayah, kemudian Ketiga orang tersebut keluar dari ruangan. Mommy Lucy dan Vanya terkejut lantaran di depan ruangan rawat pak Beni sudah ada Tuan Devan dan asisten Clark menatap dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan,


"Suamiku.. Clark.. Kalian disini ?" tanya Mommy Lucy tersenyum heran.


Sedangkan Vanya yang tidak terlalu mengenal mereka hanya berdiri diam ditempatnya.


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan.. "