
Setelah bergantian membersihkan diri di kamar mandi, Zee dan Vanya sarapan di restoran hotel. Setelah itu mereka cek out dari hotel menjelang siang. Rencana selanjutnya adalah pulang ke rumah kayu bercat biru milik Vanya.
"Uncle Clark sudah menyiapkan tiket keberangkatan kita besok. Semua berkas milikmu sudah jadi dan sekarang kita akan pulang untuk packing. Sebaiknya kamu jangan membawa banyak barang, cukup bawa yang penting saja. Urusan pakaian atau semacamnya sudah disediakan oleh orang suruhan mommy Lucy. Saranku cukup bawa satu ransel kecil dan kamu isi barang penting. Mengerti kan apa maksudku ?" ucap Zee di sela menyetirnya.
"Aku mengerti, aku hanya akan bawa beberapa barang penting dan Hhmm Zee... Satu hal lagi, apakah aku bisa bawa sepeda hadiah ulang tahunku yang ke 18 ?" Vanya ingin membawa sepeda hadiah dari bapak dan ibu saat perayaan ulang tahunnya yang ke 18 beberapa waktu yang lalu.
Cciiitttttt... Seketika Zee menginjak pedal rem mobil dimana saat ini berada di jalan utama.
Beruntung jalanan lengang hingga meski sempat mengganggu pengguna jalan lain tapi tidak sampai menimbulkan kemacetan.
"Are you kidding me Vanya ??" tanya Zee yang melongo terkejut bercampur heran dengan tatapan tak habis pikir pada perkataan Vanya barusan.
"Serius. Cuma sepeda itu kenangan terakhir bapak dan ibuku, kalau gak boleh bawa sepeda aku gak akan mau pergi. " Vanya merasa saat ini ekspresu wajah Zee sangat tidak mengenakkan.
"Sepeda bekas yang ada dirumah itu maksudmu ? Oh come on Vanya kita akan terbang ke Paris , apa kata orang kalau kita bawa bawa sepeda buluk itu. Tinggalkan saja. Aku bisa belikan kamu sepeda baru yang lebih bagus. " Zee kesal tapi soror netra Vanya justru membuatnya tidak tega.
Kembali Zee menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan melaju ke arah rumah.
"Bukan tentang bekas atau baru Zee tapi kenangan di balik itu. Hanya sepeda itu hartaku yang paling berharga sekarang ini. Aku bisa gak bawa apapun asalkan sepeda pemberian bapak dan ibu tetap ikut. " Vanya berucap dengan nada lirih tapi dengan tatapan ke arah Zee yang kini tiba tiba diam sedingin beruang di kutub selatan.
Vanya lalu memilih mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Hening.. keduanya sama sama larut dalam pemikiran masing masing hingga tak terasa perjalanan mereka sudah tiba di pelataran halaman rumah pak Lurah.
Seperti biasa, setelah menitipkan mobil Zee dan Vanya langsung menuju rumah kayu bercat biru.
Tidak saling bicara apalagi menatap mata. Begitu tiba di rumah kayu, Vanya terlihat lebih dulu mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah seedangkan Zee hanya menatap diam tanpa ekspresi.
Alih alih ikut masuk ke dalam rumah, lagi lagi Zeevan lebih memilih untuk mengarahkan kedua kaki panjangnya ke bibir pantai.
Pikiran Zeevan Sanders memang sedang tidak bagus, disatu sisi Zee harus memikirkan bagaimana menghadapi sang kekasih setibanya di Paris.
Di sisi lain dirinya juga harus menjadi anak yang patuh pada orang tua. Zee sudah memikirkan banyak hal sejak pernikahan paksanya dengan Vanya.
Sebuah rencana yang semoga akan berjalan dengan lancar setibanya mereka di Paris esok hari.
Vanya yang berada di dalam rumah tampak mulai memilah barang apa yang akan dia bawa. Ada terlalu banyak hal yang ada di rumah kayu bercat biru.
Rumah yang menjadi saksi tumbuh kembang dirinya dari seorang anak kecil hingga menjadi remaja yang beranjak dewasa.
Lebih tepatnya remaja yang di paksa dewasa oleh keadaan. Vanya mengurung diri di kamarnya kali ini dia ingin menikmati kenyamanan terakhir sebelum harus ikut Zee pergi ke Paris.
Aku bakal kangen banget sama kalian oppa Jin, Suga, RM, J hope, Jimin, V, Jungkook !!! di Paris kayaknya aku gak bakal nemuin kenyamanan didalam kamar seperti ini, huft.. kalau saja bisa pasti aku bawa kalian pindahan bersamaku tapi nanti kalau masuk ke dalam tas kalian malah jadi kusut gimama, huft.. bakal repot benerinnya kan.. Gumam sendiri saat Vanya menatap satu persatu foto B T S.
Setelah puas "berpamitan dengan poster kesayangan" Vanya memilih untuk menyiapkan beberapa barang penting yang bakal bermanfaat banget sebagai motivasi Vanya kuliah nanti.
Buku sketsa desain, buku album foto keluarga kecilnya dan beberapa benda kecil lainnya.
Sebuah ransel milik Vanya sudah siap, Vanya meletakkan ranselnya di atas meja belajar agar sewaktu waktu Zee mengajak dirinya berangkat esok hari semua sudah siap.
Tersenyum getir terukir di bibir saat Vanya melangkah keluar kamar dan menghampiri sepeda hadiah pemberian bapak dan ibu.
Bapak ibu maafkan Vanya ya, karena sepertinya sepeda ini tidak akan bisa Vanya gunakan untuk berangkat kuliah atau kerja. Vanya akan melanjutkan pendidikan di Paris. Apa bapak dan ibu melihat Vanya dari surga ?? Vanya mengusap permukaan sepedanya itu seakan kembali lagi lagi mengukir memory bersama mendiang bapak dan ibu.
Saat Vanya sedang larut dengan sepedanya, tiba tiba Zee masuk ke dalam rumah dan menatap datar ke arah Vanya.
Sesaat Zee dan Vanya bertumpu pandang lalu detik berikutnya sudah kembali saling membuang muka.
Zee langsung melewati sosok sang istri begitu saja.
Sedang tidak ingin berada dalam satu ruangan yang sama, Vanya memilih untuk bersepeda di luar rumah. Vanya memang ingin menghindari Zee saa ini.
Zee sendiri hanya melihat tanpa ekspresi saat Vanya membawa sepedanya keluar. Setelah pintu tertutup Zee menghela nafasnya panjang.
Sementara itu diluar sana Vanya mulai menaiki sepeda pemberian mendiang bapak dan ibu, menggowes pelan ke arah bibir pantai.
Vanya ingin bersepeda jauh, ini adalah pertama kali dan mungkin juga terakhir kali bagi Vanya bisa menaiki sepeda hadiah ulang tahunnya yang ke 18.
Kaki Vanya lincah menggowes sepeda yang kata Zee bekas dan lusuh, tapi bagi Vanya sepeda ini adalah segalanya. Didalamnya ada kenangan terakhir mendiang bapak dan ibu.
Semilir angin senja di bibir pantai membuat Vanya enggan beranjak, saat ini Vanya duduk menikmati senja yang hadir seiring matahari yang mulai tenggelam dengan sepeda kesayangan yang terparkir di sampingnya.
Rambut hitam Vanya yang tergerai seolah sedang menari bermain main dengan sejuknya angin laut yang menerpa tubuhnya.
Suasana yang sangat menentramkan membuat Vanya ingin lebih berlama lama menikmati momen ini.
Duduk diatas pasir pantai dengan kedua kaki selonjoran dan kedua tangan menopang bobot tubuhnya di belakang.
Sesekali tampak beberapa kelompok nelayan yang bersiap untuk melaut malam ini, para nelayan sedamg mempersiapkan kapal mereka. Hal itu mengingatkan bagaimana biasanya mendiang bapak Beni juga membantu para nelayan lain untuk menyiapkan kapal yang akan melaut dengan harapan esok mereka kembali dengan membawa hasil tangkapan yang melimpah.