
Asisten Clark berhasil membawa Vanya dari rumah kayu bercat biru berkat sebuah kabar yang di sampaikan tuan Dev lewat panggilan suara tadi.
Bahkan dengan suka rela Vanya mengikuti langkah Asisten Clark menuju mobil yang terparkir agak jauh dari rumahnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Vanya tampak tidak sabaran seolah emosinya tadi hilang begitu saja.
Kepanikan kala mendengar kabar berita tentang kondisi sang bapak yang siuman membuat Vanya tiba tiba membuang jauh pikiran untuk bunuh diri.
"Om, lebih cepat om !!" Vanya tidak sabar ingin segera tiba di rumah sakit.
"Tenangkan dirimu girl, kita harus perhatikan keselamatan berkendara." Asisten Clark melajukan mobil dalam kecepatan rata rata tetapi bagi Vanya itu masih kurang cepat.
Berita bahagia disampaikan pihak rumah sakit pada keluarga Sanders selaku penanggung jawab pasien, manakala Pak Beni tengah sadar dan mencari keberadaan putri semata wayangnya.
Usai menempuh perjalanan sekitar setengah jam Asisten Clark membawa Vanya untuk membersihkan diri terlebih dahulu di kamar inapnya.
Vanya membersihkan diri lalu mengenakan pakaian dari rumah sakit yang bersih, lalu dengan didampingi Aisisten Clark Vanya masuk ke dalam kamar perawatan intensif dimana Bapak Beni tersenyum menyambut kedatangan Vanya.
"Bapak.. huhuhuu.. bapak sudah siuman Vanya senang sekali pak.. " Vanya memeluk tubuh Bapak yang masih terasa rapuh meski senyum menghiasi wajahnya.
"Vanya.. kamu bandel ya nak, kenapa kamu meninggalkan bapak sendirian di rumah sakit heum? " ucap pak Beni tertatih lemah.
"Maaf pak, Vanya hanya... " Vanya tidak berani melanjutkan kalimatnya.
"Vanya anakku, kamu pasti sudah tahu tentang kertas wasiat yang Bapak bikin kan. Wasiat itu murni keinginan bapak nak. " pak Beni mulai berkaca kaca.
"Vanya hanya ingin kita hidup bersama pak, gak perlu kita minta pertanggung jawaban sama mereka. Bagi Vanya bisa menjalani hari hari sama Bapak itu sudah lebih dari cukup, Vanya gak sudi menikahi pembunuh ibu pak. " Vanya tegas mengatakan menolak wasiat sang bapak .
"Vanya.. uhukk ~ Bapak ingin kamu tetap menikah dengan nak Zeevan. keputusan bapak sudah bulat anakku Vanya, bapak merasa umur bapak tidak akan lama untuk bisa menemani kamu bertumbuh. Bapak hanya akan jadi beban hidup kamu nak. " lirih sekali pak Beni berucap tapi Vanya bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Pak, Vanya tidak keberatan kok mengurus bapak seumur hidup Vanya. Vanya rela kok pak jika harus bekerja sambil merawat bapak hiks.. " Vanya menangis sesegukan seakan apa yang disampaikan pak Beni adalah kalimat perpisahan.
"Berjanjilah Vanya. Kabulkan keinginan bapakmu ini, uhuk ~ , terimalah perjodohan dengan nak Zeevan bapak mohon.. " bapak Beni menangis, ya beliau menangis dari lubuk hati yang terdalam sangat ingin putrinya bisa menyongsong masa depan yang cerah.
"Bapak... " Vanya berucap lirih seakan ingin kekeuh menolak atau justru bersedia menerima wasiat tersebut.
Selanjutnya, Pak Beni mengulurkan tangannya yang rapuh, keinginan yang teguh seorang bapak membuat sang putri satu satunya merasa enggan untuk menolak meski masih juga ragu akan keputusannya.
Vanya meraih tangan rapuh sang bapak lalu..
Cup.. Vanya mencium punggung tangan Bapak yang rapuh.
Baru saja Vanya ingin melepaskan genggaman tangan keduanya saat tiba tiba saja..
Tangan pak Beni yang digenggam Vanya terkulai lemas, seketika Vanya mendongak memastikan kondisi sang ayah.
"Pak.. Bapak.. pak !!" Vanya menepuk menggoyangkan pundak pak Beni pelan,
Dalam hati Vanya bergemuruh seakan kembali menolak apa yang kini sedang terjadi.
Layar monitor gerak jantung menunjukkan garis lurus tanpa grafik pernafasan, Vanya panik sekali apa yang harus dia lakukan saat ini.
Vanya yang panik menekan tombol emergency di samping ranjang pasien lalu kurang dari setengah menit seorang perawat masuk ke dalam ruangan dan memeriksa kondisi Pak Beni.
Vanya mundur satu langkah menyaksikan bagaimana perawat tersebut memeriksa sang bapak yang..
"Maaf pasien tidak merespon apapun ,beliau sudah meninggal dunia. " perawat tampak bersedih kala menyampaikan hal itu kepada Vanya.
Vanya yang mendengar penuturan perawat kembali histeris berteriak, " BAPAK !!!!"
Asisten Clark yang menunggui di luar ruangan terkejut mendengar sura jerit dari dalam.
Namun karena ruangan tersebut steril maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali menunggu tenaga medis keluar dari ruangan dan menyampaikan laporannya.
Berita duka kembali menghancurkan Vanya, Dirinya tetap menunggui di dalam ruangan sementara para tim dokter melepaskan semua peralatan medis yang tertancap dan menemp di tubuh pak Beni.
"Bapak Vanya cuma tidur kok Dokter !! kenapa kalian menutupi wajah bapak, awas !! huhuhuuu... " Vanya menolak saat sebuah kain berwarna putih menutupi seluruh tubuh bapak Beni.
"Nak.. pasien sudah kami pastikan meninggal dunia. Ikhlaskan beliau nak. " ucap salah satu tenaga medis yang kemudian menahan tubimuh Vanya yang ingin kekeuh menahan jasad pak Beni tetap diruangan.
"Enggak !!! Bapak Vanya cuma tidur Dokter huhuhuuu Bapak Vanya gak mungkin tinggalin Vanya, BAPAK !!!" Kondisi mental Vanya kembali labil
Begitu jasad Pak Beni dibawa ke ruang jenasah, Mommy Lucy yang sedari tadi menunggui Diluar ruangan kemudian segera masuk dan mendekap Vanya erat.
"Vanya sudah nak , sudah.. tenang ya. " Mommy Lucy mendekap sambil ikut meneteskan air mata.
"Tante, bapak Vanya cuma tertidur kok, kenapa dibawa pergi tante huhuhuuu.. bapak Vanya gak mungkin ninggalin Vanya, Bapak !!" isak tangis Vanya semakin menjadi jadi bahkan Vanya sampai ingin berontak melepaskan diri dari dekapan mommy Lucy.
"Vanya Sayang, ada mommy disini. Mommy yang akan menjaga kamu, jangan menangis cup.. cup.. cupp.. " Mommy Lucy membawa Vanya yang mulai lemas kembali ke kamarnya..
Sorot mata Vanya kembali kosong dan hampa, saat ini seorang perawat yang memeriksa kondisinya mengatakan pada Mommy Lucy jika pasien lemas karena tidak makan dan minum.
Kemudian Perawat menyuntikkan obat dan suplemen lewat jarum infus. Vanya harus di tenangkan lewat obat penenang.
Sedangkan sama seperti prosesi penanganan jenasah ibu Rahma, pihak Rumah sakit akan menunggu keputusan pihak keluarga sebelum memakamkan jenasah Bapak Beni.
Malam itu kembali dilewati Vanya dengan kehilangan sosok Ayah. Satu satunya sosok pria yang menjadi panutan bagi Vanya.
Hanya bapak Beni dan Ibu Rahma yang Vanya miliki dan kini keduanya justru pergi meninggalkan Vanya dalam kesendirian.
Esok harinya..
Saat matahari terasa hangat menerpa tubuh Vanya lewat ventilasi jendela, Vanya melenguh membuka mata.
Di sana sudah ada Mommy Lucy yang senantiasa mendampingi.
"Vanya anakku, kamu sudah bangun nak syukurlah.. " mommy Lucy menciumi wajah Vanya yang masih tampak lesu.
"Tante.. Bapak tante.. hiks.. " Vanya menangis dalam pembaringannya.
Seolah ingin menerima jika semua ini hanyalah mimpi namun ketika membuka mata barusan tadi Vanya sadar, kini hidupnya hanya sebatang kara tanpa Bapak dan Ibu..