
Zee mengambil jurusan bisnis dan saat ini adalah semester akhirnya di kampus , selama beberapa bulan ini Zee akan mulai fokus mengerjakan skripsi akhir.
Zee memang sosok pemuda yang tampan dan bertubuh bagus di tambah lagi dia anak orang kaya. Sudah otomatis Zee selalu dikerumuni banyak orang setiap kakinya melangkah di kampus pasti semua mata murid lawan jenis akan tertuju padanya, mereka pasti berdecak kagum dan berharap bisa menjadi pasangan Zee.
Sayangnya sudah ada Sabrina yang mengugurkan impian para murid wanita. Sabrina menjadi murid populer sejak jadian dengan Zee, dan sampai kini Sabrina adalah satu satunya wanita yang bisa dekat dengan Zee di kampus.
Hal yang memang membuat iri teman teman lainnya.
Saat Zee and the genk melewati sebuah lorong terdengar suara Sabrina memanggil dari kejauhan sambil melambaikan tangan ke arah Zee,
"Zee !!!" teriak Sabrina sambil berlari kecil menghampiri sang pacar. Banyak murid yang melihat sikap Sabrina yang terkesan centil, manja.
Tentu saja Sabrina sengaja melakukan itu seolah menegaskan hanya dirinya lah murid yang paling beruntung karena bisa mendapatkan Zee.
Zee terdiam saat menatap kedatangan Sabrina, beberapa teman Zee memilih untuk duluan masuk ke dalam kelas, seperti biasanya mereka akan membiarkan Zee menikmati waktunya dengan Sabrina.
"See you in class Zee." ucap Gordon yang merupakan salah satu sahabat Zee.
Sabrina menatap sekilas ke arah Gordon dan yang lainnya sebelum memeluk tubuh Zee.
"Jangan begini Bri , banyak yang melihat." ucap Zee merasa risih.
"Aku khawatir padamu Zee, semalam itu.." Sabrina menatap intens ke arah Zee dan bersikap polos seperti biasanya.
"Aku baik baik saja , aku bisa atasi semuanya Bri. Tapi aku tidak suka saat menemukan fakta jika ada orang yang sengaja ingin menjebak ku lewat obat sialan . Siapapun orangnya aku bersumpah tidak akan memaafkan, cih~" nada suara Zee memang terdengar geram.
"Aku juga gak tahu Zee, minuman itu aku ambil di meja bartender. Aku malah gak tahu menahu soal obat sialan itu, Astaga aku jadi ikut marah kalau begini, mereka udah iseng banget pingin jebak kita. Beruntung semalam kita tidak melakukan hal itu kan Zee." ucap Sabrina pura pura polos dan suci.
"Hhmmm, aku harus ke kelas sekarang Bri . ada materi yang belum selesai aku siapkan. Duluan ya Bri, bye.." Zee pergi begitu saja bahkan dia tidak membalas saat Sabrina memeluk tubuhnya. Zee sedari tadi hanya berdiri dan diam bahkan enggan membalas tatapan sang pacar.
Sabrina yang menatap kepergian Zee merasa ada yang aneh dengan sikap Zee padanya, Aneh biasanya Zee seneng banget kalau aku manja merajuk ,lah ini aku dicuekin haish menyebalkan !!!
Sabrina menghentakkan kakinya dan melangkah menuju ke sebuah toilet. Sabrina ingin memastikan apakah riasannya tidak cantik hari ini sampai Zee tidak memujinya.
Begitu Sabrina masuk ke dalam toilet kampus tiba tiba,
GREBB~
Seseorang mendekap tubuh Sabrina dari belakang dan membekap mulutnya lalu masuk ke dalam salah satu toilet yang kosong.
Karena bertepatan dengan kelas yang dimulai maka suasana toilet juga sepi. Hanya ada Sabrina dan seseorang yang membekap di belakang tubuhnya.
"Kamu cantik sekali hari ini Sabrina, aku jadi menginginkan kamu, come on bebs~" ucap lirih seorang pria yang tidak asing lagi bagi Sabrina.
"Hari ini aku sedang tidak cantik , buktinya Zee tidak memujiku. Dia justru pergi ninggalin aku begitu saja ." Sabrina mendengus kesal.
"Kalau Zee ga peduli sama kamu,maka kamu bisa datang padaku. Just Tell me bebs.." pria itu membawa tubuh Sabrina duduk di dudukan toilet sambil satu tangan mengukir pelan garis wajah Sabrina .
"Zee adalah segalanya bagiku, mana mungkin aku ninggalin Zee." Sabrina memukul dada pria itu pelan sambil tersenyum saat satu tangan si pria bergerak mengusap merambah sesuatu dari belakang.
"Tapi Zee gak bakal bisa kasih kamu kepuasan, seperti yang selalu kamu dapatkan saat bersamaku .." tangan pria itu memang nakal karena saat ini sudah menguasai gundukan kenyal Sabrina dan menyusu kiri dan kanan bergantian.
"Awssh ahh.. kita langsung saja bebs, " Sabrina berdiri dan kemudian sengaja naik kembali ke pangkuan si pria setelah sebelumnya rok yang dipakai Sabrina sudah terangkat sampai perut dan tanpa melepaskan celana kain segitiga yang hanya disingkap ke samping .
Si pria pun dengan gesit segera membuka resleting celana tanpa harus melepasnya.
Mereka bermain permainan mesum dengan cara yang efisien tanpa harus melepaskan semua kain yang menempel ditubuh satu sama lain.