
"Aku takut hiks.." ucap Vanya lirih sambil memeluk erat tubuh sang suami.
"Tenang Vanya, ada aku.." Zee terus mengusap menenangkan Vanya sampai tangisnya mereda dan akhirnya tertidur.
Dengan lembut Zee membenarkan posisi tidur Vanya dengan menutup tubuhnya dengan selimut sampai batas dada, Zee menatap wajah sembab dan mata sedikit bengkak akibat menangis dari tadi.
Rasa trenyuh tidak bisa ditutupi Zee saat ini, dia sangat merasakan apa yang istrinya alami.
Seperti ini kah rasanya kala itu, Vanya.. gumam Zee pelan dengan netra yang sedikit berembun.
Cup~ satu kecupan singkat mendarat di pucuk kepala sang istri , setelah itu Zee berniat mengurus administrasi perawatan.
Setelah memastikan sang istri benar benar lelap, Zee pergi menemui dokter yang menangani istrinya.
Di dalam ruangan sang dokter, Zee dan dokter yang menangani Vanya membahas tentang kejadian trauma yang dialami sang istri, dokter juga menjelaskan situasi saat pasien tiba di rumah sakit.
"Seperti nya kecelakaan yang tidak sengaja karena rem blong sebuah sepeda motor yang kebetulan mengarah ke istri anda tuan." ucap sang dokter dengan menatap tajam tapi sopan ke arah Zee yang duduk tegas di kursi di hadapannya.
"Bisa kah aku bertemu dengan pasien satunya ? aku juga harus tahu seperti apa kondisinya. Jika benar ini murni kecelakaan maka aku bersedia membayar administrasi biaya perawatan pasien tersebut. "Zee meminta untuk diantarkan ke dalam ruang rawat pengendara sepeda motor yang tidak lain adalah..
Dokter mengijinkan Zee menjenguk pasien satunya namun tidak boleh lebih dari lima belas menit karena pasien masih dalam tahap perawatan intensif.
Zee melangkah pelan mendekati ranjang pasien dan sontak raut wajah Zee berubah dari yang awalnya tenang kini menjadi tegang.
Netra Zee tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapan nya saat ini, "Sabrina ?" gumam Zee lirih sama sekali tidak menduga.
Sabrina yang selama jadi pacarnya tidak pernah naik motor kenapa tiba tiba bisa mengendarai motor sampai kehilangan kendali dan berakhir dengan kecelakaan ?
"Bagaimana bisa itu kamu Bri, ada apa sebenarnya ?" lagi lagi Zee bermonolog lirih sambil terus menatap ke arah Sabrina yang tampak belum sadarkan diri karena efek obat penenang yang dicampur ke dalam cairan infus.
Sabrina masih belum sadarkan diri saat Zee berdiri tepat di sisi ranjangnya. Dalam situasi hening seperti ini, tiba tiba Zee mengulik sebuah perasaan yang dahulunya tertuang hanya melimpah ruah untuk Sabrina,namun kini menatap sosok Sabrina saja hati Zee sama sekali tidak bergetar.
Kemana perginya perasaan yang dulu ada ?
Zee khawatir akan kondisi Sabrina tapi tidak sekhawatir saat melihat kondisi sang istri. Saat ini Zee semakin yakin jika dia sudah rela melepaskan Sabrina dan hanya akan mengikat hati , cinta dan kesetiaan pada Vanya istri mungilnya.
Aku akan mengakhiri hubungan kita setelah kamu sadar Bri, maaf~ gumam Zee dalam hati.
Kurang dari sepuluh menit Zee sudah keluar dari kamar rawat Sabrina. Langkahnya kembali berbalik menuju kamar sang istri yang saat ini pasti sangat membutuhkan dirinya.
Ada yang aneh dalam kecelakaan yang terjadi, feeling ku mengatakan ada yang tidak benar dan aku harus meminta bantuan uncle Clark untuk menyelidiki kasus ini. batin Zee bertekad menemukan kebenaran atas kejadian yang sesungguhnya terjadi pada sang istri.
Malam itu Zee menginap di rumah sakit, setelah sebelumnya mengurus administrasi untuk sang istri agar dipindahkan ke ruang rawat inap V V I P.
Sementara Zee menunggui sang istri yang masih lelap tertidur di atas ranjang ukuran king, Tangan kanan Zee meraih ponsel, mencari nama kontak uncle Clark lalu mengirim pesan teks yang berisi tentang bantuan untuk menyelidiki kasus kecelakaan yang dialami Vanya sang istri.
Setelah mengirim pesan, Zee meletakkan ponselnya di meja samping ranjang pasien lalu Zee ikut tertidur sambil mendekap Vanya masuk ke dalam dekapannya.
Sedangkan di ruangan lain,
Di ruang rawat tempat pasien Sabrina berada ,tampak seorang wanita masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki senyap.
Sabrina sendiri baru saja tersadar sekitar empat puluh lima menit yang lalu, setelah dokter dan perawat memastikan kondisi pasien stabil kini Sabrina hanya terbaring dengan kondisi hendak memejamkan mata.
"Kamu sudah siuman Sabrina, " ucap seorang wanita yang melangkah senyap kini berada tepat di sisi ranjangnya.
Sabrina kembali membuka mata lalu menatap ke arah sumber suara, Sabrina sayup sayup mencoba mengenai siapa sosok yang tiba tiba muncul di dalam kamar nya.
Wanita itu menarik satu kursi agar bisa duduk di dekat pasien. Tampak raut wajah yang datar terkesan angkuh dan dingin, satu kaki bertumpu pada kaki lainnya dengan dua tangan yang terlipat dan menatap Sabrina dengan tajam.
Sabrina membalas tatapan wanita tersebut lalu tersenyum tipis berucap sesuatu bernada lemah ,"Merry~ "
Sabrina sempat terharu tersanjung lantaran seorang murid primadona kampus saat ini menengok dirinya yang terbaring lemah di rumah sakit, namun sejurus kemudian raut muka Sabrina berubah kecut kala Merry tiba tiba mengeluarkan suara mengancam,
"Ini untuk pertama dan terakhir kalinya kita ketemu dan aku cuma minta satu hal sama kamu Sabrina, jauhi Zee dan Vanya. Jangan pernah berani mendekat ke arah mereka meski dalam jarak sepuluh meter sekalipun. Enyahkan dirimu dari sekitar mereka atau.."
Merry ber smirk elegan kala hampir menuntaskan kalimat nya , tetapi Sabrina memotong dengan reaksi terkekeh menghina.
"Cih, aku pikir kamu kemari karena peduli dengan aku. Astaga, kenapa kamu merasa berhak mengancam ku yang tidak bersalah ini. Bukankah jelas jelas yang salah adalah si ja lang bernama Vanya itu hehh ! Merry.. oh Merry.. Bagaimana jika aku menolak dan tetap ingin mendapatkan pacarku kembali dari godaan wanita ja lang sialan bernama Vanya itu heum ?"
Sabrina tentu saja tidak akan terpengaruh ancaman dari Merry, biar bagaimanapun caranya dia harus bisa mendapatkan Zee kembali. Meski harus menghilangkan nyawa wanita ja lang bernama Vanya, Sabrina tidak peduli. Dia akan mengambil resiko sekejam itu demi mendapatkan kembali Zee sang pacar.
"Sabrina, apa kamu pikir ancaman ku hanya sekedar ancaman heum ? tentu saja aku berani mengancam karena aku punya kartu mati mu hahaha.."
Merry tertawa renyah, meskipun Sabrina menatapnya tidak suka tapi Merry benar benar memegang kartu kematian Sabrina yaitu,
"Pergilah Merry, aku tidak butuh empati atau ancaman dari mu. " Sabrina membuang muka ke arah lain. Sengaja menghindar i menatap Merry yang tetap dengan ekspresi anggunly nya.
"Sebaiknya kamu lihat ini dulu Bri,sebelum berkoar koar layaknya seorang wanita suci yang tersakiti."
Merry smirk elegan sambil mengangkat sebuah flash disk di tangan kirinya.
"Apa isi flash disk itu ?" kata Sabrina penasaran, meski dirinya yakin apapun isi dari flash disk itu tidak akan menggoyahkan tekadnya namun saat melihat senyum jahat Merry, seketika Sabrina merasa was was,
Jangan jangan~