ZeeVanya

ZeeVanya
Bab 16 Pingsan



Mobil yang di kemudikan oleh Zeevan menurunkan kecepatan usai memasuki kawasan pemakaman setempat.


Setelah memarkirkan mobil, Zeevan dan Vanya tampak turun masing masing dari mobil lalu berjalan masuk ke area makam.


Zeevan mengikuti dari belakang langkah kaki Vanya yang lebih cepat mendahului dirinya.


Tap.. tap.. tap.. tap..


Langkah kaki Vanya semakin pelan saat tiba di pusara makam kedua orang tuanya.


Makam bapak Beni dan Ibu Rahma memang bersebelahan, dengan tertatih Vanya duduk bersimpuh mengusap satu persatu batu nisan yang berukirkan nama bapak dan ibu.


Tanah makam yang masih tampak basah, ditambah sepertinya hujan semalam yang membuat suasana di area makam terasa lebih adem.


Zeevan berdiri tepat di samping belakang Vanya, Zeevan menundukkan wajah pun melantunkan doa doa untuk bapak dan ibu mertua .


Sejenak hening..


Baik Zeevan maupun Vanya larut dalam diri masing masing yang ingin mengutarakan isi hati kepada sosok mendiang tersayang sepanjang masa.


Hampir satu jam lamanya, namun Vanya masih enggan beranjak. Seolah tubuhnya ingin terpatri lebih lama bersama pusara makam bapak dan ibu.


Bapak.. ibu.. setelah ini Vanya akan melanjutkan hidup yang entah akan berujung bahagia atau sengsara tanpa adanya Kalian.. hiks.. Vanya menangis dalam diamnya.


"Vanya.. langit mulai mendung sebaiknya kita pergi sekarang." beberapa kali Zeevan menepuk pundak Vanya yang masih tak bergeming.


"Sebentar lagi Zee, sebentar lagi.. biarkan aku menyalurkan semua rasa yang ingin aku utarakan pada bapak dan ibu, sebentar saja... " lirih Vanya berucap dengan bibir sedikit bergetar menahan sesak air mata yang ingin meloloskam diri.


Zeevan pun tidak bisa memaksa, saat ini Zeevan juga membayangkan seandainya dirinya yang berada di posisi Vanya.


Zeevan memilih untuk tetap berdiri dibelakang Vanya yang masih saja bersimpuh diantara pusara makam bapak dan ibu nya meski rintik hujan mulai turun membasahi bumi.


Segera Zeevan berlari kecil untuk mengambil payung yang ada di dalam mobil, kurang dari dua menit hujan turun mulai deras.


Air yang awalnya merintik kini berganti menjadi hujan ringan tapi intens. Meski tak terlalu deras tapi lebih dari cukup untuk membasahi segala yang ada dibumi.


Hiks.. hiks.. hikss.


Bahkan Gusti Sang Hyang Widhi saja mengerti apa yanh aku rasakan, sampai mengirimkan air hujan untuk menutupi air mataku yang lolos berderai. monolong Vanya dalam hati saat ini.


Air mata Vanya benar benar tertumpah seiring derasnya air hujan yang semakin membasahi. Payung besar yang digenggam Zeevan pun tidak mampu melindungi keduanya dari terjangan air hujan yang mulai disertai angin.


Tubuh pasangan muda mudi itu sama sama basah. Berkali kali Zeevan mengajak Vanya untuk menyudahi namun Vanya tetap belum mau pulang.


Zeevan yang seharusnya kesal kini justru merasakan iba, kala punggung Vanya tampak terisak lebih kencang seakan duka yang dirasakan benar benar sangat dalam dan menyakitkan.


Puas menyampaikan segala uneg uneg yang dirasakan, Vanya yang hendak berdiri pun tiba tiba terhuyung kebelakang.


Beruntung Zeevan menangkap bobot tubuh Vanya yang ringan, karena hilang keseimbangan Vanya harus terjatuh dan sialnya kenapa pria itu Zeevan, kenapa harus Zeevan yang ada dibelakangnya.


"Seharusnya kamu biarkan saja aku terjatuh. Bajumu jadi kotor karena menahanku. " ucap Vanya yang tidak mau menatap Zeevan.


Jalan setapak di area makam terasa licin lantaran air hujan, mereka berdua melangkah hujan hujanan.


Saat baru saja melangkah beberapa meter dari pusara mak bapak dan ibu tiba tiba..


BRUGH..


Vanya tiba tiba jatuh pingsan, dan lagi lagi Zeevan berhasil menangkap bobot tubuh Vanya.


"Astaga, Vanya bangun heii !" menepuk nepuk wajah Vanya namun tidak ada respon.


Zeevan yang panik kemudian inisiatif menggendong tubuh Vanya yang pingsan ala bridal dan berjalan sedikit cepat menuju mobil di tempat parkiran.


Zeevan membantu Vanya berbaring dikursi belakang dengan hati hati, Zeevan lalu mengambil sebuah kain bersih dari bagasi mobil untuk menutupi tubuh Vanya agar tidak kedinginan.


Zeevan gegas melajukan mobil pergi dari area pemakaman dengan kecepatan sedang, saat ini tidak bisa ngebut lantaran kondisi hujan berangin dan cukup mengganggu lalu lintas.


Zeevan tidak membawa Vanya pulang ke rumah kayu melainkan ke hotel yang sama tempat mereka mampir tadi ketika berangkat.


Tiba di hotel, Zeevan gegas membawa Vanya ke kamar. Beruntungnya tadi Zeevan tidak langsung cek out setelah mandi. Tadi Zeevan berpikir pulangnya ingin bersih bersih badan dulu disini baru pulang ke rumah kayu.


Tubuh Zeevan dan Vanya sama sama basah. Karena panik Zeevan menelpon nomor rumah sakit Kutha tempat mereka dirawat tempo hari agar mengirimkan dokter ke hotel yang dimaksud.


Sembari menunggu dokter tiba, Zeevan melepaskan pakaian basahnya lalu mengenakan bathrobe tebal, hal yang sama juga Zeevan lakukan pada Vanya.


Dengan berusaha tidak melihat tubuh Vanya secara langsung Zeevan melepaskan kain basah yang menempel ditubuh Vanya lalu menutupi tubuh Vanya dengan selimut tebal.


Zeevan juga mematikan AC agar tidak menambah dingin suhu ruangan.


Kurang dari lima belas menit terdengar suara pintu diketuk dari luar.


Seorang pegawai hotel mengantarkan dokter ke kamar Zee dan Vanya.


Begitu dokter masuk Zeevan segera menutup kembali pintu. Sengaja Zeevan meminta dokter wanita yang akan memeriksa Vanya.


"Tiba tiba saja Vanya pingsan, dan otomatis saya panik dan tidak tahu harus bagaimana. " ucap Zeevan saat mengantarkan dokter wanita tersebut ke samping tempat tidur.


"Baiklah tuan Zeevan biarkan saya memeriksa kondisi istri anda. " dengan senyum ramah dokter tersebut mulai memeriksa kondisi Vanya.


Suhu tubuh sedikit tinggi, namun di saat bersamaan tampak Vanya menggigil kedinginan. Kemudian dokter wanita itu juga memeriksa reaksi kedua bola mata Vanya, begitu juga dengan tensi dan lainnya.


Sekitar sepuluh menit pemeriksaan, dokter wanita tersebut membereskan peralatan medisnya setelah memasangkan sebuah kantong berisi cairan infus dan obat yang akan membantu memulihkan kondisi tubuh Vanya lebih cepat.


"Nona Sanders ini hanya kelelahan, sepertinya dia sedang mengalami stres atau tekanan di dalam dirinya sehingga imun menurun dan mudah drop seperti ini. Secara keseluruhan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saya sudah memberikan cairan obat ke dalam kantong infus jadi hanya menunggu waktu saja saat nona Sanders siuman. " dokter wanita itu tersenyum sambil berucap sopan terhadap Zeevan Sanders yang tampak khawatir.


"Oh iya dok, bisa saya minta tolong satu hal lagi ? Hhmm ini sangat mendesak dan saya tidak bisa melakukannya seorang diri. " ucap Zeevan bertanya meminta bantuan pada sang dokter.


"Bantuan apakah itu tuan Zeevan Sanders ?"